Merek Sudah Terlanjur Dicap Pro Israel, Begini Saran Pakar Branding

AKURAT.CO Adanya tindakan Israel yang menyerang Gaza telah menjadi sorotan hingga kecaman dari dunia. Peristiwa ini menjadi dilema tersendiri bagi pengusaha dengan merek global karena menyulut aksi boikot beberapa produk yang diduga pro terhadap Israel.
Pemboikotan ini merupakan aksi protes keras atas apa yang sudah dilakukan oleh negara Israel seperti MCDonald’s, Starbucks, Danone dan beberapa merek dagang lainnya yang terimbas luapan emosi warga di negaranya masing-masing meski mungkin mengambil sikap berbeda dari kantor pusat atau head quarternya (HQ).
Pengamat branding, Yuswohady menyarankan seharusnya brand-brand tersebut bersikap netral dan memberikan sinyal atau pesan yang adem, karena isu seperti ini sangat sensitif di Indonesia. Hubungan diplomatik panjang Indonesia dengan Palestina membuat sentimen yang muncul belakangan lebih banyak perihal spiritual dan tidak berbasis rasionalitas.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Merek Kopi Lokal Pengganti Brand Pro Isarel, Enak Dan Harganya Terjangkau
“Ini isu yang sensitif, apalagi di Indonesia itu sejarah bagaimana relasi kita dengan Palestina tinggi sekali. Sehingga isu ini sangat dalam, artinya brand seharusnya mainnya netral-netral saja,” kata Yuswohardi kepada Akurat.co, Rabu (8/11/2023).
Yuswohady juga memberikan salah satu contoh seperti MCDonald’s global atau Head Quarter (HQ/ kantor pusat) yang telah diboikot, tetapi perusahaan cabang seperti McD Indonesia harus menyelamatkan reputasi dengan mengirimkan bantuan ke Palestina untuk membuktikan tidak terafiliasi dengan MCDonald’s global.
“Setelah diboikot, kemudian dia kirim bantuan untuk selamatkan reputasi atau membuktikan omongan dia enggak terafiliasi dengan MCD (Mcdonald’s) global, artinya dia memang sampai harus ada pembuktian bukan cuma lips service,” ucap Yuswohardi.
Menurut Yuswohady, tindakan boikot kebanyakan konsumen saat ini cenderung FOMO (Fear Of Missing Out), karena setelah viralnya sebuah pembentukan opini maka dengan mudahnya konsumen langsung melakukan tindakan boikot. Jika rasionalitas yang bermain, seharusnya harus ditelusuri terlebih dahulu afiliasi pemegang merek di tiap negara dengan kantor pusat yang sebenarnya.
“Viralitas dan FOMO itu membahayakan ketika satu opini sudah terbentuk, maka memadamkan dengan rasionalitas yang akan sulit,” ungkapnya.
Yuswohady menambahkan, untuk melawan arus FOMO tersebut, Brand Manager atau Marketing Manager jangan langsung melakukan aksi yang memancing massa, dan seharusnya menciptakan keteduhan serta peka terhadap sentimen spiritual konsumen.
Oleh karena itu, selagi tidak ada instruksi langsung dari HQ atau kantor pusat yang pro Israel, Yuswohady menyarankan lebih baik tidak mengambil action atau diam.
“Kalau memang mereknya posisinya yang diambil HQ sudah pro Israel misalnya ya terima saja boikot, jangan makin diargue apalagi di pasar seperti Indonesia dan Malaysia yang mana aspek spiritual lebih bermain, coba berusaha menyejukkan nanti juga setelah mereda konfliknya konsumen akan melupakan dengan sendiri dan datang lagi. Tapi kalau ada merek di Indonesia yang berani terang-terangan menyatakan sikap dan melakukan aksi dukungan ke Israel, pasti habis (pasarnya),” kata Yuswohardi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











