Sudah Berpengalaman, PKS Sebaiknya Lanjut Jadi Partai Oposisi

AKURAT.CO Pengamat politik Badan Research dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli menhatakan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebaiknya melanjutkan arah berpolitiknya sebagai partai oposisi.
Menurutnya, dengan sejarah selama sepuluh tahun menjadi oposisi di pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dan selama itu telah menjalankan peran oposisi dengan baik, PKS sebaiknya melanjutkan.
"Sebenarnya PKS punya DNA sebagai oposisi. Selam pemerintahan Jokowi dua periode ini PKS mengambil posisi sebagai oposisi, dan cukup baik menjalankan peran sebagai partai oposisi tersebut," ucap Romli kepada Akurat.co, Selasa (30/4/2024).
Baca Juga: BRIN: PKS Terbelah Dua Kubu, Antara Oposisi dan Masuk Koalisi Pemerintah
Di sisi lain, masyarakat juga terlihat puas dengan langkah PKS tersebut, dengan memberi hadiah kenaikan jumlah kursi di legislatif.
Sehingga masyarakat pasti menginginkan PKS kembali menjadi oposisi ketimbang masuk pemerintah ke depan, yakni era kepemimpinan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
"Publik pun kemudian memberi reward, sehingga suara PKS naik shg kursinya di DPR bertambah. Publik berharap PKS tetap mengambil posisi di luar pemerintahan saja sebagai oposisi untuk menjalankan fungsi pengawasan, menjalankan fungsi check and balances," jelasnya.
Sebelumnya, PKS merupakan koalisi pengusung paslon kalah di Pilpres 2024, yakni Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, bersama Partai NasDem dan PKB.
Setelah Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka ditetapkan sebagai presiden dan wakil presiden terpilih oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), PKS harus memutuskan bergabung ke koalisi pemerintah atau menjadi oposisi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









