Analis Luar Negeri: Kematian Khamenei Akhir Era Kesabaran Strategis

AKURAT.CO Tewasnya Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel memicu spekulasi tentang masa depan politik Iran. Sejumlah analis menilai, alih-alih runtuh, sistem di Teheran justru berpotensi berubah menjadi lebih militeristik dan agresif.
Dalam laporan analisis berbasis wawancara dengan pakar militer dan pengamat politik, dilansir TV Press, Senin (2/3/2026), sejumlah narasumber menyebut asumsi Washington tentang cepatnya keruntuhan pemerintahan Iran terlalu sederhana.
Mantan Wakil Asisten Menteri Pertahanan AS, Michael Mulroy, mengatakan perubahan rezim tidak bisa dicapai hanya lewat serangan udara.
“Anda tidak bisa memfasilitasi perubahan rezim hanya melalui serangan udara. Jika masih ada yang selamat untuk berbicara, rezim itu masih ada,” kata Mulroy.
Baca Juga: Tiga Tokoh yang Kini Memimpin Sementara Iran Pasca Tewasnya Khamenei
Ia menekankan bahwa tanpa kehadiran pasukan darat atau pemberontakan bersenjata dari dalam negeri, aparat keamanan Iran masih memiliki kapasitas menjaga kohesi kekuasaan.
Struktur Ganda Militer Iran
Para analis juga menyoroti kekuatan struktur militer Iran yang terdiri dari tentara reguler (Artesh) dan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Korps ini memiliki mandat konstitusional untuk melindungi sistem velayat-e faqih atau prinsip kepemimpinan ulama.
Selain itu, terdapat milisi sukarelawan Basij yang tersebar di berbagai wilayah dan berfungsi menjaga stabilitas internal serta memobilisasi loyalis pemerintah.
Hossein Royvaran, analis politik berbasis di Teheran, mengatakan serangan tersebut memang menghabisi sejumlah tokoh penting keamanan, termasuk Ali Shamkhani. Namun menurutnya, sistem Iran dirancang bersifat institusional.
“Sistem ini dirancang untuk bersifat institusional, bukan personal,” ujar Royvaran. Ia menambahkan mekanisme pemerintahan dapat tetap berjalan secara otomatis meski kepemimpinan tertinggi terputus.
Upaya Tampilkan Stabilitas
Peneliti senior di Pusat Studi Strategis Timur Tengah, Abas Aslani, juga mengatakan para pejabat Iran kini berupaya menampilkan citra stabilitas.
“Para pejabat di sini berusaha menampilkan citra stabilitas, menekankan bahwa situasinya terkendali dan lembaga-lembaga negara berfungsi secara efektif,” katanya.
Namun ia mengingatkan kemungkinan eskalasi tetap terbuka. “Ada kemungkinan serangan semacam itu akan berlanjut – dan mungkin meningkat – dalam beberapa jam atau hari mendatang,” ujarnya.
Dari Legitimasi Agama ke Nasionalisme
Sosiolog politik Saleh al-Mutairi menilai pemerintah Iran kini membingkai konflik bukan sekadar sebagai pembelaan terhadap ulama, tetapi sebagai pertahanan integritas teritorial.
Menurutnya, deklarasi 40 hari masa berkabung nasional berpotensi menjadi “jebakan pemakaman” bagi oposisi. Kehadiran massa pelayat dalam jumlah besar dapat menyulitkan mobilisasi protes anti-pemerintah dalam waktu dekat.
Baca Juga: Presiden Iran: Pembunuhan Ali Khamenei Adalah Deklarasi Perang Terbuka Melawan Umat Muslim Dunia
Akhir Era “Kesabaran Strategis”?
Sementara Profesor Universitas Teheran, Hassan Ahmadian, menyebut doktrin kesabaran strategis yang selama ini dipegang Khamenei kemungkinan berakhir.
“Iran telah belajar pelajaran pahit dari perang Juni 2025: Sikap menahan diri diartikan sebagai kelemahan,” kata Ahmadian. Ia memperkirakan kebijakan ke depan bisa lebih keras. “Keputusan telah dibuat. Jika diserang, Iran akan membakar semuanya,” lanjutnya.
Sementara itu, peneliti senior di Pusat Studi Al Jazeera, Liqaa Maki, menilai pembunuhan Khamenei merupakan kegagalan intelijen besar bagi Iran.
“Orang beriman tidak akan digigit dari lubang yang sama dua kali, namun Iran telah digigit dua kali,” kata Maki, merujuk pada pola serangan terhadap Iran. Ia memperingatkan negara itu bisa berubah menjadi sangat tertutup dan sangat berorientasi pada keamanan.
Meski kepemimpinan tertinggi telah tumbang, para analis sepakat bahwa struktur kekuasaan Iran masih berdiri. Dengan salah satu gudang rudal terbesar di Timur Tengah, arah kebijakan Teheran pasca-Khamenei kini menjadi perhatian utama kawasan dan dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 7Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 8Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah






