AKURAT.CO Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pemanfaatan bio farmakologi laut dalam industri kesehatan, kosmetik, dan pangan fungsional berbasis sumber daya kelautan dan perikanan.
Langkah ini bertujuan meningkatkan ketahanan kefarmasian nasional sekaligus memberdayakan masyarakat pesisir dalam rantai pasok bahan baku obat bahan alam (OBA).
Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut (PKRL) KKP, Victor Gustaaf Manoppo, sumber daya hayati perairan Indonesia sangat besar untuk mengembangkan bio farmakologi, seperti spirulina, minyak ikan, albumin, squalene, dan ekstrak teripang.
"Tentunya pemanfaatan ini harus dilakukan secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem,” Victor, dikutip Minggu (16/2/2025).
Sebagai upaya percepatan, KKP yang merupakan anggota Satuan Tugas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Fitofarmaka melaksanakan berbagai kegiatan untuk peningkatan kapasitas bio farmakologi.
Baca Juga: KKP: Sertifikasi Awak Kapal Perikanan Demi Keamanan dan Keselamatan Mereka
Adapun salah satunya adalah Pengembangan Mikroalga Spirulina untuk Menunjang Ketahanan Obat Bahan Alam dan Kosmetik di Klaten, Jawa Tengah yang melibatkan akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat lokal.
Direktur Jasa Kelautan KKP Miftahul Huda menjelaskan pengembangan spirulina dan fikosianin punya nilai strategis untuk industri farmasi dan kosmetik bahkan UMKM dapat mengambil peran aktif dalam rantai pasok ini.
Spirulina, kata Huda, menjadi salah satu komoditas unggulan bio farmakologi karena kandungan fikosianinnya yang tinggi. Fungsinya sebagai pewarna alami, antioksidan dan antiinflamasi.
Program kemitraan UMKM bio farmakologi dengan industri besar KKP juga menggandeng Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Melalui skema 'Orang Tua Angkat OBA dan Kosmetik' UMKM yang memenuhi standar akan menjadi anak angkat industri dan mendapat pendampingan dan akses pasar yang lebih luas.
Di sisi lain, budidaya spirulina juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan komoditas lain seperti kelapa sawit dalam produksi biofuel.
Dengan produktivitas tinggi dan minim dampak ekologis, spirulina menjadi alternatif yang menjanjikan bagi industri hijau.
Untuk meningkatkan nilai tambah, produk turunannya seperti Pycomilk (susu fortifikasi fikosianin) dan AstroMie (mi instan berbasis fikosianin) juga tengah dikembangkan sebagai pangan fungsional yang bernutrisi tinggi.
Produk ini diharapkan menjadi solusi peningkatan gizi masyarakat, terutama di daerah rawan pangan.
KKP terus memperkuat ekosistem biofarmakologi nasional melalui regulasi, pendampingan usaha, serta kolaborasi dengan sektor akademik dan industri.
Upaya ini sejalan dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono untuk mendukung kemandirian farmasi berbasis potensi sumber daya kelautan Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan








