Synthesis Development Genjot Recurring Income

AKURAT.CO PT Synthesis Karya Pratama (Synthesis Development) terus menggenjot porsi recurring income (pendapatan berulang/ berkelanjutan) perusahaan.
CEO Synthesis Development, Budi Yanto Lusli mengatakan pihaknya masih terus menggodok strategi agar recurring income perusahaan menggemuk. Yang menjadi tantangan, perusahaan baru saja menyelesaikan transformasi bisnis dari yang semula berfokus ke high rise (perkantoran, apartemen, hotel, ritel/ pusat perbelanjaan) ke landed (rumah tapak).
"Sudah hampir 25 tahun sejak saya berkarya (termasuk dengan nama Synthesis Development), biasanya expertisenya di high rise sekarang konsentrasinya ke landed. Tapi kami terus kembangkan konsep recurring income seperti mall, hotel, kita ada collab juga di Bandung tapi memang kita sendiri sedang mencari yang pas," ujarnya saat menjawab pertanyaan Akurat.co di Jakarta, Rabu (17/7/2024).
Baca Juga: Mengintip Show Unit Cluster Baltic, Wajah Baru Synthesis Huis
Diakuinya, untuk mengembangkan proyek berbasis recurring memang sangat berat karena tingkat pengembaliannya saat ini masih belum bagus kecuali hotel di Bali yang lumayan bagus. Namun mayoritas baik proyek perkantoran, hotel maupun mall belum berdampak signifikan.
"Makanya bersama ibu Fianty (recurring asset officer Synthesis Development) kita putar otak agar proyek berbasis recurring ke depan tetap dalam batasan yang wajar tingkat pengembaliannya," imbuhnya.
Seperti diketahui, recurring income menggambarkan tingkat keberlangsungan usaha sebuah pengembang. Recurring income atau pendapatan yang didapat tanpa melakukan penjualan, dan sifatnya berulang ini memungkinkan pengembang setiap tahunnya mendapatkan pendapatan yang kurang lebih sama. Semakin besar persentase recurring income terhadap total pendapatan akan semakin bagus buat perusahaan properti.
Dalam laman resminya, Synthesis Development tercatat menggarap setidaknya 21 proyek termasuk Bali Nusa Dua Hotel & Convention Center, Urbana Place, Casablanca Mansion, De Oaze, The Lavande, Festival City Link, Balai Sarbini, Ruko Green Synthesis Pontianak, Teras Srikandi Synthesis Residence Kemang, Mall Basura, Synthesis Square Tower 2, Plaza Semanggi, Kalibata City Square, Kalibata City, Synthesis Homes Komersial, Bassura City, The Belton, Samara Suites, Aksara Homes Ciputat, Synthesis Huis dan Synthesis Homes.
Beberapa di antara proyek tersebut, terutama segmen ritel juga menghadapi tantangan dalam meng-generate recurring income di tengah pasar yang lesu. Butuh ketelitian ekstra untuk membaca market atau area mana yang masih bagus perkembangannya dan mana yang sudah penuh (saturated).
Untuk mengimbangi porsi recurring income yang belum menggemuk, perusahaan juga terus menyiapkan sejumlah strategi. Pertama, mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekira Rp600-700 miliar per tahun agar arus kas terus bergerak. Tahun 2024 misalnya, sekitar Rp600 miliar sudah dialokasikan untuk pembebasan lahan di wilayah Parung Panjang.
"Tapi memang ternyata perizinannya di Kabupaten Bogor tidak secepat di Jakarta. Kami harap di awal 2025 mendatang sudah bisa dibangun," harapnya.
Lalu perusahaan juga akan melanjutkan rencana melantai di bursa atau IPO yang sempat tertunda akibat Covid-19. Perusahaan terus memantau kondisi pasar, jika dalam 3-5 tahun ke depan turn over perusahaan cukup besar maka rencana IPO akan dieksekusi.
Kemudian, perusahaan juga akan membidik segmen menengah ke bawah. "Saat ini kebanyakan land bank kita untuk high rise dan untuk mengganti land bank kan enggak semudah itu ya tapi puji tuhan kita bisa sampai di titik ini (membangun 3 proyek perumahan terbaru). Berikutnya perumahan keempat kami akan menyasar proyek menengah ke bawah, dengan harga Rp400 jutaan," tukas Budi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










