Kooptasi dalam Sosiologi: Pengertian, Tujuan, dan Ciri-cirinya

AKURAT.CO Dalam sosiologi, kooptasi merujuk pada strategi kerja sama dengan cara menambahkan unsur atau anggota baru ke dalam suatu kelompok atau organisasi.
Kehadiran anggota baru ini biasanya langsung diberikan peran penting agar stabilitas politik maupun organisasi tetap terjaga.
Kooptasi kerap dilakukan oleh kelompok elit, terutama yang memegang kendali partai politik atau organisasi besar.
Melalui cara ini, kelompok yang awalnya berseberangan dapat “ditarik” menjadi sekutu, sehingga dukungan politik maupun legitimasi organisasi semakin menguat.
Apa Itu Kooptasi?
Secara sederhana, kooptasi bisa dipahami sebagai taktik integrasi sekaligus manipulasi. Kelompok yang awalnya tidak memiliki minat sama, dijadikan bagian dari sistem agar tidak lagi menjadi oposisi.
Dikutip dari berbagai sumber, kooptasi adalah penerimaan unsur baru dalam kepemimpinan politik demi menghindari konflik yang berpotensi mengganggu stabilitas organisasi.
Cara ini diharapkan mampu mengubah oposisi menjadi bagian dari sistem kekuasaan.
Dalam praktiknya, kooptasi sering dilakukan dengan “merayu” tokoh penting agar bergabung, bukan untuk memperluas ruang pengambilan keputusan, melainkan untuk mengamankan dukungan.
Kooptasi juga dipandang sebagai bentuk manipulasi sosial-ekonomi yang digunakan untuk memperkuat pihak yang berkuasa, dengan melibatkan pihak yang lebih lemah agar tetap berada dalam kendali pihak dominan.
Baca Juga: Herman Deru Ajak Doa Bersama, Sumsel Kokohkan Zero Konflik di Peringatan Maulid Nabi SAW
Ciri-Ciri Kooptasi
-
Berorientasi pada Kesepakatan
Kooptasi lahir untuk mencari solusi dari konflik atau masalah tertentu, sekaligus mengamankan kepentingan pihak dominan.
-
Melahirkan Aturan Baru
Proses kooptasi sering menghasilkan peraturan atau kesepakatan baru yang mengikat semua pihak, meski sering kali lebih menguntungkan pihak yang berkuasa.
-
Dimulai dari Perundingan
Tahap awal kooptasi biasanya ditandai dengan pertemuan, perundingan, dan dialog untuk menemukan titik temu. Dari sinilah terbentuk kompromi yang mengarah pada kesepakatan baru.
Tujuan Kooptasi
-
Memperkuat Kekuasaan
Dalam politik maupun bisnis, kooptasi memperkokoh dominasi pihak tertentu agar lebih leluasa menentukan arah kebijakan.
-
Meningkatkan Basis Dukungan
Dengan merangkul kelompok oposisi, kooptasi memperluas jaringan dukungan dan meningkatkan reputasi organisasi atau partai politik.
-
Meningkatkan Legitimasi
Perekrutan tokoh publik atau figur populer ke dalam sistem sering dilakukan untuk meningkatkan legitimasi.
Kehadiran mereka diyakini mampu memikat kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan yang dijalankan.
Pada intinya, kooptasi bukan sekadar perekrutan anggota baru, melainkan strategi politik dan sosial untuk menjaga stabilitas serta memperkuat kekuasaan.
Meski di satu sisi dianggap solusi kompromi, di sisi lain kooptasi sering dipandang sebagai bentuk manipulasi halus yang menguntungkan pihak dominan dan melemahkan oposisi.
Baca Juga: Sriwijaya Open 2025 Resmi Dibuka, Wagub Sumsel Tekankan Pentingnya Pembibitan Atlet Renang Muda
Laporan: Okky Tri Nugroho/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










