Akurat

Como 1907, Bisnis Sepak Bola Ala Grup Jarum

M. Rahman | 10 Maret 2025, 17:43 WIB
Como 1907, Bisnis Sepak Bola Ala Grup Jarum

AKURAT.CO Grup Jarum lewat Hartono bersaudara, sudah lama dikenal sebagai investor di bidang olah raga. Rekam jejaknya tak usah diragukan, tengok saja kesuksesan PB Djarum di Kudus yang pada akhirnya sukses menjadi talent pool bagi atlet bulu tangkis nasional.

Makanya, tak heran jika orang terkaya di Indonesia ini mengakuisisi Como pada April 2019 lalu. Grup Jarum mampu menebus mahar senilai EUR850.000 setara Rp15 miliar, plus melunasi utang Como saat itu sekitar EUR150.000.

Perlahan tapi pasti, Como merangkat dari Seri D ke Seri A, kasta tertinggi di industri sepak bola Italia. Bahkan hingga giornata ke-28 atau menyisakan 10 pertandingan lagi hingga musim berakhir, Como bertengger di peringkat 13 dari 20 klub yang berkompetisi.

Akuisisi klub sepak bola Italia oleh konglomerat Tanah Air memang bukan hal baru. Ada Alvin W. Sariaatmadja, Direktur Utama PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), yang membeli 10% saham klub Italia US Lecce pada 2022 silam. Sebelumnya lagi, Erick Thohir memborong 70% saham Inter Milan senilai EUR250 juta pada 2013 lalu.

Pertanyaannya, bagaimana model bisnis Como 1907 di bawah naungan Grup Jarum saat ini?

Baca Juga: AC Milan Kembali Profit Setelah 16 Tahun

Presiden Como 1907, Mirwan Suwarso mengatakan tujuan perusahaan sebagai klub sepak bola adalah menjadi destinasi sepak bola premium di dunia. Artinya, sepak bola yang dibangun harus menyenangkan dan menghibur. Perusahaan merancang semuanya dari hal-hal tersebut.

"Tujuan kami membangun tim yang menarik. Agar saat orang datang, mereka terhibur. Jika kami melakukan semuanya dengan benar, 60 persen dari penonton kami akan datang dari wisatawan. Mereka tiba-tiba menemukan ah, ada klub sepak bola di kota ini. Jika mereka datang mengunjungi kami untuk pertama kalinya, dan mereka melihat sepak bola low block (parkir bus) dan membosankan, mereka tidak akan pernah mengingat kami," papar Mirwan dikutip dari Kanal Youtube Calcio e Finanza, Senin (10/3/20250.

Ditambahkan, perusahaan juga meyakini jika mereka melakukan semuanya dengan benar, secara otomatis pengunjung danau Como lambat laun akan menyatu menjadi penikmat sepak bola Como 1907. 

Saat ini jumlah wisatawan Como mencapau sekitar 4,8 juta pengunjung tiap tahunnya. Saat pertama kali Mirwan datang ke Como pada 2019 atau sekitar 5 tahun lalu, wisatawan hanya berjumlah 1,6 juta pengunjung. "Pasti ada cara menghasilkan uang dari sana (wisata) kan?," tukas Mirwan.

Saat ini, Mirwan dan tim berusaha menjadikan Como 1907 sebagai bisnis yang proper. Sepak bola dijadikan sebagai katalis atau pintu masuk. Pada akhirnya, perusahaan harus menciptakan ekosistem yang mampu menjalankan bisnis sepak bola itu sendiri secara otomatis dan berkelanjutan.

"Akan sulit bergantung pada sepak bola semata agar bisa berkelanjutan. Kami harus bersyukur bahwa lokasi kami sendiri, danau Como adalah sebuah merek global. Jadi sangat konyol jika kami tak memanfaatkannya dengan baik. Kami menempatkan sepak bola bukan sebagai pusat, tapi bagian dari ekosistem," papar Mirwan.

Model Bisnis

Mirwan menjelaskan bahwa perusahaan berusaha memakai kaca mata Disney dalam mengembangkan bisnisnya. Disney memiliki Dsiney Land Disney World sebagai divisi theme park. Sementara Como 1907 beserta pengalaman pertandingannya sama halnya seperti divisi theme parknya Disney yang mengelola tiket dan sebagainya.

Kemudian Disney juga memiliki divisi consumer product, yang mengelola merchandise dan lisensi. Como 1907 pun memiliki divisi merchandise terpisah bernama divisi handling only retail yang menangani jersey, sepatu dan sebagainya.

Lalu ada juga perusahaan atau divisi terpisah yang menangani bisnis media. Lalu ada juga divisi wisata kota. Uniknya, divisi ini tak seperti Disney travel & tourism, menghubungkan wisata pengalaman sepak bola dengan danau como. 

Ada juga divisi akademi dan sekolah bersama Como 1907 Summer Camps, menyasar keluarga dari AS yang ingin bermain sepak bola di musim panas sembari berlibur. Akademi Como 1907 sendiri merupakan kelas 1 tahun penuh bagi mereka yang ingin menjadi pemain sepak bola profesional maupun mahasiswa yang memperoleh beasiswa kampus.

Ada juga divisi digital yang mengembangkan sistem tiket berbasis blockchain untuk klub serta menangani data yang sangat penting bagi semua operasional klub serta divisi FMCG yang menangani bir La Comasca. 

"Kami menciptakan ekosistem yang saling berkerja bersama," tukas Mirwan.

Neraca Keuangan

Menurut Mirwan, neraca keuangan Como 1907 berada pada jalur yang tepat karena kami memisahkan menjadi 9 entitas anak yang mungkin saja akan dikonsolidasikan beberapa waktu mendatang. 

"Proyeksi kami, kami akan mencapai laba pada 2-3 tahun mendatang (2027-2028). Tapi syaratnya, merek lain yang kami kelola harus berhasil. Jika hari ini Anda pergi ke pusat kota, sudah banyak merchandise kami hadir di sana. 3 tahun lalu kami bahkan belum punya outlet, sekarang kami punya 4 outlet di kota dan, 485 outlet distributor," ujar Mirwan.

Perusahaan, lanjut Mirwan, juga ingin mengekspor ke luar negeri. Mengembangkan pangsa pasar dari 4,8 juta wisatawan tahunan pada musim panas menjadi 48 juta atau 400 juta wisatawan global.

Ditambahkan Mirwan, cara berbisnis keluarga Hartono lebih pada menekankan pengalaman. Grup Jarum sendiri merupakan pemain yang berpengalaman dalam membangun merek. Tidak hanya 1 merek saja yang dibangun, namun banyak merek dan perusahaan telah dibangun.

"Como 1907 adalah merek atau perusahaan Grup Jarum lainnya yang sedang dibangun. Sejujurnya kami mencoba bergerak jauh lebih cepat, karena membangunnya dari nol dan kami mencoba mengubahnya menjadi perusahaan menguntungkan dalam 2 atau 3 tahun ke depan semoga. Artinya sekitar 8 tahun menuju profit. Sangat cepat dan menakjubkan jika terlaksana," papar Mirwan.

Mirwan mengaku optimistis lantaran saat ini di Indonesia, Grup Jarum mungkin hanya melayani pasar domestik. Beda halnya dengan Como 1907 yang berpeluang besar melayani pasar global. 

"Ada cerita menarik. Bahkan ketika kami masih di Seri B, kami bisa menjual tiket ke 122 negara. Di ecommerce kami, 20% penjualan kami di tahun lalu adalah penjualan ke pasar global. Tahun ini, 12% sendiri lari ke AS. Jadi kami tumbuh kian cepat, bukan karena kami meningkatkan anggaran pemasaran dan promosi, tapi ini terjadi secara organik. Artinya merek Como 1907 dan danau Como kian dekat," ucapnya.

Hal lain yang juga menarik adalah ada hubungan komersial setelah mendatangkan berbagai figur ternama termasuk Cesc Fabregas sebagai pelatih, Raphael Varane sebagai jajaran manajemen serta Pepe Reina sebagai kiper.

"Ini bukan hal yang sengaja kami ciptakan, penonton datang sendiri. Mereka tertarik bagaimana Cesc Fabregas membangun tim ini. Kemudian ada juga Nico Paz, sudah jelas kami ingin menarik dan mengembangkan talenta muda yang bisa membantu kami menciptakan permainan menarik. Kami tidak ada rencana menjualnya dalam waktu dekat. Ya mungkin 3-5 tahun ke depan. Karena pada akhirnya, bodoh jika kami tak menghiraukan tawaran klub lain karena pendapatan dari transfer pemain adalah bagian dari bisnis. Dan juga karena kami tidak sedang kekeringan arus kas, keuangan kami sedang sangat baik-baik saja," papar Mirwan. 

Supervisi Induk

Diakui Mirwan, ia kerap berkomunikasi dengan induk perusahaan, bahkan hampir setiap pekan berkomunikasi untuk mengetahui perkembangan setiap pertandingannya. Meskipun, mereka sendiri bukan penggemar sepak bola namun ingin belajar mengenalnya.

"Kami harus menciptkana sistem yang mereka pahami. Maka itu data sangat penting bagi kami. Setipa keputusan diambil berdasarkan data. Data transfer pemain, strategi tim dan lainnya. Setiap keputusan dinanti oleh RoI. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa