Akurat Logo

Ganjar Soroti Pelanggaran MK dan KPU: Demokrasi Sedang Tidak Baik-baik Saja

Paskalis Rubedanto | 9 Februari 2024, 12:52 WIB
Ganjar Soroti Pelanggaran MK dan KPU: Demokrasi Sedang Tidak Baik-baik Saja

AKURAT.CO Calon presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo menyoroti sejumlah pelanggaran yang terjadi di Mahkamah Konstitusi (MK) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU), serta suara masyarakat sipil yang semakin tidak didengarkan.

Mantan Gubernur Jawa Tengah dua periode itu mengungkapkan kegelisahannya atas kondisi demokrasi di Indonesia, yang dinilai berjalan tidak sesuai nilai dan kaidah yang berlaku.

Baca Juga: Ketua KPU Divonis Bersalah DKPP, Jubir Timnas AMIN: Temuan Baru Bagi Mereka yang Menginginkan Transparansi dan Akuntabilitas

"Nah, kalau MK-nya kena problem etika, KPU-nya kena problem. Etika apa yang mau dibicarakan dalam demokrasi kita, sebagai negara demokrasi yang cukup besar?" kata Ganjar, saat berbicara dalam Podcast 'Speak Up' milik Abraham Samad, Jumat, (9/2/2024).

"Dan, kemudian ya peringatan kemarin. Satu, dua dan tiga enggak didengarkan. Kampus bicara, tokoh agama bicara. Semuanya bicara. Maka, ini sebenarnya gejala yang nampak bahwa demokrasi tidak baik-baik saja," tambah Ganjar.

Menurutnya, bagi setiap orang yang memang merasa bahwa demokrasi sudah keluar jalur, harus segera menyuarakan dan mengingatkan, serta pemerintah harus mendengarkan agar demokrasi tidak semena-mena dipertaruhkan.

"Bagi yang merasa punya nilai dan melihat ini sedang berjalan di jalan atau rel yang keliru. Dia berbicara, mengingatkan. Dan, peringatan ini, mustinya didengarkan atau kita sedang mempertaruhkan demokrasi kita," tutur Ganjar.

Pada kesempatan yang sama, politisi PDIP itu juga menjawab pertanyaan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad terkait pernyataan penutupnya pada debat Capres terakhir.

Saat menyampaikan pernyataan penutup dalam debat terakhir, Ganjar mengingatkan kembali pesan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Debat Capres 2019, untuk tidak memilih pemimpin yang diktator dan memiliki rekam jejak pelanggaran HAM.

"Itu yang disampaikan Pak Jokowi ya. Saya sebenarnya mengutip saja. Maksud saya, gini Pak Abraham, agar kita tidak pendek ingatan. Kita jangan mudah lupa. Jangan amnesia dan ada fakta, ada jejak digital," jelasnya.

Baca Juga: Ganjar Singgung Jenderal Mencla Mencle, TPN: Sangat Berdasar

Dia kemudian merujuk pada salah satu filosofi Jawa, bahwa setiap orang seharusnya berbuat sesuai perkataan dan pikirannya.

"Agar minimal diri kita sendiri ingat, pikiran, perkataan dan perbuatan kita sama. Kalau bahasa orang tua kampung kami, ya jangan sore esok dele, sore tempe malamnya apa Pak? Tempe bosok. Jangan sampai begitu," ujarnya.

"Saya hanya mengingatkan dan saya mengquote bahwa pernah loh suatu ketika Presiden Joko Widodo dalam debat capres 2019 menyoroti pentingnya menghindari calon pemimpin yang memiliki rekam jejak pelanggaran HAM, tindakan otoriter, kekerasan, atau korupsi. Dan, sebaiknya memilih pemimpin yang memiliki integritas, komitmen terhadap demokrasi," pungkas Ganjar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.