Kebijakan Efisiensi Sri Mulyani Dinilai Cuma Retorika, Pengamat: Masih Kuat Feodalisme di ASN

AKURAT.CO Kebijakan Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait standar biaya harian perjalanan dinas bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 2026 menuai kritik tajam.
Kebijakan efisiensi tersebut dinilai hanya bersifat simbolik dan tidak menyentuh akar persoalan birokrasi, terutama budaya feodalisme di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN).
Pengamat Kebijakan Publik dari Lembaga Kajian Politik Nasional, Adib Miftahul, menyebut, semangat efisiensi yang digaungkan pemerintah belum menyentuh kalangan pejabat tinggi di birokrasi.
“Kalau efisiensi ala Pak Prabowo dan Menkeu Sri Mulyani seperti ini, saya lihat hanya sebatas omon-omon. Di kalangan ASN, sistem feodalisme masih sangat kental. Mereka yang punya kuasa justru tidak tersentuh kebijakan efisiensi,” ujar Adib kepada Akurat.co, Senin (2/6/2025).
Menurutnya, pejabat ASN dengan jabatan tinggi masih memiliki kuasa penuh untuk mengatur kebijakan internal dan menekan pegawai di bawahnya, sementara mereka sendiri kebal dari penghematan.
“Golongan bawah ditekan untuk efisiensi, tapi yang punya power tetap menikmati fasilitas. Ini bukan efisiensi yang adil,” tegasnya.
Adib juga menyoroti persepsi publik terhadap kebijakan efisiensi pemerintah. Ia menilai masyarakat kini semakin cerdas dan mampu menilai apakah pemangku kebijakan juga benar-benar berhemat.
Baca Juga: Lebih dari 1.000 Gagal Berangkat Haji, DPR Desak Negara Hadir Lindungi Jemaah Furoda
“Rakyat gampang membaca efisiensi. Selama pejabat masih naik mobil mewah, menerima tunjangan besar, ya jelas publik menganggap efisiensi itu hanya simbolik,” lanjutnya.
Ia menekankan bahwa pola efisiensi harus diterapkan secara konsisten dari atas ke bawah.
“Kalau pola efisiensinya hanya menekan golongan III dan IV, itu tidak adil. Harusnya dimulai dari atas, baru bisa diterima publik,” tambah Adib.
Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, menyebut kebijakan efisiensi ini sebagai bentuk standar ganda dan diskriminatif.
“Efisiensi tidak berlaku untuk para menteri dan eselon I. Padahal seharusnya mereka menjadi contoh utama. Yang terjadi, justru ASN level bawah yang dibebani,” kritik Ubedilah.
Baca Juga: ChatGPT Nilai Denny JA sebagai Tokoh Highly Gifted dengan IQ Fungsional 145–155
Menurutnya, hal ini mencerminkan ketimpangan kebijakan Presiden dalam menerapkan efisiensi, yang lebih merupakan narasi politik ketimbang langkah struktural yang menyeluruh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 2Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 3Jadwal Siaran Langsung Liga Champions Malam Ini: Barcelona vs Aston Villa, MU vs AS Roma
- 4Prediksi Skor Dortmund vs Betis 5 November 2026: Mampukah Die Borussen Hentikan Rekor Sempurna Tim Tamu?
- 5Kalender Jawa 4 November 2026: Watak Weton Rabu Kliwon yang Dikenal Berwibawa
- 6Prediksi Skor AEK Athena vs Real Madrid 5 November 2026: Los Blancos Bidik Kemenangan Keempat
- 7Saham BBCA Tertekan Isu MSCI, Peluang Akuisisi DBS Group Mulai Jadi Perbincangan
- 8Prediksi Skor Leipzig vs Man City 5 November 2026: Haaland Jadi Ancaman, The Citizens Diunggulkan
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit







