Hiraukan Tekanan Tarif AS, Aktivitas Manufaktur China Kembali Tumbuh

AKURAT.CO Meski tekanan dari Amerika Serikat semakin tinggi disertai permintaan domestik yang kian menurun, sektor manufaktur China mencatat kinerja positif. Dimana Februari 2025 menjadi momen bangkitnya industri Negeri Tirai Bambu pasca sempat terseok.
Mengacu kepada data resmi dari Biro Statistik Nasional China yang dikutip dari laman reuters, indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur naik ke angka 50,2 di bulan Februari. Capaian tersebut lumayan signifikan dibanding Januari yang hanya di angka 49,1.
Bahkan, capaian ini lebih tinggi dibanding prediksi para ekonom yang memperkirakan PMI China berada di angka 49,9.
Sebagai informasi, angka PMI di atas 50 menandakan adanya ekspansi. Oleh karena itu, angka 50,2 membawa kabar baik, setidaknya untuk para pelaku industri yang khawatir efek perang dagang yang semakin mencekik.
Usut punya usut, naiknya kinerja PMI tersebut berasa dari adanya kebijakan stimulus yang disuntikkan pemerintah Xi Jinping beberapa waktu lalu ditambah dengan semakin stabilnya ekspor di akhir 2023 lalu.
Baca Juga: Impor Barang Modal Tumbuh 1,74 Persen di Januari, Industri Manufaktur Menggeliat?
Meskipun begitu, naiknya capaian kinerja tersebut bukan berarti semua masalah terselesaikan, di sisi lain tekanan dari AS juga semakin menggila.
Hal tersebut terbukti, pasca Trump memberikan berbagai tarif tinggi tambahan, diketahui Washington kembali menggulirkan ancaman tambahan berupa tarif 10% yang dijadwalkan mulai berlaku pada 4 Maret 2025 ini.
Tentunya hal tersebut jelas membuat pusing Beijing, apalagi perang dagang semakin panas dan situasi ekonomi global masih penuh ketidakpastian.
Bahkan beberapa waktu lalu, Presiden Xi Jinping sendiri sudah mewanti-wanti pejabatnya untuk tetap tenang. Meskipun strategi China kali ini memang lebih hati-hati. Alih-alih langsung tancap gas dengan kebijakan agresif, Beijing memilih membaca situasi lebih dulu sembari menjaga kestabilan industri yang ada.
Meski Februari membawa kabar cerah dari sektor manufaktur, PR besar tetap menanti. Sektor konsumsi dalam negeri masih lesu, pasar tenaga kerja belum pulih total, dan krisis di sektor properti makin bikin pusing.
Tapi setidaknya, dengan pulihnya manufaktur, ada sinyal positif buat ekonomi China untuk kembali bangkit lebih stabil. Kini tinggal bagaimana pemerintah menjaga momentum ini di tengah tekanan global yang terus menghantui.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








