Hilirisasi Baterai di Halmahera, Simbol Kebangkitan Ekonomi Timur

AKURAT.CO Proyek pengembangan Industri Baterai EV Terintegrasi di Halmahera Timur merupakan katalisator ekonomi daerah.
Oleh sebab itu, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos memastikan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah untuk kelancaran agenda hilirisasi mineral yang diusung Presiden RI Prabowo Subianto.
Dalam acara Groundbreaking Pabrik Baterai Terintegrasi di Tanjung Buli, Halmahera Timur Sherly menegaskan pemanfaatan sumber daya alam melalui hilirisasi memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Ekosistem Baterai Karawang Hemat Impor BBM hingga 300 Ribu KL per Tahun
"Kami sangat mengapresiasi niat besar pemerintah pusat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia, termasuk Maluku Utara," ujar Sherly, dikutip Senin (30/6/2025).
Sherly juga menegaskan bahwa masyarakat adat yang ada di Maluku Utara mendukung penuh agenda pemerintah. Ia merinci ada setidaknya 11 suku yang siap mendukung kemajuan Maluku Utara.
"Karena masa depan bukan semata-mata soal teknologi yang canggih, tapi juga tentang hati yang peduli, tangan yang bekerja, dan komitmen kita untuk memastikan bahwa semua daerah dan semua masyarakat ikut maju bersama," tegas Sherly.
Baca Juga: Bahlil: Pabrik Baterai EV di Karawang Bisa untuk 300 Ribu Mobil
Ia menambahkan, kehadiran ANTAM bersama mitra strategis menunjukkan peran negara yang nyata dalam menghadirkan pembangunan berkeadilan.
Dengan dukungan dari pemerintah pusat, daerah, dan DPR RI, proyek ini diyakini akan memperkuat kualitas hidup masyarakat serta membuka akses ekonomi baru di kawasan timur.
Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), Achmad Ardianto menjelaskan ANTAM sebagai BUMN akan selalu hadir dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat. ANTAM berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah pusat dan daerah guna memastikan proyek berjalan inklusif dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Di Halmahera Timur, proyek ini mencakup pertambangan, pembangunan kawasan industri yang di dalamnya terdapat pabrik bahan baku baterai berkapasitas 30.000 ton katoda per tahun, fasilitas pirometalurgi untuk memproduksi 88.000 ton refined nickel alloy, serta pabrik daur ulang baterai dengan teknologi sirkular berkapasitas 20.000 ton logam per tahun.
Kehadiran proyek strategis ini bukan hanya soal industrialisasi logam baterai, tapi juga simbol kebangkitan ekonomi Indonesia Timur. Serapan tenaga kerja langsung diproyeksikan mencapai 8.000 orang, dengan berbagai pelatihan dan peningkatan kapasitas SDM lokal secara bertahap.
"Kami menyadari bahwa keberhasilan hilirisasi di Maluku Utara sangat bergantung pada dukungan infrastruktur yang memadai. ANTAM berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah pusat dan daerah guna memastikan proyek berjalan inklusif dan berdampak nyata bagi masyarakat. Pembangunan ekosistem baterai ini bukan hanya proyek industri, tetapi juga momentum transformasi kawasan timur Indonesia," tegas Ardianto.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










