Akurat

Jatuh Bangun Pebisnis Hotel Budget RI

Yosi Winosa | 30 Agustus 2023, 14:15 WIB
Jatuh Bangun Pebisnis Hotel Budget RI

AKURAT.CO - Maraknya tren budget travelers atau kelompok wisatawan yang menempatkan anggaran dan biaya sebagai pertimbangan nomor satu, terutama dalam memilih akomodasi dan transportasi turut memunculkan pengusaha-pengusaha baru di industri perhotelan pada tingkat lokal.

CEO RedDoorz, Amit Saberwal mengatakan berdasarkan hasil survey RedDoorz pada masa liburan sekolah 2023, 96% wisatawan Gen-Z, Milenial, dan Gen-X memilih hotel dengan mempertimbangan harga yang terjangkau, selain faktor lokasi yang strategis dan kenyamanan. Ini menandakan Indonesia merupakan negara dengan karakteristik budget traveler tinggi sehingga menjadi pasar yang besar untuk industri budget hotel, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

"Meningkatnya tren budget hotel memunculkan pengusaha-pengusaha lokal yang sukses mengembangkan bisnis budget hotel. Mereka adalah para pemilik properti yang bekerja sama dengan operator budget hotel, seperti RedDoorz," kata Amit dikutip Rabu (30/8/2023).

Baca Juga: Perkuat Pemulihan Pariwisata Dan Perhotelan, OYO Catat Pertumbuhan 90 Persen

Salah satu pebisnis hotel budget yang juga pemilik dari 2 hotel RedDoorz di kawasan Depok, Ruri Noviani mengakui usaha yang dirintisnya menangkap peluang atau ceruk pasar ini. Hotelnya kini jadi langganan karyawan pabrik dan mahasiswa.

Pada tahun 2016, Ruri memutuskan untuk pensiun dini dari profesinya sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta dan mulai merintis bisnis katering rumahan. Orang tuanya kemudian memberi kepercayaan untuk mengelola losmen milik keluarga yang sudah beroperasi sejak tahun 2005. Alhasil ia pun harus membagi waktu antara menjalankan bisnis katering dan losmen.

Menjalankan bisnis losmen ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Apalagi ibu dari dua orang anak ini tak memiliki latar belakang atau pendidikan bisnis perhotelan sebelumnya. Namun itu tak menyurutkan semangatnya untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh orangtuanya. 

“Tantangannya adalah lokasi losmen kami berada di sekitar kawasan industri dan kampus di Jalan Raya Bogor, bukan kawasan wisata,” beber Ruri. 

Ia pun mulai mempelajari target market di sekitar losmen. Semula, losmennya sering dijadikan akomodasi menginap ketika perusahaan-perusahaan mengadakan pelatihan untuk karyawannya dari luar kota. Tak mau kehilangan pelanggan setia, Ruri pun kembali melakukan pendekatan dengan perusahaan-perusahaan tersebut. Ia mulai menyebar brosur dan menyambung kembali silaturahmi dengan perusahaan-perusahaan tersebut yang sempat terputus.

Pada tahun 2018, Ruri memutuskan untuk mengikuti perkembangan zaman dengan mendigitalisasi hotelnya melalui kerjasama dengan RedDoorz. Ia mengubah losmennya menjadi Hotel RedDoorz Plus Near Universitas Indonesia. Melalui dukungan sistem reservasi online yang diberikan RedDoorz, dalam jangka waktu dua tahun saja Ruri akhirnya bisa menambah jumlah kamar.

“Dari awalnya 23 kamar menjadi 33 kamar,” kata Ruri. 

DItambahkan, setelah puas dengan Hotel RedDoorz Plus Near Universitas Indonesia, ia pun menambah  satu properti lain yang juga dipercayakan kepada salah satu multi-brand RedDoorz dalam bentuk sewa kamar kos, yaitu KoolKost Taman Duta. Karena lokasinya cocok dengan karakteristik kawasan yang banyak pabrik dan kampus, maka KoolKost milik Ruri pun jadi buruan karyawan dan mahasiswa.

“Kunci dalam menjalankan bisnis hotel ini adalah selalu positive thinking pada tamu dan menjaga kepercayaan mereka,” imbuh Ruri.

Tumbuh di Tengah Persaingan

Pebisnis budget hotel lainnya yang juga pemilik 3 hotel RedDoorz di Makassar, Phie Hengky juga sudah merintis usaha sejak tahun 2000 saat ia menjadi kontraktor pembangunan Rumah Toko (Ruko). Ia mengaku awalnya tak memiliki minat untuk terjun ke bisnis budget hotel. Apalagi, menurut Hengky, sebagai salah satu destinasi wisata internasional, Makassar sudah banyak berdiri berbagai jenis hotel, mulai dari hotel bintang lima hingga sekelas budget hotel.

“Bisa dibayangkan persaingan industri hotel di Makassar yang sangat ketat, sehingga tidak memungkinkan untuk saya menjalankan bisnis itu,” kata Hengky. 

Namun, minatnya kemudian berubah manakala ia mengenal RedDoorz. Setelah tertarik dengan bentuk kerjasama yang ditawarkan, pada tahun 2020 ia pun memberanikan diri mengubah salah satu Ruko yang terbengkalai selama lima tahun untuk dijadikan hotel, diberi nama Hotel RedDoorz Graha Cemerlang dengan 21 kamar.

Ketika hotelnya baru beroperasi beberapa bulan, ia harus menghadapi tantangan karena pandemi Covid-19. Ketika itu, pemerintah menetapkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang berdampak besar bagi bisnis pariwisata dan perhotelan.

“Hotel benar-benar sepi tamu, kami tak memiliki pemasukan sama sekali sementara harus tetap mengeluarkan biaya operasional hotel dan gaji pegawai,” jelas Hengky. 

Meski mengaku sangat terpukul dengan keadaan tersebut, Hengky tak mau cepat putus asa menjalankan bisnis hotelnya. Selama enam bulan pertama ia harus mensubsidi biaya operasional hotelnya.  Ia juga meyakini bahwa bisnis ini pasti akan menguntungkan. Terbukti ketika aturan PPKM selama pandemi Covid-19 dicabut, rata-rata okupansi hotelnya mulai menanjak naik hingga 70% per hari.  

Pada tahun 2022, Hengky pun menambah satu properti lainnya untuk bekerjasama dengan RedDoorz, yaitu RedDoorz near Mall Ratu Indah 3 Makassar yang memiliki 28 kamar. Tingkat okupansi hotel ini rata-rata mencapai 70-80% per hari. Kini dua properti tersebut memiliki performa yang baik dengan rata-rata penjualan 650 kamar per bulan. 

“Saya selalu menekankan kepada karyawan hotel agar terus menjaga kepercayaan dan memberikan pelayanan yang terbaik untuk semua tamu,” kata Hengky.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa