Akurat

Bos SKK MIgas Beberkan Penyebab Target Lifting Migas 2023 Tak Tercapai

M. Rahman | 13 Januari 2024, 16:43 WIB
Bos SKK MIgas Beberkan Penyebab Target Lifting Migas 2023 Tak Tercapai

AKURAT.CO Realisasi lifting minyak pada tahun 2023 mencapai 605.500 BOPD atau barel per hari, di bawah target yang ditetapkan dalam APBN 2023 ditetapkan sebesar 660.000 BOPD dan WP&B (work program and budget) sebesar 621.000 BOPD.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Dwi Soetjipto membeberkan sejumlah faktor yang membuat target lifting minyak di tahun 2023 tak tercapai.

Pertama, dilakukannya safety stand-down dan terjadi penundaan pengeboran khususnya di Pertamina pada awal tahun 2023. Kedua, terjadi penurunan produksi minyak nasional berkisar antara 3% sampai 4% per tahun. 

Baca Juga: Lifting Migas Oktober 2023 Baru 89 Persen dari Target, SKK Jelaskan Kendalanya ke DPR

Kondisi tersebut bertambah parah saat ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) yang selama ini menjadi tulang punggung produksi migas nasional memasuki fase decline atau penurunan produksi pada tahun 2020. Kondisi ini membuat decline rate nasional mencapi 7%.

"Meski demikian, sepanjang tahun 2023 kami bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) mendorong upaya pengurangan angka penurunan menjadi hanya 1,2 persen," ujar Dwi di sela Konferensi Pers Kinerja 2023, Jumat (12/1/2024).

Faktor ketiga, insiden banjir yang terjadi pada beberapa wilayah menyebabkan proses produksi terganggu. Insiden tersebut berujung oada kehilangan 7.000 BOPD karena banjir. Ada sekitar 7 rig yang terhalang dan beberapa menyatakan adanya force majeur terkait banjir yang ada di Sumatra.

"Sementara untuk salur gas pada tahun 2023 mencapai 5.378 Juta Standar Kaki Kubik per Hari (MMSCFD) atau setara 87% dari target APBN sebesar 6.160 MMSCFD dan 97% dari target WP&B sebesar 5.569 MMSCFD," imbuhnya.

Revisi Target 2024

Atas kondisi tersebut, SKK Migas merevisi target lifting migas 2024. Pemerintah menetapkan lifting minyak di 2024 sebesar 596.000 BOPD, lebih rendah dari target semula di APBN 2024 sebesar 635.000 BPOD. Sedangkan salur atau lifting gas ditetapkan 5.544 MMSCFD. Target itu lebih rendah dari batas minimal yang diamanatkan APBN 2024 di level 5.6785 MMSCFD.

Ditambahkan, biasanya lewat program filling the gap atau kegiatan pengeboran di luar WP&B dapat menambah lifting minyak di rentang 15.000 BOPD hingga 20.000 BOPD. Kendati demikian, upaya untuk mencapai target WP&B itu belakangan terbilang sulit.

Memang dalam penegsahan UU APBN 2024 sebelumnya, DPR memperingatkan pemerintah bahwa mencapai target lifting migas, Pemerintah harus mendorong pertumbuhan operasi pada sektor hulu minyak bumi. Langkah ini mengantisipasi menipisnya produksi dari lapangan minyak bumi yang sudah tua.

Sementara itu pada 2030, SKK Migas mendapat beban target lifting minyak bumi sebesar 1 juta barel per hari (BPOD) dan untuk gas bumi sebesar 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD). Angka target yang cukup besar, mengingat kemampuan SKK Migas mewujudkan target yang dipatok di APBN, masih tertatih. Namun, waktu tersisa tujuh tahun ke depan, memberi ruang SKK Migas menyusun strategi agar target 1 juta bph terwujud.

Untuk mengejar target terbaru 2024, SKK dan KKKS memperispakan beberapa entry point atau jurus. di antaranya penyelesaian pembangunan beberapa proyek migas. Salah satu contohnya adalah lapangan gas Jambaran Tiung Biru.

Selain itu, juga mengoptimalkan lapangan migas yang juga dapat memberikan tambahan kondensat. Salah satunya di HCML, yakni lapangan BD di Madura, Jawa Timur. Berikutnya adalah proyek pembangunan Lapangan Tangguh 3, yang juga sudah rampung dan beroperasi sehingga mampu menghasilkan LNG. Kalau kapasitasnya bisa full untuk train 3, maka akan ada tambahan kondensat antara 4.000 sampai 5.000 barel kondensat. 

Tidak ketinggalan, upaya-upaya rutin seperti kegiatan pengeboran untuk meningkatkan produksi agar tahun ini bisa mencapai 900 sumur.  Selanjutnya, SKK Migas juga sudah mulai melakukan pengeboran di Andaman meliputi Sumur Timpan, Rencong, dan saat ini sedang dilakukan proses eksplorasi oleh Mubadala Energy. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa