Apa Itu Dhuafa? Pengertian, Ciri-Ciri, dan Perannya dalam Kehidupan Sosial

AKURAT.CO Pernah melihat orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi bukan sekadar miskin secara materi? Banyak dari mereka disebut sebagai dhuafa, istilah yang sering muncul saat Ramadan atau dalam program bantuan sosial. Namun, tidak semua orang benar-benar memahami apa itu dhuafa dan siapa saja yang termasuk di dalamnya.
Di Indonesia, jumlah masyarakat yang hidup dalam keterbatasan masih mencapai puluhan juta orang. Kondisi ini membuat istilah dhuafa bukan sekadar istilah agama, melainkan gambaran nyata tentang kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian dan dukungan sosial.
Jawaban Cepat: Apa Itu Dhuafa?
Dhuafa adalah kelompok orang yang lemah atau tidak berdaya secara ekonomi, sosial, atau fisik sehingga membutuhkan bantuan dari orang lain. Istilah ini berasal dari bahasa Arab dhū‘afā’ yang berarti orang-orang yang lemah.
Kaum dhuafa biasanya ditandai dengan kondisi seperti:
-
Kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidup
-
Penghasilan sangat terbatas
-
Akses pendidikan dan kesehatan rendah
-
Tidak memiliki perlindungan ekonomi
-
Rentan terhadap krisis sosial dan ekonomi
Dhuafa tidak hanya berarti miskin secara materi, tetapi juga mencakup orang-orang yang lemah secara sosial atau fisik.
Asal Usul Istilah Dhuafa dan Maknanya
Secara bahasa, kata dhuafa berasal dari bahasa Arab yang berarti orang yang lemah atau tidak berdaya. Makna ini tidak hanya merujuk pada kelemahan ekonomi, tetapi juga kondisi sosial yang membuat seseorang sulit berkembang.
Dalam konteks masyarakat modern, arti dhuafa berkembang menjadi istilah yang menggambarkan kelompok yang:
-
Terbatas akses ekonominya
-
Tidak memiliki kesempatan yang sama
-
Sulit memenuhi kebutuhan dasar
-
Terpinggirkan secara sosial
Karena itu, pengertian dhuafa lebih luas dibandingkan istilah miskin atau fakir.
Siapa Saja yang Termasuk Kaum Dhuafa?
Banyak orang mengira dhuafa hanya berarti orang miskin. Padahal, kelompok dhuafa jauh lebih luas dan mencakup berbagai kondisi sosial.
Beberapa contoh golongan dhuafa antara lain:
-
Fakir dan miskin
-
Anak yatim dan piatu
-
Lansia yang tidak memiliki penghasilan
-
Janda miskin tanpa penopang ekonomi
-
Penyandang disabilitas
-
Pekerja informal berpenghasilan sangat kecil
-
Kelompok sosial yang terpinggirkan
Kelompok-kelompok ini sering mengalami keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Dhuafa dan Kemiskinan di Indonesia
Istilah dhuafa sering dikaitkan dengan kondisi kemiskinan karena sebagian besar kaum dhuafa hidup di bawah garis kemiskinan.
Data terbaru menunjukkan sekitar 23 juta lebih penduduk Indonesia masih tergolong miskin, atau sekitar 8 persen dari total penduduk. Angka ini menggambarkan bahwa kelompok dhuafa masih menjadi bagian penting dari persoalan kesejahteraan masyarakat.
Banyak kaum dhuafa tinggal di:
-
Daerah pedesaan terpencil
-
Pinggiran kota besar
-
Wilayah dengan infrastruktur terbatas
Keterbatasan pendidikan dan keterampilan sering membuat mereka sulit keluar dari lingkaran kemiskinan.
Perbedaan Dhuafa, Fakir, dan Miskin
Istilah dhuafa sering disamakan dengan fakir dan miskin, padahal maknanya tidak sama.
Fakir
-
Tidak memiliki penghasilan tetap
-
Tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar
Miskin
-
Memiliki pekerjaan
-
Penghasilan tidak mencukupi kebutuhan hidup
Dhuafa
-
Istilah paling luas
-
Mencakup fakir dan miskin
-
Termasuk orang yang lemah secara sosial atau fisik
Karena cakupannya lebih luas, dhuafa sering digunakan dalam kegiatan sosial dan program bantuan masyarakat.
Peran Zakat dan Solidaritas Sosial
Dalam ajaran Islam, membantu dhuafa merupakan bentuk kepedulian sosial yang sangat dianjurkan. Zakat, infak, dan sedekah menjadi cara untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Zakat memiliki fungsi penting sebagai:
-
Instrumen pemerataan ekonomi
-
Bantuan bagi masyarakat lemah
-
Upaya mengurangi kesenjangan sosial
-
Dukungan bagi kelompok rentan
Selain zakat, program bantuan sosial dan filantropi juga berperan membantu kaum dhuafa melalui:
-
Bantuan sembako
-
Beasiswa pendidikan
-
Pelatihan keterampilan
-
Modal usaha kecil
Pendekatan modern tidak hanya memberikan bantuan langsung, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi.
Insight: Dhuafa Bukan Sekadar Masalah Bantuan
Banyak program bantuan hanya berfokus pada pemberian dana atau sembako. Cara ini memang membantu dalam jangka pendek, tetapi sering tidak menyelesaikan masalah utama.
Masalah sebenarnya adalah keterbatasan akses:
-
Pendidikan rendah
-
Peluang kerja terbatas
-
Minim keterampilan
-
Akses modal sulit
Tanpa perubahan pada faktor-faktor tersebut, generasi berikutnya berisiko tetap menjadi dhuafa.
Inilah sebabnya program pemberdayaan ekonomi dianggap lebih efektif dibanding bantuan sesaat.
Contoh Nyata Kehidupan Kaum Dhuafa
Bayangkan seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai penjual gorengan di pinggir jalan. Penghasilannya sekitar Rp40 ribu hingga Rp60 ribu per hari.
Uang tersebut harus cukup untuk:
-
Makan sehari-hari
-
Biaya sekolah anak
-
Sewa rumah
-
Kebutuhan listrik dan air
Ketika anak sakit atau dagangan sepi, kondisi ekonomi langsung terguncang. Situasi seperti ini adalah gambaran nyata kehidupan kaum dhuafa di banyak daerah Indonesia.
Mereka tidak sepenuhnya menganggur, tetapi tetap hidup dalam keterbatasan.
Kenapa Memahami Dhuafa Itu Penting?
Memahami arti dhuafa penting karena kelompok ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Siapa yang paling terdampak:
-
Pekerja berpenghasilan rendah
-
Lansia tanpa pensiun
-
Keluarga dengan pendidikan rendah
-
Masyarakat di daerah tertinggal
Jika kondisi dhuafa diabaikan, kesenjangan sosial bisa semakin lebar dan memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Masalah dhuafa bukan hanya persoalan amal, tetapi juga berkaitan dengan pembangunan manusia.
Dhuafa dan Masa Depan Solidaritas Sosial
Istilah dhuafa mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari seberapa banyak orang yang bisa hidup layak.
Di tengah meningkatnya biaya hidup, siapa pun sebenarnya bisa berada di posisi rentan. Pertanyaannya bukan lagi siapa dhuafa hari ini, tetapi bagaimana masyarakat bisa mencegah semakin banyak orang jatuh ke kondisi yang sama.
Memahami dhuafa mungkin menjadi langkah awal untuk melihat kemiskinan bukan sebagai angka statistik, melainkan sebagai realitas manusia yang membutuhkan perhatian bersama.
Pantau terus perkembangan isu sosial seperti ini untuk melihat bagaimana dampaknya terhadap masyarakat ke depan.
Baca Juga: LFC dan Dompet Dhuafa Jalin Kolaborasi Diskusi Manuskrip Filantropi
Baca Juga: Prudential Syariah, Dompet Dhuafa dan LAZISNU Salurkan Bantuan ke Korban Bencana di Aceh
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





