Akurat

Kooptasi dalam Sosiologi: Pengertian, Tujuan, dan Ciri-cirinya

Eko Krisyanto | 5 September 2025, 23:30 WIB
Kooptasi dalam Sosiologi: Pengertian, Tujuan, dan Ciri-cirinya

AKURAT.CO Dalam sosiologi, kooptasi merujuk pada strategi kerja sama dengan cara menambahkan unsur atau anggota baru ke dalam suatu kelompok atau organisasi.

Kehadiran anggota baru ini biasanya langsung diberikan peran penting agar stabilitas politik maupun organisasi tetap terjaga.

Kooptasi kerap dilakukan oleh kelompok elit, terutama yang memegang kendali partai politik atau organisasi besar.

Melalui cara ini, kelompok yang awalnya berseberangan dapat “ditarik” menjadi sekutu, sehingga dukungan politik maupun legitimasi organisasi semakin menguat.

Apa Itu Kooptasi?

Secara sederhana, kooptasi bisa dipahami sebagai taktik integrasi sekaligus manipulasi. Kelompok yang awalnya tidak memiliki minat sama, dijadikan bagian dari sistem agar tidak lagi menjadi oposisi.

Dikutip dari berbagai sumber, kooptasi adalah penerimaan unsur baru dalam kepemimpinan politik demi menghindari konflik yang berpotensi mengganggu stabilitas organisasi.

Cara ini diharapkan mampu mengubah oposisi menjadi bagian dari sistem kekuasaan.

Dalam praktiknya, kooptasi sering dilakukan dengan “merayu” tokoh penting agar bergabung, bukan untuk memperluas ruang pengambilan keputusan, melainkan untuk mengamankan dukungan.

Kooptasi juga dipandang sebagai bentuk manipulasi sosial-ekonomi yang digunakan untuk memperkuat pihak yang berkuasa, dengan melibatkan pihak yang lebih lemah agar tetap berada dalam kendali pihak dominan.

Baca Juga: Herman Deru Ajak Doa Bersama, Sumsel Kokohkan Zero Konflik di Peringatan Maulid Nabi SAW

Ciri-Ciri Kooptasi

  1. Berorientasi pada Kesepakatan

    Kooptasi lahir untuk mencari solusi dari konflik atau masalah tertentu, sekaligus mengamankan kepentingan pihak dominan.

  2. Melahirkan Aturan Baru

    Proses kooptasi sering menghasilkan peraturan atau kesepakatan baru yang mengikat semua pihak, meski sering kali lebih menguntungkan pihak yang berkuasa.

  3. Dimulai dari Perundingan

    Tahap awal kooptasi biasanya ditandai dengan pertemuan, perundingan, dan dialog untuk menemukan titik temu. Dari sinilah terbentuk kompromi yang mengarah pada kesepakatan baru.

Tujuan Kooptasi

  1. Memperkuat Kekuasaan

    Dalam politik maupun bisnis, kooptasi memperkokoh dominasi pihak tertentu agar lebih leluasa menentukan arah kebijakan.

  2. Meningkatkan Basis Dukungan

    Dengan merangkul kelompok oposisi, kooptasi memperluas jaringan dukungan dan meningkatkan reputasi organisasi atau partai politik.

  3. Meningkatkan Legitimasi

    Perekrutan tokoh publik atau figur populer ke dalam sistem sering dilakukan untuk meningkatkan legitimasi.

    Kehadiran mereka diyakini mampu memikat kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan yang dijalankan.

Pada intinya, kooptasi bukan sekadar perekrutan anggota baru, melainkan strategi politik dan sosial untuk menjaga stabilitas serta memperkuat kekuasaan.

Meski di satu sisi dianggap solusi kompromi, di sisi lain kooptasi sering dipandang sebagai bentuk manipulasi halus yang menguntungkan pihak dominan dan melemahkan oposisi.

Baca Juga: Sriwijaya Open 2025 Resmi Dibuka, Wagub Sumsel Tekankan Pentingnya Pembibitan Atlet Renang Muda

 

Laporan: Okky Tri Nugroho/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.