RI di Ambang Krisis Pangan?
Hefriday | 8 Oktober 2024, 21:37 WIB

AKURAT.CO Kondisi pangan dunia diperkirakan akan semakin tidak pasti, dengan ancaman krisis yang khususnya mengintai Indonesia. Penurunan pasokan beras global dan meningkatnya harga pangan disebabkan oleh gangguan produksi dan ketegangan politik di berbagai wilayah.
Sementara itu, kebijakan proteksionisme negara produsen memperburuk situasi, menuntut Indonesia untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional agar tidak terjebak dalam ketergantungan impor yang lebih besar di masa depan. Untuk itu, ada potensi krisis pangan yang mungkin dihadapi Indonesia. Hal tersebut dikemukakan oleh lembaga riset Bright Institute.
Menurut Ekonom Senior Bright Institute, Awalil Rizky, gangguan suplai beras global, akibat tren proteksionisme, membuat harga pangan melambung. Sayangnya, Indonesia yang jumlah penduduknya terus bertambah, menghadapi kerawanan pangan akibat produksi dalam negeri yang terus menurun.
Baca Juga: Soroti Mahalnya Beras dan Bapok Lain, DPP JAMAN: Pemerintah Salah Urus, Krisis Pangan Jadi Nyata
Kebijakan proteksionisme di berbagai negara yang lebih mengutamakan ketahanan pangan domestik memperparah situasi Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangan. "Produksi tanaman pangan semakin menurun, sementara konsumsi terus meningkat. Kerawanan pangan menjadi tantangan yang sangat serius," ujar Awalil di Jakarta, Selasa (8/10/2024).
Sektor pertanian, khususnya tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai, menunjukkan tren penurunan signifikan sejak awal pemerintahan Jokowi. Padahal, selama periode pertama pemerintahannya, skor Global Food Security Index (GFSI) Indonesia sempat meningkat, namun kini menurun drastis hingga 60,2 pada 2022, jauh dari target 95,20 pada RPJMN 2020-2024.
Senada, Direktur Riset Bright Institute, Muhammad Andri Perdana juga menyoroti kebijakan pemerintah yang lebih memprioritaskan ekspor perkebunan kelapa sawit ketimbang memperbaiki sektor pangan. Situasi ini membuat Indonesia semakin rentan terhadap krisis pangan dunia, terutama di tengah meningkatnya ketegangan politik regional yang berpotensi mengganggu suplai pangan global lebih lanjut.
"Solusi jangka panjang yang diperlukan adalah fokus pada peningkatan produksi pangan dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada impor, serta penanganan serius terhadap sektor pertanian tanaman pangan yang kini tertinggal," imbuhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










