Desa Nglanggeran Jadi Desa Terbaik Dunia versi UNWTO Karena Ini

AKURAT.CO Desa Nglanggeran, yang terletak di Bonai, telah mencapai prestasi gemilang dengan meraih penghargaan dari United Nations World Trade Organization sebagai desa terbaik sedunia. Program homestay menjadi kunci keberhasilan desa ini.
Menurut Direktur Keuangan SMF, Bonai mengumumkan kolaborasi dengan BUMDes dalam penyaluran dana untuk program homestay.
Lebih dari 24 kepala keluarga atau unit rumah akan menerima biaya sekitar Rp 1,5 miliar untuk mengembangkan homestay di daerah tersebut.
"Program ini merupakan kolaborasi dengan BUMDes dalam penyalurannya, sama Pak Ahmad Nasroni. Ada kurang lebih 24 kepala keluarga atau unit rumah yang kita biayai untuk homestay ini dengan nominal kurang lebih hampir 1,5 miliar," katanya di dalam kegiatan Press Tour, di Gunung Kidul, Yogyakarta, Kamis (2/4/2024).
Baca Juga: Selain Ekspor Kakao, Sektor Pariwisata Juga Jadi Andalan Desa Nglanggeran
Sementara itu, Direktur SMF, Ananta menjelaskan, sejak 2019, program pembiayaan homestay telah dicanangkan untuk menggalakkan industri perumahan dalam sektor pariwisata lokal. Dengan memberikan akses dana lebih mudah kepada pemilik homestay, program ini telah berhasil meningkatkan pendapatan ekonomi di daerah tersebut.
"Salah satu fungsinya juga kami ikut dalam program pembiayaan homestay sejak tahun 2019, di mana tujuannya adalah mendorong ekonomi daerah pada sektor perumahan di industri wisata," ucapnya.
Hingga akhir 2023, SMF telah menyalurkan pembiayaan homestay bagi 21 desa wisata di seluruh Indonesia, dengan Desa Nglanggeran menjadi salah satu inisiasi program pertamanya. Desa ini telah berhasil masuk ke dalam top 100 destinasi berkelanjutan dunia pada tahun 2018 dan meraih penghargaan sebagai desa wisata terbaik dari PBB pada tahun 2021.
Selanjutnya, seorang pemilik homestay Agus, yang telah menjalankan usahanya sejak tahun 2019, berbagi harapannya untuk masa depan usahanya. Serta, Agus menyampaikan bahwa ia telah mengangsur rumah tempat homestay tersebut selama lima tahun, dengan dua tahun terakhir menjadi masa yang paling menantang.
"Saya berharap setelah pandemi, homestay saya bisa ramai peminat agar bisa lunas angsuran dan bisa renovasi," ujar Agus.
Homestay yang dimiliki Agus tidak hanya menyediakan akomodasi, tetapi juga berperan aktif dalam membantu masyarakat sekitar. Dengan tarif nginap sebesar Rp175.000 per hari per orang, fasilitas tersebut telah menyediakan makanan gratis dua kali sehari bagi para pengunjungnya.
"Kami ingin memberikan pengalaman menginap yang berbeda, sambil juga membantu masyarakat sekitar," tambah Agus.
Diharapkan dengan semakin banyaknya peminat setelah pandemi, para pemilik homestay dapat melakukan renovasi agar homestaynya semakin nyaman dan menarik bagi para pengunjung.
Program homestay bukan hanya memberikan kemudahan bagi pelaku homestay untuk memperbaiki tempat tinggalnya, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan sektor wisata secara keseluruhan. Program ini diharapkan akan terus memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal serta memperkuat posisi Indonesia dalam industri pariwisata global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










