MBG Jadi Harapan Emiten Poultry Bangkit di Semester II-2025

AKURAT.CO Sejumlah emiten poultry mengalami tekanan kinerja di kuartal II-2025, termasuk PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) imbas penurunan tajam harga ayam broiler dan DOC di tengah permintaan yang belum pulih.
Mengutip riset Stockbit, Selasa (5/8/2025), JPFA menjadi yang paling unggul pada kuartal ini, sementara CPIN dan MAIN mengalami koreksi signifikan, bahkan mencatatkan kerugian operasional di beberapa lini. Hasil ini sejalan dengan outlook kami sebelumnya, bahwa ketiadaan musim festive (Lebaran) dan efek historis bulan Suro berpotensi menekan harga unggas.
JPFA mengalami penurunan laba bersih 18% QoQ dan 32% YoY, sehingga selama semester I-2025 turun 16% YoY. Begitupun CPIN yang mengalami penurunan laba bersih 76% QoQ dan 66% YoY, membuat realisasi selama paruh pertama tumbuh 7% YoY. Setali tiga uang, MAIN mencatatkan kerugian kuartalan pertama sejak kuartal I-2023 dan penurunan laba bersih 91% YoY.
Dengan tren harga unggas yang belum pulih signifikan di tengah permintaan yang masih cenderung lemah, dibutuhkan akselerasi belanja pemerintah untuk mendorong permintaan dan pemulihan harga lanjutan pada paruh kedua 2025.
"Dalam jangka menengah–panjang, implementasi program Makan Bergizi Gratis berpotensi meningkatkan permintaan secara struktural, jika melibatkan produk ayam sebagai bagian dari program tersebut," tulis riset tersebut dikutip Selasa (5/8/2025).
Tekanan di Segmen Broiler, COC, Processed Chicken
Di segmen broiler, JPFA mencatatkan laba usaha di segmen ini sebesar Rp292 miliar rupiah pada periode ini, naik 14% QoQ, meski harga broiler anjlok ke level Rp16.326 per kg ( turun 15% QoQ). Sementara itu, CPIN — yang secara historis paling kuat — justru mencatatkan rugi usaha Rp130 miliar, sedangkan MAIN mencatat rugi Rp77 miliar.
Sementara itu, harga DOC jatuh ke level Rp4.196 rupiah per ekor (turun 24% QoQ), menyebabkan ketiga emiten mencatatkan rugi usaha di segmen ini pada periode ini. JPFA masih yang paling resilient dengan rugi Rp13 miliar, diikuti oleh MAIN dengan rugi RP45 miliar sementara CPIN mengalami rugi terdalam sebesar Rp197 miliar.
Adapun pada segmen Processed Chicken, meski JPFA dan MAIN mencatat pertumbuhan pendapatan secara tahunan, laba usaha JPFA melemah ke level Rp79 miliar (turun 36% YoY) dan MAIN kembali rugi Rp12 miliar (dibanding kuartal II-2024 rugi Rp14 miliar). Sementara itu, CPIN mencatat penurunan pendapatan 17% QoQ dan laba usaha turun drastis ke Rp46 miliar, setelah sempat mencetak laba Rp331 miliar pada kuartal I-2025.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 6Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 7Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026
- 8Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








