Habiburokhman: Kritik Gatot Nurmantyo ke Kapolri Berpotensi Melemahkan Pemerintahan Prabowo

AKURAT.CO Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menilai, kritik Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo terhadap sikap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berpotensi memperlemah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Gatot sebelumnya mengkritik pernyataan Kapolri yang menolak wacana penempatan institusi Polri di bawah kementerian.
Menanggapi hal itu, Habiburokhman menduga narasi yang disampaikan Panglima TNI periode 2015–2017 tersebut memiliki muatan politis.
“Narasi Pak Gatot tersebut sepertinya mau memperlemah pemerintahan Presiden Prabowo,” kata Habiburokhman kepada Akurat.co, Sabtu (31/1/2026).
Ia menegaskan, Presiden Prabowo telah menyampaikan pandangan bahwa posisi ideal Polri berada langsung di bawah kendali Presiden. Skema tersebut dinilai penting untuk memudahkan penyampaian arahan dan pengambilan keputusan.
“Kita tahu Pak Prabowo pernah menegaskan bahwa posisi ideal Polri adalah di bawah kendali Presiden langsung, agar lebih mudah penyampaian arahan,” ujarnya.
Habiburokhman menilai, jika Polri tidak berada langsung di bawah Presiden, rantai komando akan menjadi lebih panjang dan berpotensi menghambat efektivitas kepemimpinan nasional.
Baca Juga: Menhan Bongkar Pertemuan Prabowo dengan Tokoh Oposisi, Klaim Tak Ada Lagi Sekat Politik
“Kalau Polri tidak di bawah Presiden langsung maka rantai komando akan menjadi lebih panjang sehingga akan sulit bagi Presiden untuk memberikan arahan,” jelasnya.
Ia menambahkan, penempatan Polri di bawah Presiden memiliki dasar konstitusional dan sejalan dengan amanat reformasi. Ketentuan tersebut tercantum dalam Pasal 30 ayat (4) UUD 1945 serta Pasal 7 Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000.
“Posisi Polri di bawah Presiden langsung sudah sesuai dengan amanat reformasi,” tegasnya.
Sebelumnya, dalam sebuah video yang beredar di media sosial, Gatot menyebut pernyataan Kapolri yang menyatakan siap mundur menjadi petani jika Polri tidak lagi berada di bawah Presiden sebagai bentuk ancaman.
Ia juga menyoroti perintah Kapolri kepada jajarannya untuk mempertahankan posisi institusi Polri.
Menurut Gatot, pernyataan tersebut mencerminkan tekanan kekuasaan dan menjadi alarm darurat bagi demokrasi.
“Itu yang disampaikan Kapolri itu bahasa konflik, bahasa tekanan kekuasaan, bahasa intimidasi. Ini puncak dari tiga kali pembangkangan kebijakan terhadap negara oleh Kapolri,” ujar Gatot dalam video tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit







