Kadin Beberkan 3 Pilar Investasi Energi Hijau
Hefriday | 3 Maret 2025, 16:24 WIB

AKURAT.CO Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyoroti tiga pilar utama untuk memperkuat ekosistem energi hijau di Indonesia.
Pilar-pilar tersebut mencakup peningkatan permintaan, kolaborasi teknologi dan rantai pasok, serta upaya mengundang lebih banyak pengembang. Semua langkah ini disiapkan menjelang perhelatan puncak, yaitu Green Energy Investment Day yang akan digelar pada Juni 2025.
Pilar pertama adalah peningkatan permintaan energi hijau. Kadin menekankan bahwa agar investasi di sektor ini efektif, harus ada permintaan nyata dari pengguna akhir seperti pusat data dan pabrik yang menghasilkan produk ramah lingkungan.
Tanpa permintaan yang kuat, pembangunan pembangkit energi baru tidak akan optimal.
Ketua Harian Kelompok Kerja Transisi Energi Kadin, Anthony Utomo, menyatakan bahwa penerapan energi hijau harus sejalan dengan kebutuhan industri.
"Energi hijau harus digunakan, bukan sekadar dibangun. Harus ada sektor yang menyerap pasokan energi tersebut," ujar Anthony, Senin (3/3/2025).
Untuk mencapai target tersebut, Kadin merencanakan rangkaian roadshow yang bertujuan menyosialisasikan peluang dan potensi investasi di bidang energi hijau.
Roadshow ini akan menjadi ajang diskusi dan kemitraan strategis, yang puncaknya adalah Green Energy Investment Day sebagai momen penting dalam membangun kemitraan antar pelaku usaha.
Pilar kedua yang diusung adalah kolaborasi teknologi dan integrasi rantai pasok. Kadin menyadari bahwa sinergi antara pengembang teknologi dan penyedia rantai pasok sangat krusial untuk menciptakan ekosistem investasi yang kuat.
Kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong transfer teknologi serta memaksimalkan efisiensi produksi energi terbarukan.
Selain itu, Kadin juga berfokus untuk mengundang lebih banyak pengembang ke Indonesia. Pendekatan ini bertujuan agar para pengembang mendapatkan akses kepada harga yang kompetitif dan sumber pembiayaan yang lebih terjangkau, sehingga investasi di sektor energi hijau dapat berkembang secara pesat.
Dalam upaya diversifikasi, Kadin membuka peluang kemitraan dengan negara-negara yang memiliki keunggulan di sektor energi terbarukan.
Contohnya, Denmark dan Jerman dikenal kuat dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu, sedangkan China mendominasi di bidang pembangkit listrik tenaga surya.
Diversifikasi mitra teknologi ini penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu negara. Dengan bekerja sama dengan berbagai negara, proses transfer teknologi dapat berjalan lebih optimal dan selaras dengan kepentingan strategis nasional di kancah global.
Tak hanya itu, Kadin juga tengah menegosiasikan proposal pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) on-grid yang direncanakan beroperasi pada tahun 2032.
Tiga negara, yakni Amerika Serikat, China, dan Rusia, telah mengajukan proposal, dengan perusahaan Rosatom dari Rusia menunjukkan minat serius untuk ikut berkolaborasi.
Sebagai bagian dari agenda strategis transisi energi, Kadin juga telah menyiapkan kerja sama dengan Universitas Pertahanan (Unhan) melalui penandatanganan nota kesepahaman.
Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan ketahanan energi nasional, sehingga mendukung terciptanya ekosistem energi hijau yang berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










