AKURAT.CO Imparsial menilai Presiden Jokowi sebagai perusak demokrasi Indonesia. Majunya Gibran Rakabuming menjadi cawapres, dan sikap Jokowi yang seolah menikmati putranya berkompetisi dengan cara tak wajar, menjadi puncak gunung es kemunduran demokrasi.
Direktur Imparsial, Gufron Mabruri menilai, putusan MK yang menambah norma syarat capres-cawapres menjadi alarm bahaya untuk demokrasi. Celakanya, Presiden Jokowi tidak menangkap sinyal itu dan malah menari di atasnya.
"Alih-alih memperbaiki kondisi demokrasi di Indonesia, menjelang akan berakhir masa periode jabatan yang kedua, Presiden Jokowi semakin mempertontonkan dirinya sebagai perusak demokrasi dengan berupaya membangun politik dinasti yang sarat dengan praktik kolusi dan nepotisme melalui pencawapresan anaknya, Gibran," kata Gufron, di Jakarta, Jumat (3/11/2023).
Baca Juga: Gibran Jadi Cawapres, Buah Jokowi Bajak Demokrasi
Dirinya mengingatkan, situasi yang terjadi di Indonesia disorot media asing. Media Jerman Handesblatt dan Time yang berbasis di AS bahkan sudah mengingatkan politik dinasti yang dibangun Jokowi, merusak dan membuat mundur bahkan mematikan demokrasi di Indonesia.
"Kami memandang, kondisi kemunduran demokrasi di Indonesia yang menjadi sorotan dua media asing tersebut merupakan persoalan politik yang nyata-nyata terjadi dan sulit untuk dibantah, terutama jika mencermati dinamika politik elektoral tahun 2024," tuturnya.
Pro Demokrasi
Imparsial mendorong aktifnya gerakan pro-demokrasi untuk menahan situasi, dan mengoreksi semua kebijakan Presiden Jokowi, yang dianggap membuat demokrasi yang dicapai melalui aksi 1998 berjalan mundur.
Baca Juga: Syarat Usia Capres-cawapres Diputus Pekan Depan, Nasib Demokrasi Di Palu MK
Gufron meyakini pula kemunduran demokrasi yang terjadi sekarang ini jangan sampai dibiarkan, karena bisa berimplikasi pada tingkat kebebasan di Indonesia, sebagaimana yang telah disuarakan oleh pakar dan analis politik dari dalam maupun luar negeri.
"Mengingat demokrasi merupakan capaian politik yang diperjuangkan dengan susah payah pada tahun 1998 dan harus terus dipertahankan. Untuk merespons hal tersebut, dibutuhkan adanya bangunan gerakan pro demokrasi untuk menyelamatkan demokrasi dari kemunduran," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit









