Optimalisasi CEPA, Indonesia-Korea Perkuat Kerja Sama Dagang dan Investasi

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan terus mendorong penguatan hubungan ekonomi bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri, mengajak pelaku usaha dari kedua negara untuk lebih memanfaatkan secara maksimal Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), yang dinilai masih memiliki potensi besar untuk dioptimalkan.
Hal itu disampaikan Wamendag Roro dalam Korea-Indonesia Economic Partnership Forum yang digelar di St. Regis Hotel, Jakarta. Dalam forum tersebut, Roro menekankan bahwa lebih dari 90% tarif barang antara kedua negara telah dihapuskan melalui skema CEPA, sehingga membuka peluang besar bagi perdagangan bebas dan kerja sama sektor strategis yang lebih luas dan mendalam.
Baca Juga: Kemendag Catat Transaksi Ekspor UMKM Capai Rp1,1 Triliun hingga Mei 2025
“Hubungan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Korea Selatan difasilitasi oleh tiga perjanjian internasional, yaitu CEPA, ASEAN-Korea Free Trade Agreement (AKFTA), dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Namun, pemanfaatan CEPA saat ini baru mencapai sekitar 10 persen, dan ini masih sangat bisa diperkuat,” ujar Roro dalam keterangan yang diterima, Rabu (25/6/2025).
Sejak diberlakukan pada 1 Januari 2023, CEPA diyakini dapat mendongkrak daya saing ekspor Indonesia dan menarik lebih banyak investasi dari Korea Selatan. Dibandingkan AKFTA yang pemanfaatannya telah melampaui 88% ekspor Indonesia ke Korea Selatan pada 2023 dan 2024, implementasi CEPA masih belum optimal.
Untuk itu, Wamendag Roro mengajak pelaku usaha agar proaktif menjalin komunikasi dengan perwakilan dagang Indonesia di luar negeri seperti Atase Perdagangan (Atdag) di Seoul dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di Busan. Keduanya dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk menggali informasi pasar dan menjajaki kerja sama dagang yang lebih konkret.
Kementerian Perdagangan sendiri telah memiliki jaringan 25 Atase Perdagangan dan Konsul Dagang serta 19 ITPC yang tersebar di berbagai negara mitra. Jaringan ini secara aktif mendukung pelaku usaha Indonesia dalam promosi dagang, penjenamaan produk, dan partisipasi dalam berbagai pameran internasional.
Baca Juga: Kemendag Promosikan Produk 15 UMKM RI di Osaka
Mereka juga berperan penting dalam memperjuangkan akses pasar, menyelesaikan kasus trade remedies, serta mendukung misi dagang lintas negara.
Pada kesempatan itu, Wamendag Roro juga menyampaikan apresiasi kepada Korean Chamber of Commerce and Industry di Indonesia atas komitmennya dalam membina hubungan ekonomi kedua negara. Ia menyebut, kolaborasi lintas sektor perlu diperkuat agar membawa dampak berkelanjutan terhadap perekonomian nasional.
Sementara itu, Kuasa Usaha Sementara Kedutaan Besar Korea untuk Indonesia, Park Soo-Deok, menyoroti pentingnya sinergi antara sektor publik dan swasta untuk menghadapi ketidakpastian global. Menurutnya, kerja sama ekonomi harus semakin inklusif dan menggali setiap peluang yang ada demi kesejahteraan bersama.
Dalam forum tersebut, juga digelar dua sesi diskusi panel. Diskusi pertama bertajuk "Responding to Global Uncertainty and Boosting Trade and Investment" menghadirkan pembicara dari International Economic Association (IEA), KOTRA, dan Korea Testing and Research Institute (KTR).
Sementara diskusi kedua membahas "Strengthening Korea-Indonesia Cooperation to Achieve Carbon Neutrality" dengan menghadirkan pembicara dari Kementerian Lingkungan Hidup RI dan Korea serta pelaku usaha sektor karbon.
Dari sisi perdagangan, kerja sama Indonesia-Korea menunjukkan tren positif. Total perdagangan kedua negara pada 2024 tercatat sebesar USD20,09 miliar, dengan surplus perdagangan untuk Indonesia mencapai USD1,41 miliar, yang berasal dari sektor migas dan nonmigas. Angka ini menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 9,8% dalam lima tahun terakhir.
Tak hanya di sektor perdagangan, Korea Selatan juga menjadi salah satu investor utama di Indonesia. Sepanjang 2024, realisasi investasi Korea Selatan mencapai USD2,99 miliar dari 11.210 proyek, yang menyerap hampir 184 ribu tenaga kerja.
Ini menjadikan Korea Selatan sebagai investor asing terbesar ketujuh di Indonesia, dengan peningkatan nilai investasi sebesar 14,9% dibanding tahun sebelumnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










