Menkeu Ingatkan Hilirisasi Mineral Tak Cukup Topang RI Raih Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

AKURAT.CO Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan keraguan terhadap kemampuan Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6-7% yang dijanjikan oleh calon presiden, Prabowo Subianto.
Menurutnya, hanya mengandalkan hilirisasi mineral-mineral krusial tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan investasi Indonesia dan mendorong ekspansi ekonomi.
"Investasi akan datang ketika industri sudah relatif berkembang baik, ketika kebijakan sudah relatif dapat diprediksi, dan birokrasi tidak menjadi hambatan," ujar Sri Mulyani saat diwawancarai oleh The Australian Financial Review, dikutip Sabtu (24/2/3023).
Baca Juga: Menkeu Akui Tensi Geopolitik Bikin Harga Komoditas Anjlok
Selain itu, ia menekankan pentingnya menarik modal melalui investasi strategis dalam berbagai industri dan meningkatkan iklim bisnis.
Selanjutnya, calon presiden RI Prabowo Subianto, telah berjanji untuk menegakkan kebijakan hilirisasi yang diinisiasi oleh Presiden Joko Widodo. Namun, Sri Mulyani memperingatkan tentang dampak negatif potensial dari kebijakan tersebut, mengutip efek buruknya terhadap harga global dan para penambang Australia.
Di sisi lain, Sri Mulyani juga menyatakan keprihatinannya tentang peningkatan belanja pemerintah dalam bidang pendidikan dan kesehatan, dengan memperingatkan bahwa peningkatan dana untuk sektor-sektor tersebut tidak selalu berarti akan menghasilkan hasil yang lebih baik.
"Terutama mengingat sifat terdesentralisasi dari tanggung jawab ini kepada pemerintah daerah," ungkapnya.
Meskipun mengakui pentingnya berinvestasi dalam modal manusia, Sri Mulyani menekankan perlunya pembangunan kapasitas di tingkat lokal untuk memastikan penggunaan dana yang efisien. Menkeu memperingatkan agar tidak mengabaikan kualitas pengeluaran demi hanya meningkatkan ukuran anggaran.
Indonesia mengalami defisit besar selama pandemi, sementara meninggalkan batas defisit untuk mengatasi darurat kesehatan. Namun, Sri Mulyani menyoroti pentingnya menjaga disiplin fiskal, terutama mengingat sejarah Indonesia yang pernah mengalami defisit besar selama Krisis Keuangan Asia.
Saat transisi politik berlangsung, wawasan Sri Mulyani menjadi pengingat tentang tantangan dan peluang yang menanti perkembangan ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan baru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 7KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 8Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon








