Saat Kekesalan Publik Mencari Pelampiasan: Gibran, Jokowi, dan Isu Lama yang Kembali Muncul

AKURAT.CO Gelombang kritik tajam terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali memanas di jagat media sosial.
Dalam beberapa hari terakhir, muncul video-video monolog bernada satir dan sinis yang menyasar putra sulung Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), serta menyeret isu lama terkait dugaan ijazah palsu Jokowi yang hingga kini belum tuntas.
Fenomena ini, menurut Peneliti Pusat Riset Politik BRIN, Firman Noor, mencerminkan akumulasi kekesalan masyarakat yang selama ini terpendam dan kini menemukan momentumnya.
“Ini semacam ledakan psikologis publik. Masyarakat sedang kesal, dan mereka hanya menunggu momen yang tepat untuk menyalurkan kekesalan itu,” ujar Firman saat dihubungi Akurat.co, Kamis (24/4/2025).
Firman menilai, serangan terhadap Gibran sebenarnya tidak berdiri sendiri. Kritik itu kerap dilihat publik sebagai bagian dari satu paket dengan manuver politik Jokowi.
Baca Juga: Gibran Dorong Lingkungan Positif bagi Anak: Olahraga, Seni, dan Tradisi Jadi Alternatif Gawai
Gibran, menurutnya, tidak lepas dari bayang-bayang sang ayah, baik dalam hal pencitraan maupun dinamika kekuasaan.
“Kritik terhadap Gibran bisa diartikan sebagai sindiran terhadap Jokowi juga. Ini terkait dengan bagaimana keluarga Solo dipersepsikan publik: penuh intrik, manipulatif, dan memainkan kekuasaan secara tidak sehat,” jelasnya.
Tak hanya itu, Firman juga menyinggung kemungkinan merembetnya kritik ke Presiden Prabowo Subianto, mengingat kedekatan politik antara Prabowo dan keluarga Jokowi.
Menariknya, Firman membantah jika isu-isu ini sengaja dirancang untuk menggoyang stabilitas politik nasional. Menurutnya, reaksi publik ini bersifat spontan, bukan bagian dari skenario politik besar.
“Kalau kita lihat dari pesan-pesannya, ini bukan sesuatu yang dirancang rapi atau punya tujuan strategis. Ini lebih ke luapan emosional masyarakat yang sudah jenuh dan kecewa,” tegasnya.
Ia menambahkan, dinamika semacam ini akan terus muncul selama publik merasa tidak didengar dan tidak mendapatkan transparansi yang layak dari elite politik.
Munculnya konten kritis di media sosial, termasuk monolog yang menohok simbol-simbol kekuasaan, menjadi sinyal bahwa masyarakat semakin berani menyuarakan ketidakpuasan mereka.
Baca Juga: Jadi Role Model Global, Program YESS Kementan Tarik Perhatian Dunia
Narasi-narasi ini tak hanya berisi kritik, tapi juga satire yang tajam—cerminan publik yang makin sadar dan kritis terhadap dinamika kekuasaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit







