Akurat Logo

Penyebab Koalisi Perubahan NasDem, PKS dan Demokrat Batal Deklarasi di Hari Pahlawan

| 11 November 2022, 13:42 WIB
Penyebab Koalisi Perubahan NasDem, PKS dan Demokrat Batal Deklarasi di Hari Pahlawan

AKURAT.CO, Analis Politik Arifki Chaniago menyebut beberapa penyebab deklarasi koalisi perubahan yang digagas NasDem, PKS dan Demokrat gagal dideklarasikan di Hari Pahlawan, 10 November kemarin. Di antaranya, belum ada kesepahaman tentang sosok calon wakil presiden yang diusung menemani Anies Baswedan sebagai calon presiden.

"Demokrat ingin usung AHY, sebaliknya PKS ingin duetkan Anies dengan Aher. Kesepakatan ini bisa terlaksana lebih cepat jika salah satu partai mengalah atau menerima tawaran lain sebagai pemimpin koalisi, serta jumlah kursi menteri yang lebih besar jika koalisi perubahan menang," kata Arifki dalam keterangan tertulis, Jumat (11/11/2022).

"Koalisi pendukung Anies masih mencari titik temu, terutama penentuaan kursi cawapres. Paling tidak harus ada yang mengalah. Mungkin saja dengan adanya jaminan sebagai pemimpin koalisi atau jatah menteri yang lebih besar. Ya, deal-dealnya pasti berada di ranah itu," tambahnya.

Kemudian Demokrat, NasDem dan PKS mencari momentum tepat lainnya untuk melakukan deklarasi seiring belum diumumkannya capres dari PDIP dan Koalisi Indonesia Bersatu. Arifki mengatakan sekalipun cawapres dari Koalisi Perubahan sudah diputuskan, mereka tetap akan menyimpannya dan baru diumumkan pada saat yang tepat, sehingga tetap menjadi bahan percakapan pada momentum puncaknya. 

Ketiga, penentuaan cawapres berhubungan dengan basis wilayah. Nama-nama yang muncul sebagai kandidat cawapres yakni Ridwan Kamil, Ahmad Heriawan atau Aher, Khofifah Indarparawansa, Muhamini Iskandar, dan Agus Harimurti Yudhyono atau AHY, yang dukungan suara mereka berasal dari daerah yang sama yakni dari Jawa Barat dan Jawa Timur. 

Arifki Chaniago yang juga Direktur Eksekutif Aljabar Strategic menilai, Koalisi Perubahan lebih sibuk ke dalam menemukan titik temu diantara ketiga partai, terutama antara Demokrat dan PKS. Jika pontensi PKS dan Demokrat pindah ke partai lain maka hal ini menjadi langkah yang sulit. 

"Ini tidak hanya menjauhkan pemilihnya dari harapan terhadap figur yang diusung, hal lainnya juga berdampak pada lemah daya tawar PKS dan Demokrat di partai lain karena datangnya belakangan," katanya.

Di sisi lain menurutnya, Koalisi Perubahan sulit retak dilihat dari kenyamanan PKS dan Demokrat tidak punya pilihan lain kecuali mendukung Anies sebagai capres. Namun di balik dari berbagai kepentingan mendapatkan efek ekor jas Pemilu 2024, kedua partai ini tentu mempertimbangkan capres yang diusung. 

"Dampak elektoral dan keinginan untuk memenangkan Pilpres tentu lebih besar dari berbagai tawaran lain yang cendrung berpotensi merusak koalisi," pungkasnya.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

O
Editor
Oktaviani