Akurat Logo

Demokrat Sentil Soal Hak Angket: Pemilu 2024 Brutalnya di Mana?

Paskalis Rubedanto | 5 Maret 2024, 13:38 WIB
Demokrat Sentil Soal Hak Angket: Pemilu 2024 Brutalnya di Mana?

AKURAT.CO Anggota DPR Fraksi Partai Demokrat, Herman Khaeron, mempertegas wacana hak angket tidak boleh mendegradasi rakyat yang sudah mencoblos di Pemilu 2024.

Khaeron mulanya menyinggung soal hak angket yang sudah dibahas oleh fraksi lain sebelumnya yakni PKS, PKB, dan PDIP, dalam rapat paripurna DPR RI, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (5/3/204).

Baca Juga: PKS, PKB, dan PDIP Kompak Dorong Hak Angket Digulirkan untuk Ungkap Kecurangan Pemilu

"Terkait hak angket saya kira kita paham semua bahwa ini adalah hak konstitusional kita, namun apa sesungguhnya yang akan kita angketkan? Apa yang akan kita dalami? Apa yang akan kita selidiki?" kata Khaeron dalam rapat paripurna.

"Harus jelas dulu, sehingga kemudian tidak serta merta bahwa menuduh kecurangan, bahkan mendegradasi terhadap hak konstitusional rakyat hak, suara rakyat yang telah dicurahkan dalam pemilu," tambah dia.

Dia pun kemudian menegaskan, di mana bukti yang mengatakan Pemilu 2024 disebut paling brutal. Dia tidak mau jika masyarakat kemudian diracuni dengan informasi yang bias.

"Kalau brutalnya brutal di mana gitu? Karena ini yang harus didudukan kembali supaya tidak ada informasi yang bias kepada masyarakat," ucap Khaeron.

Baca Juga: Fraksi PKS Minta Wacana Hak Angket Direspons Secara Bijak dan Proporsional

Ketua BPOKK DPP Demokrat ini menyebut, silakan gulirkan hak angket kemudian ketahui isinya apa saja bersama-sama. Namun, dia meminta jangan juga membangun seolah-olah Pemilu 2024 curang.

"Jika ada hal lain, saya kira tugas kontistusional bisa digunakan, namun tentu kita harus juga memperjelas kepada publik jangan sampai publik betul-betul tidak mendapatkan informasi sebenar-benarnya. Ini penting karena DPR adalah bagian dari pengambil keputusan di dalam pelaksanaan pemilu," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.