AKURAT.CO Melonjaknya perolehan suara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membuat sejumlah pihak menaruh curiga.
Pasalnya, kenaikan ini terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Menurut pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, kecurigaan tersebut beralasan dan memiliki argumen yang bisa dipertimbangkan.
"Kecurigaan itu kan beralasan, berargumen. Ketika tahu-thau muncul, bahkan skemanya ingin meloloskan ke empat persen, kan itu. Kita sama-sama tahu dan sama-sama paham bahwa pemilu kita banyak persoalan, banyak masalah," jelasnya kepada Akurat.co, Minggu (3/3/2024).
Karena hal itu, bisa saja ada pihak-pihak yang diberikan sanksi. Jika memang benar PSI dengan partai-partai yang meraih suara rendah bermain mata.
Baca Juga: Dugaan Lonjakan Suara PSI Patut Dicurigai, Publik Tak Wajib untuk Percaya
"Kalau itu terjadi, bahaya. Kalau itu dilakukan, bahaya. Saya sih melihatnya malu. Sama-sama menjaga demokrasi saja, jaga suara rakyat dengan pemilu yang benar, halal dan tidak curang," katanya.
Lebih lanjut, Ujang mempertanyakan, untuk apa diadakan pemilu jika memang dilakukan dengan cara yang tidak halal atau melanggar aturan.
Sama halnya dengan membajak demokrasi, membajak suara rakyat dan kedaulatan rakyat.
"Kita berharap pemilunya aman damai. Tinggal nanti jangan sampai ada kecurangan, jangan sampai ada operasi saja, itu saja. Karena untuk menjaga suara rakyat itu dilakukan dengan cara yang baik," tutup Ujang yang juga Direktur Indonesia Political Review (IPR).
Baca Juga: Catat, Lonjakan Suara PSI Bukan Akibat Jokowi Effect
Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) KPU per Minggu pukul 14.00 WIB mencatat perolehan suara PSI menjadi 2.403.210 atau 3,13 persen.
Dari 65,80 persen suara yang masuk ke KPU, PSI makin mendekati parliamentary threshold empat persen sebagai syarat untuk memperoleh kursi di Senayan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini







