Ambang Batas Parlemen 5 Persen Bisa Bikin Disproporsionalitas Hasil Pemilu Makin Tinggi

AKURAT.CO Gerakan Kedaulatan Suara Rakyat (GKSR) menolak wacana menaikkan ambang batas parlemen atau parliamentary threshold (PT) menjadi 5 persen. Kenaikan ambang batas dari 4 persen, justru berpotensi memperbesar jumlah suara pemilih yang tidak terkonversi menjadi kursi DPR.
Ketua Umum GKSR, Said Iqbal, mengatakan pembentuk undang-undang perlu membaca secara utuh Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 116/PUU-XXI/2023 sebelum menentukan besaran parliamentary threshold untuk Pemilu 2029.
Menurutnya, putusan tersebut semestinya dimaknai sebagai dorongan untuk menghapus ambang batas parlemen atau setidaknya menurunkan besaran persentasenya.
Baca Juga: Revisi UU Pemilu, Bahlil Sebut Ambang Batas Parlemen Ideal 5 Persen
"Intensi dari Putusan MK tersebut sesungguhnya adalah mendorong pembentuk undang-undang agar tidak memberlakukan aturan PT. Kalau pun tetap ingin diberlakukan, maka besaran angka PT harus diperkecil," demikian keterangan GKSR dalam siaran pers, Jumat (18/9/2026).
GKSR menilai, angka 5 persen justru berpotensi bertentangan dengan semangat putusan tersebut. Sebab, menurut mereka, PT 4 persen pada Pemilu 2019 dan 2024 saja telah menghasilkan suara sah yang tidak terkonversi menjadi kursi DPR dalam jumlah besar.
Tercatat, sekitar 13,6 juta suara tidak dapat dikonversi menjadi kursi DPR pada Pemilu 2019. Sementara pada Pemilu 2024, GKSR menyebut lebih dari 17,3 juta suara tidak terkonversi menjadi kursi.
"Jadi, kalau angka PT mau dinaikkan menjadi 5 persen, hal itu justru akan menyebabkan disproporsionalitas hasil pemilu menjadi semakin tinggi dan suara sah yang terbuang akan semakin banyak," tulis GKSR.
Baca Juga: PAN Belum Sepakati Ambang Batas Parlemen 5 Persen, Opsi Lain Masih Terbuka
Karena itu, GKSR menawarkan tiga opsi kepada DPR dan pemerintah dalam merevisi UU Pemilu. Pertama, menghapus ketentuan parliamentary threshold. Kedua, tetap memberlakukan PT tetapi basis penghitungannya diubah dari suara sah nasional menjadi suara sah parpol di masing-masing daerah pemilihan (dapil).
Untuk opsi kedua, GKSR mengusulkan besaran PT sekitar 3,5 persen. Dengan skema tersebut, parpol yang memperoleh suara di bawah 3,5 persen pada suatu dapil tidak diikutsertakan dalam penentuan kursi DPR di dapil tersebut.
Adapun opsi ketiga adalah mempertahankan penghitungan PT berdasarkan suara sah nasional, tetapi menurunkan ambang batas menjadi 1 persen. GKSR menyebut usulan PT 1 persen tersebut didasarkan pada konsep effective threshold yang diperkenalkan ilmuwan politik Rein Taagepera.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 2KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 3Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 4Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 5Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 6Prediksi Skor Dortmund vs Betis 5 November 2026: Mampukah Die Borussen Hentikan Rekor Sempurna Tim Tamu?
- 7Masuki Usia 8 Tahun, Pindar UKU Bidik Pertumbuhan Lewat Penguatan Kolaborasi dengan Lembaga Keuangan
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar









