Bos Kadin Dorong Kerja Sama Ekonomi Global Usai Pertemuan Kenegaraan di Qatar
Hefriday | 18 Mei 2025, 20:37 WIB

AKURAT.CO Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menegaskan pentingnya menjaga stabilitas kawasan dan memperkuat kerja sama ekonomi global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia.
Hal ini disampaikan Anindya setelah menghadiri jamuan makan malam kenegaraan di Istana Lusail, Doha, Qatar, yang dihadiri oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim ibn Hamad Al Thani pada Rabu malam (14/05/2025).
Dalam wawancara eksklusif dengan Bloomberg TV, Anindya yang akrab disapa Anin mengatakan bahwa pertemuan tersebut membawa semangat positif di tengah dinamika global yang penuh tantangan.
Menurutnya, banyak pembicaraan produktif terkait perdagangan dan investasi antarnegara yang berpotensi menciptakan peluang kerja sama konkret dalam waktu dekat.
"Jamuan tersebut sangat positif. Bukan hanya soal protokol kenegaraan, tapi juga bagaimana semua pihak pulang dengan semangat kolaborasi. Ada banyak diskusi penting terkait perdagangan lintas kawasan," ujar Anin dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (18/5/2025).
Baca Juga: Klarifikasi Soal Oknum di Cilegon yang Viral, Bos Kadin: Tim Verifikasi dan Etis Sudah Bergerak
Anin menyoroti pentingnya stabilitas kawasan Timur Tengah bagi keseimbangan ekonomi global. Ia menyebut bahwa ketegangan di wilayah tersebut bisa berdampak luas, termasuk bagi Indonesia yang bersiap menjadi tuan rumah pertemuan ASEAN dalam waktu dekat. Stabilitas kawasan menjadi syarat mutlak bagi investasi dan perdagangan yang sehat.
Dalam kesempatan itu, Anin juga mengungkap pengalamannya saat melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat dua pekan sebelumnya. Ia menyampaikan bahwa pelaku usaha di Negeri Paman Sam juga menyuarakan kekhawatiran yang sama mengenai kebijakan tarif yang dapat memicu inflasi global.
"Pelaku usaha AS sangat ingin segera tercapai kesepakatan dagang. Mereka sadar, jika tarif naik, harga barang akan ikut naik dan itu berdampak pada inflasi. Ini menjadi perhatian serius di tengah upaya pemulihan ekonomi dunia," paparnya.
Saat ini, nilai perdagangan Indonesia dengan AS tercatat sekitar USD40 miliar per tahun, menjadikan AS mitra dagang terbesar kedua Indonesia setelah China.
Anin optimistis angka ini dapat meningkat dua kali lipat dalam dua hingga tiga tahun mendatang, seiring dengan penguatan kerja sama strategis antara kedua negara.
"Impor dari AS seperti kedelai, gandum, kapas, dan produk peternakan sangat penting bagi stabilitas pangan kita. Di sisi lain, kita punya potensi besar untuk mengekspor produk jadi seperti elektronik, furnitur, alas kaki, dan tekstil. Mineral kritis juga mulai masuk pembahasan kerja sama," jelasnya.
Anin juga menyinggung peluncuran lembaga pengelola kekayaan negara (Sovereign Wealth Fund) bernama Danantara yang memiliki potensi aset hingga USD900 miliar. Dana tersebut menurutnya bisa menjadi jembatan investasi antara Indonesia dan negara-negara besar seperti AS dan negara-negara Timur Tengah.
Lebih lanjut, Anin menekankan bahwa Indonesia memiliki peran strategis dalam menjembatani kepentingan ekonomi antara Barat dan Timur. Ia membandingkan posisi Indonesia dengan Qatar, yang memiliki peran serupa di kawasan Timur Tengah.
“Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN dan satu-satunya anggota G20 dari kawasan ini punya tanggung jawab menjadi penyeimbang dunia,” ujarnya.
Menjelang kunjungan kenegaraan Perdana Menteri China, Li Qiang dan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia pada akhir Mei 2025, Anin menekankan pentingnya Indonesia menjaga keseimbangan hubungan bilateral di tengah rivalitas global antara dua blok besar dunia.
"Mengelola hubungan baik dengan AS dan China secara seimbang adalah kunci. Tantangannya besar, tapi peluangnya juga luar biasa jika dikelola dengan cermat," ucapnya.
Anindya juga memperingatkan bahwa meski inflasi di Indonesia tergolong rendah saat ini, ancaman inflasi global tetap perlu diwaspadai karena dapat berdampak secara tidak langsung pada ekonomi nasional.
Melalui unggahan di akun Instagram resminya, Anin menegaskan kembali posisi Indonesia sebagai negara nonblok yang menjalin kerja sama dengan berbagai pihak.
Ia menyitir pesan para pendiri bangsa tentang pentingnya Indonesia ‘mendayung di antara dua karang’, sebagai penyeimbang antara kekuatan Barat dan Timur, baik dalam aspek ekonomi maupun stabilitas geopolitik dunia.
Sebagai informasi tambahan, Menteri Luar Negeri RI Sugiono pada Kamis (15/05/2025) menyampaikan bahwa kunjungan PM China Li Qiang ke Jakarta dijadwalkan berlangsung sebelum kedatangan Presiden Macron pada 27–29 Mei 2025.
Pertemuan ini dipandang sebagai momen penting dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai poros diplomasi dan ekonomi global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









