Akurat Logo

Menkeu Akui Tensi Geopolitik Bikin Harga Komoditas Anjlok

Silvia Nur Fajri | 22 Februari 2024, 18:40 WIB
Menkeu Akui Tensi Geopolitik Bikin Harga Komoditas Anjlok

AKURAT.CO Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa harga komoditas internasional mengalami pelemahan pada awal tahun 2024.

Menurut Sri Mulyani, situasi ini diperkirakan akan berlanjut seiring dengan permintaan global yang melemah dan tensi geopolitik yang masih tinggi.

"Harga komoditas yang mengalami penurunan masih berlanjut pada tahun 2024, seiring dengan perkembangan ekonomi global yang menyebabkan penurunan permintaan, yang pada gilirannya memengaruhi tingkat harga berbagai komoditas," kata Sri Mulyani di sela Konferensi Pers APBN KiTA secara virtual, Kamis (22/2/2024).

Baca Juga: Tensi Geopolitik Memanas, Korut Hentikan Kerja Sama Ekonomi dengan Korsel

Meskipun demikian, Sri Mulyani mencatat bahwa terdapat sedikit kenaikan harga minyak akibat konflik yang terjadi di Gaza dan Laut Merah. Hal serupa juga terjadi pada harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

"Karena, konflik di Gaza dan Laut Merah menyebakan harga minyak kita sedikit naik begitu juga dengan minyak kelapa sawit," jelasnya

Di sisi lain, harga gas dan batu bara mengalami penurunan. Penurunan harga juga terjadi pada komoditas pangan seperti kedelai dan gandum.

Selain itu, Sri Mulyani menegaskan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan harga komoditas internasional dan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah dinamika pasar global yang tidak menentu.

Diketahui, barga batu bara Newcastle berjangka turun ke USD115 per ton, terendah sejak Mei 2021 karena penurunan permintaan. Impor batu bara termal melalui laut di Asia turun menjadi 77,65 juta metrik ton pada bulan Januari, turun 5% dari rekor tertinggi pada bulan Desember.

Meskipun impor China turun dari puncaknya di bulan Desember, impor tersebut masih 34% lebih tinggi dibandingkan Januari 2023, didorong oleh permintaan untuk pembangkit listrik tenaga panas di tengah produksi tenaga air yang lebih rendah dan keunggulan harga dibandingkan batu bara domestik.

India juga mengalami penurunan impor selama tiga bulan berturut-turut, tetapi mengalami peningkatan 27,2% dibandingkan dengan Januari 2023. Sebaliknya, Jepang dan Korea Selatan menunjukkan permintaan yang kuat untuk batu bara termal

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.