Praktisi Migas Ingatkan Pentingnya Uji Mendalam pada BBN Viral Bobibos
Dedi Hidayat | 10 November 2025, 08:14 WIB

AKURAT.CO Praktisi migas Hadi Ismoyo menilai inovasi bahan bakar nabati (BBN) Bobibos yang tengah ramai diperbincangkan publik perlu diapresiasi, namun tetap harus melewati rangkaian verifikasi ilmiah dan proses uji yang ketat sebelum dapat dipasarkan secara luas.
Hadi mengatakan, berdasarkan keterangan pengembang yang beredar di media, Bobibos diklaim berasal dari tanaman yang mudah tumbuh di tegalan maupun sawah.
Dari penampakan visualnya, warna bahan bakar putih untuk bensin dan merah untuk diesel disebut mirip produk bioetanol yang umumnya berasal dari singkong atau tanaman sejenis, serta biodiesel yang lazim berbahan dasar tanaman keluarga kelapa sawit.
“Ini mirip dengan product bioetanol dari tanaman singkong atau sejenisnya untuk memproduksi bioetanol. Dan dari tanaman sejenis keluarga kelapa sawit untuk diesel, biodiesel,” kata Hadi kepada Akurat.co, Senin (10/11/20205).
Dari penampakan visualnya, warna bahan bakar putih untuk bensin dan merah untuk diesel disebut mirip produk bioetanol yang umumnya berasal dari singkong atau tanaman sejenis, serta biodiesel yang lazim berbahan dasar tanaman keluarga kelapa sawit.
“Ini mirip dengan product bioetanol dari tanaman singkong atau sejenisnya untuk memproduksi bioetanol. Dan dari tanaman sejenis keluarga kelapa sawit untuk diesel, biodiesel,” kata Hadi kepada Akurat.co, Senin (10/11/20205).
Baca Juga: Bahan Bakar Bobibos Belum Lulus Uji, ESDM: Perlu Proses Panjang
Hadi juga menyoroti klaim pengembang bahwa Bobibos memiliki oktan mencapai RON 98, namun tanpa penjelasan rinci mengenai komposisi kimia lainnya. Selain itu, terdapat pernyataan mengenai harga yang disebut lebih murah.
Menurut Hadi, terlepas dari berbagai klaim tersebut, inovasi ini patut disambut sebagai bentuk kemajuan riset energi alternatif dalam negeri. Namun ia mengingatkan agar tidak terburu-buru memasarkan produk sebelum ada pembuktian ilmiah yang menyeluruh.
“Perlu penelitian dan uji kepada aneka jenis kendaraan dalam waktu yang tertentu kemudian di publis secara terbuka di forum ilmiah dalam dan luar negeri sehingga productnya aman bagi semua pihak,” tegasnya.
Hadi menyarankan agar pengembang Bobibos menggandeng lembaga resmi seperti Pertamina, BRIN, serta pusat penelitian hilir migas milik negara untuk melakukan riset lanjutan dengan pendampingan hukum yang memadai, termasuk perlindungan paten.
Tak hanya itu, koordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) juga dinilai sangat penting untuk pengujian bahan bakar ini. “Segera berkoordinasi dengan KESDM untuk penelitian dan pilot project lanjutan agar bisa dijadikan skala industri yg sesuai standart internasional,” tutur Hadi.
Diberitakan sebelumnya, bahan bakar nabati (BBN) varian baru bernama Bobibos resmi dikenalkan oleh peneliti di Jonggol, Bogor, Jawa Barat.
Melalui riset panjang selama satu dekade, M. Ikhlas Thamrin bersama timnya resmi meluncurkan Bobibos, bahan bakar alternatif ramah lingkungan yang diklaim mampu mengurangi emisi hingga mendekati nol.
Founder Bobibos, M. Ikhlas Thamrin, menuturkan bahwa inovasi ini merupakan hasil perjalanan panjang yang berawal dari keresahan akan ketergantungan Indonesia terhadap energi impor.
“Kami ingin membuktikan bahwa bangsa ini mampu berdiri di atas kaki sendiri melalui ilmu pengetahuan. Setelah lebih dari 10 tahun riset mandiri, akhirnya kami menghadirkan bahan bakar yang murah, aman, dan beremisi rendah,” kata Ikhlas dalam keterangannya dikutip, Kamis (6/11/2025) malam.
Ikhlas menjelaskan bahwa bahan bakar Bobibos singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos! berasal dari tanaman yang mudah tumbuh di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di lahan persawahan.
Dengan konsep tersebut, Bobibos tidak hanya berfokus pada ketahanan energi, tetapi juga mendukung ketahanan pangan nasional. "BOBIBOS bukan hanya energi, tapi juga harapan. Kita ingin sawah tidak hanya menumbuhkan pangan, tetapi juga energi," tuturnya.
Hadi juga menyoroti klaim pengembang bahwa Bobibos memiliki oktan mencapai RON 98, namun tanpa penjelasan rinci mengenai komposisi kimia lainnya. Selain itu, terdapat pernyataan mengenai harga yang disebut lebih murah.
Menurut Hadi, terlepas dari berbagai klaim tersebut, inovasi ini patut disambut sebagai bentuk kemajuan riset energi alternatif dalam negeri. Namun ia mengingatkan agar tidak terburu-buru memasarkan produk sebelum ada pembuktian ilmiah yang menyeluruh.
“Perlu penelitian dan uji kepada aneka jenis kendaraan dalam waktu yang tertentu kemudian di publis secara terbuka di forum ilmiah dalam dan luar negeri sehingga productnya aman bagi semua pihak,” tegasnya.
Hadi menyarankan agar pengembang Bobibos menggandeng lembaga resmi seperti Pertamina, BRIN, serta pusat penelitian hilir migas milik negara untuk melakukan riset lanjutan dengan pendampingan hukum yang memadai, termasuk perlindungan paten.
Tak hanya itu, koordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) juga dinilai sangat penting untuk pengujian bahan bakar ini. “Segera berkoordinasi dengan KESDM untuk penelitian dan pilot project lanjutan agar bisa dijadikan skala industri yg sesuai standart internasional,” tutur Hadi.
Diberitakan sebelumnya, bahan bakar nabati (BBN) varian baru bernama Bobibos resmi dikenalkan oleh peneliti di Jonggol, Bogor, Jawa Barat.
Melalui riset panjang selama satu dekade, M. Ikhlas Thamrin bersama timnya resmi meluncurkan Bobibos, bahan bakar alternatif ramah lingkungan yang diklaim mampu mengurangi emisi hingga mendekati nol.
Founder Bobibos, M. Ikhlas Thamrin, menuturkan bahwa inovasi ini merupakan hasil perjalanan panjang yang berawal dari keresahan akan ketergantungan Indonesia terhadap energi impor.
“Kami ingin membuktikan bahwa bangsa ini mampu berdiri di atas kaki sendiri melalui ilmu pengetahuan. Setelah lebih dari 10 tahun riset mandiri, akhirnya kami menghadirkan bahan bakar yang murah, aman, dan beremisi rendah,” kata Ikhlas dalam keterangannya dikutip, Kamis (6/11/2025) malam.
Ikhlas menjelaskan bahwa bahan bakar Bobibos singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos! berasal dari tanaman yang mudah tumbuh di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di lahan persawahan.
Dengan konsep tersebut, Bobibos tidak hanya berfokus pada ketahanan energi, tetapi juga mendukung ketahanan pangan nasional. "BOBIBOS bukan hanya energi, tapi juga harapan. Kita ingin sawah tidak hanya menumbuhkan pangan, tetapi juga energi," tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








