Akurat Logo

Mahfud MD: Pilih yang Terbaik atau yang Paling Sedikit Kejelekannya

Paskalis Rubedanto | 19 Desember 2023, 09:01 WIB
 Mahfud MD: Pilih yang Terbaik atau yang Paling Sedikit Kejelekannya

AKURAT.CO Salah satu upaya membela bangsa adalah merawat demokrasi dengan cara melaksanaan pemilu yang sehat.

Demikian disampaikan Menko Polhukam yang juga calon wapres nomor urut 03, Mahfud MD, dalam orasi kebangsaan di Universitas Bung Hatta (UBH), Padang, pada Senin (18/12/2023).

"Negara demokrasi kalau tidak ada pemilu maka tidak bisa disebut negara demokrasi. Konstitusi itu membatasi wilayah kekuasaan dan waktu, rutin mengevaluasi kepemimpinan secara," katanya.

Menurut Menteri Pertahanan era Presiden Gus Dur itu, pemilu yang digelar secara rutin untuk mengedepankan kepentingan negara di atas golongan. Kepentingan negara dan bangsa harus nomor satu. Sebab dalam setiap pelaksanaan pemilu punya potensi perpecahan makanya harus diselenggarakan tanpa diskriminasi.

"Ini ajakan untuk memilih pemimpin bersama, bukan mengeliminir musuh. Bersatu setelah bertarung, siapapun terpilih, itu pemimpin kita," imbaunya.

Mahfud mengajak mahasiswa turut aktif dalam gelaran pemilu. Jangan berpikir tidak ada calon yang bagus, pilih yang terbaik atau yang paling sedikit kejelekannya.

Menurut dia, pemilu bukanlah memilih orang sempurna tetapi memperkecil peluang orang jahat memimpin. Orang, memilih maupun tak memilih, hasilnya akan jadi pemimpin dan tunduk pada kebijakan.

Baca Juga: KTP Sakti Ganjar-Mahfud Bakal Lanjutkan dan Perbaiki Program-program Jokowi

Orang yang apatis bisa menjadi korban keputusan politik. Tak ada orang yang tidak terikat keputusan politik yang menang.

"Jangan bilang ogah ikut politik," katanya.

Mahfud mengimbau pemilu harus diselenggarakan dengan jujur dan adil, bebas, rahasia dan tidak boleh ada paksaan. Jika tidak maka akan menimbulkan kekacauan.

"Jangan mau diteror, ditekan, apalagi mau dibeli suaranya. Menurut ajaran agama, orang yang memilih karena disuap, tidak sesuai dengan hati nurani, itu seperi binatang. Nuraninya tidak hidup. Ingin milih itu, dikasih uang jadi berubah, jadi dia tidak pakai nurani. Punya mata dan telinga tapi tidak melihat dan mendengar kebenaran," jelasnya.

Dia pun mengajak mahasiswa menjadi pemilih rasional. Cari pemimpin yang mau berdebat dan beradu visi dan misi. Yang tak kalah pentingnya juga melihat rekam jejak calon.

Mahfud juga menyinggung perbedaan politik identitas dan identitas politik. Kedua istilah itu punya perbedaan signifikan. Politik identitas cara berpolitik yang mengutamakan kelompok primordial untuk menganggap pihak lain sebagai lawan atau musuh. Sebaliknya, identitas politik diperbolehkan. Contohnya, pemeluk muslim memilih calon dari barisan Islam dengan harapan aspirasinya ditampung oleh calon tersebut.

Baca Juga: TPN Ganjar-Mahfud Tegaskan Program Bansos Tidak Akan Dihapuskan

"Misalnya saya dari etnis Minangkabau, maka saya memilih calon dari etnis Minangkabau, itu dibolehkan. Yang tidak diperbolehkan itu ialah orang Minangkabau memilih orang Minangkabau dengan tujuan menghabisi etnis lain apabila calon yang diusungnya terpilih," terang mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu, dikutip dari siaran pers TPN Ganjar-Mahfud, Selasa (19/12/2023).

Saat kampanye di Kota Padang, Mahfud menyempatkan salat Subuh berjemaah di Masjid Al Hakim Islamic Center bersama Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi Ansharullah.

Mahfud juga mengunjungi Gedung Long See Tong, Perkumpulan Keluarga Lie-Kwee di Kota Padang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.