Akurat Logo

Penyebab Gerhana Bulan dan Proses Terjadinya, Kenapa Tidak Muncul Setiap Bulan?

Idham Nur Indrajaya | 25 Agustus 2026, 07:35 WIB
Penyebab Gerhana Bulan dan Proses Terjadinya, Kenapa Tidak Muncul Setiap Bulan?
Ilustrasi gerhana bulan - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Bayangkan sedang melihat Bulan purnama yang terang, lalu perlahan sebagian permukaannya berubah gelap hingga pada kondisi tertentu tampak merah. Fenomena tersebut bukan sekadar perubahan warna biasa, melainkan akibat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan yang berada dalam konfigurasi tertentu. Lantas, apa sebenarnya penyebab gerhana bulan dan mengapa fenomena ini tidak terjadi setiap kali Bulan purnama?

Gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga bayangan Bumi jatuh ke permukaan Bulan. Fenomena ini hanya dapat berlangsung saat fase Bulan purnama dan ketika posisi ketiga benda langit cukup sejajar. Namun, kemiringan orbit Bulan membuat tidak setiap Bulan purnama menghasilkan gerhana.

Ringkasan

Penyebab gerhana bulan adalah masuknya Bulan ke dalam bayangan Bumi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam posisi yang hampir segaris. Bumi menghalangi sebagian cahaya Matahari yang seharusnya menerangi permukaan Bulan. Akibatnya, Bulan tampak lebih gelap, sebagian tertutup bayangan, atau berubah kemerahan pada gerhana total.

Secara sederhana, ada tiga kondisi penting yang memungkinkan gerhana bulan terjadi:

  • Bulan sedang berada pada fase purnama.

  • Bumi berada di antara Matahari dan Bulan.

  • Bulan melintasi daerah bayangan Bumi.

Jadi, gerhana bulan bukan terjadi karena Bulan tiba-tiba kehilangan cahayanya. Perubahan penampakannya merupakan konsekuensi dari geometri Matahari, Bumi, dan Bulan.

Bagaimana proses terjadinya gerhana bulan?

Untuk memahami prosesnya, bayangkan Matahari sebagai sumber cahaya, Bumi sebagai benda yang menghalangi cahaya tersebut, dan Bulan sebagai benda yang berada di belakang Bumi.

Ketika cahaya Matahari bergerak menuju Bumi, tubuh Bumi menghalangi sebagian cahaya tersebut. Di sisi yang berlawanan dengan Matahari kemudian terbentuk daerah bayangan.

Jika Bulan bergerak memasuki daerah bayangan itu, cahaya Matahari yang biasanya menerangi permukaannya menjadi terhalang. Dari Bumi, perubahan tersebut terlihat sebagai gerhana bulan.

Urutannya dapat digambarkan seperti ini:

Matahari → Bumi menghalangi cahaya → terbentuk bayangan Bumi → Bulan memasuki bayangan → terjadi gerhana bulan.

Namun, posisi Bulan tidak selalu tepat berada di tengah bayangan Bumi. Karena itulah penampakan gerhana dapat berbeda-beda.

Mengapa gerhana bulan terjadi saat Bulan purnama?

Gerhana bulan hanya mungkin terjadi ketika Bulan berada dalam fase purnama karena pada fase tersebut posisi Bulan berada berlawanan dengan Matahari jika dilihat dari Bumi.

Dalam kondisi normal, cahaya Matahari mengenai sisi Bulan yang menghadap Bumi sehingga permukaannya terlihat terang. Jika pada saat yang sama Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, Bumi berpotensi menghalangi cahaya tersebut.

Akan tetapi, Bulan purnama bukan berarti gerhana bulan pasti terjadi.

Inilah salah satu hal yang sering disalahpahami. Setiap bulan kita dapat mengalami fase purnama, tetapi gerhana hanya muncul ketika posisi Bulan juga berada di jalur yang memungkinkan bayangan Bumi mengenainya.

Kenapa gerhana bulan tidak terjadi setiap Bulan purnama?

Alasan utamanya adalah orbit Bulan miring sekitar 5 derajat terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari.

Sekilas, jika Bulan purnama terjadi setiap bulan dan gerhana membutuhkan Bulan purnama, seharusnya gerhana juga muncul setiap bulan. Kenyataannya tidak demikian karena Bulan tidak selalu melewati bayangan Bumi.

Pada sebagian besar Bulan purnama, Bulan bergerak sedikit di atas atau di bawah bayangan Bumi. Dengan kata lain, Matahari, Bumi, dan Bulan memang berada dalam konfigurasi purnama, tetapi ketiganya tidak cukup sejajar untuk menghasilkan gerhana.

Gerhana baru dapat terjadi ketika Bulan purnama berada dekat titik perpotongan bidang orbit Bulan dengan bidang orbit Bumi. Area tersebut sering disebut sebagai simpul orbit.

Karena itu, faktor penentunya bukan sekadar fase Bulan, melainkan kombinasi antara fase purnama dan posisi orbit Bulan.

Ilustrasi sederhananya

Misalnya sebuah lampu digunakan sebagai Matahari dan sebuah bola besar sebagai Bumi. Ketika bola kecil yang menjadi Bulan berada tepat di belakang bola besar, bola besar akan menghasilkan bayangan yang mengenai bola kecil.

Namun, jika bola kecil bergerak sedikit ke atas atau ke bawah, bayangan bola besar tidak lagi mengenainya.

Begitu pula yang terjadi di ruang angkasa. Bulan terus mengorbit Bumi, tetapi lintasannya tidak benar-benar berada pada bidang yang sama dengan lintasan Bumi mengelilingi Matahari.

Baca Juga: Dua Gerhana Hiasi Langit Dunia pada Agustus 2026, Ini Negara yang Bisa Melihat Fenomena Langka

Baca Juga: Niat dan Urutan Salat Gerhana Bulan: Panduan Singkat untuk Pemula

Apa hubungan umbra dan penumbra dengan gerhana bulan?

Bayangan Bumi tidak hanya terdiri dari satu bagian. Secara sederhana, terdapat umbra dan penumbra yang berperan dalam menentukan jenis gerhana.

Umbra merupakan bagian bayangan Bumi yang paling gelap. Ketika Bulan memasuki wilayah ini, cahaya Matahari yang langsung mengenainya jauh lebih banyak terhalang.

Sementara itu, penumbra merupakan bagian bayangan yang lebih samar. Bulan yang hanya melewati penumbra biasanya mengalami perubahan kecerahan yang jauh lebih sulit diamati.

Posisi Bulan terhadap kedua wilayah bayangan tersebut kemudian menghasilkan beberapa jenis gerhana.

Apa saja jenis gerhana bulan?

Gerhana bulan total

Gerhana bulan total terjadi ketika seluruh permukaan Bulan yang terlihat dari Bumi masuk ke dalam umbra Bumi.

Pada kondisi ini, Bulan tidak sepenuhnya menghilang. Justru, Bulan dapat terlihat berwarna merah atau jingga sehingga sering disebut secara populer sebagai blood moon.

Gerhana bulan sebagian

Gerhana bulan sebagian terjadi ketika hanya sebagian Bulan masuk ke dalam umbra Bumi.

Dari permukaan Bumi, kondisi tersebut membuat sebagian permukaan Bulan tampak gelap, sementara bagian lainnya masih terlihat terang.

Gerhana bulan penumbra

Gerhana bulan penumbra terjadi ketika Bulan melewati daerah penumbra Bumi tanpa memasuki umbra secara signifikan.

Perubahan cahayanya cenderung lebih samar dibandingkan gerhana sebagian maupun total. Karena itu, fenomena ini juga lebih sulit dikenali secara kasatmata.

Kenapa Bulan berubah menjadi merah saat gerhana total?

Warna merah pada gerhana bulan total sering dianggap sebagai bagian paling misterius dari fenomena ini. Padahal, penyebabnya dapat dijelaskan melalui interaksi cahaya Matahari dengan atmosfer Bumi.

Meskipun Bumi menghalangi cahaya Matahari, sebagian cahaya masih dapat melewati atmosfer Bumi sebelum dibelokkan menuju Bulan.

Atmosfer Bumi lebih banyak menyebarkan cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek, seperti biru. Sementara itu, cahaya merah dan jingga lebih mampu melewati atmosfer dan mencapai permukaan Bulan.

Akibatnya, ketika gerhana total berlangsung, Bulan dapat terlihat kemerahan dari Bumi.

Warna tersebut tidak selalu memiliki intensitas yang sama. Kondisi atmosfer, termasuk keberadaan debu dan partikel dari aktivitas seperti letusan gunung berapi, dapat memengaruhi seberapa gelap atau merah penampakan Bulan.

Apakah gerhana bulan berbahaya untuk dilihat?

Berbeda dengan gerhana Matahari, gerhana bulan dapat diamati dengan mata telanjang dan secara umum tidak memerlukan pelindung mata khusus.

Pengamat juga tidak membutuhkan teleskop untuk melihat fenomenanya. Namun, penggunaan binokular atau teleskop dapat membantu memperlihatkan detail permukaan Bulan dan perubahan bayangan dengan lebih jelas.

Hal yang perlu dibedakan adalah fenomena gerhana itu sendiri dengan mitos yang berkembang di masyarakat.

Gerhana bulan tidak memiliki dasar ilmiah sebagai penyebab langsung penyakit tertentu atau bahaya khusus bagi ibu hamil. Berbagai anggapan semacam itu lebih berkaitan dengan tradisi dan kepercayaan budaya.

Mitos gerhana bulan dari berbagai budaya

Sebelum astronomi modern berkembang, masyarakat di berbagai wilayah memiliki cara masing-masing untuk menjelaskan mengapa Bulan tiba-tiba menghilang atau berubah warna.

Ada kebudayaan yang menganggap gerhana sebagai tanda bencana. Ada pula cerita tentang makhluk tertentu yang sedang memakan Bulan atau benda langit tersebut sedang mengalami gangguan.

Salah satu kisah sejarah yang terkenal melibatkan Christopher Columbus pada 1504. Berdasarkan narasi sejarah yang sering dikutip, Columbus memanfaatkan pengetahuannya mengenai prediksi gerhana bulan untuk menakut-nakuti penduduk Jamaika. Ia menggambarkan Bulan yang berubah merah sebagai pertanda kemarahan dewa agar memperoleh bantuan makanan bagi rombongannya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa fenomena astronomi yang sama dapat memiliki makna sosial berbeda sebelum manusia memahami mekanisme ilmiahnya.

Saat ini, penyebab gerhana bulan dapat dijelaskan melalui pergerakan dan posisi benda-benda langit, bukan melalui pertanda supernatural.

Apakah gerhana bulan memengaruhi pasang surut air laut?

Bulan memang memiliki peran penting dalam fenomena pasang surut air laut karena gaya gravitasinya memengaruhi massa air di Bumi.

Namun, perlu dibedakan antara pengaruh gravitasi Bulan terhadap pasang surut dan gerhana bulan sebagai penyebab pasang surut.

Gerhana bukan penyebab utama pasang surut. Pasang surut tetap terjadi sebagai bagian dari interaksi gravitasi Bumi, Bulan, dan Matahari.

Kesalahan menghubungkan keduanya sering muncul karena gerhana bulan berlangsung ketika Bulan berada dalam fase purnama, yaitu salah satu kondisi ketika konfigurasi gravitasi Matahari dan Bulan juga berkontribusi terhadap pola pasang surut tertentu.

Apa kesalahan paling umum saat menjelaskan gerhana bulan?

Ada beberapa anggapan yang perlu diluruskan:

Pertama, setiap Bulan purnama pasti mengalami gerhana. Faktanya, kemiringan orbit Bulan membuat sebagian besar Bulan purnama tidak melewati bayangan Bumi.

Kedua, Bulan menghasilkan cahaya sendiri. Cahaya Bulan yang terlihat dari Bumi merupakan pantulan cahaya Matahari.

Ketiga, Bulan benar-benar berubah menjadi merah. Warna kemerahan saat gerhana total merupakan efek cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi.

Keempat, gerhana bulan selalu total. Gerhana dapat berbentuk total, sebagian, atau penumbra bergantung pada lintasan Bulan melewati bayangan Bumi.

Kesalahan-kesalahan tersebut sebenarnya menunjukkan satu hal penting: memahami gerhana bulan tidak cukup hanya dengan mengetahui bahwa Bumi berada di antara Matahari dan Bulan.

Jadi, apa kunci memahami penyebab gerhana bulan?

Kunci utamanya adalah posisi dan geometri tiga benda langit: Matahari, Bumi, dan Bulan.

Gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, Bulan sedang purnama, dan posisi orbitnya memungkinkan Bulan masuk ke dalam bayangan Bumi.

Karena orbit Bulan miring sekitar 5 derajat, Bulan biasanya melewati sedikit di atas atau di bawah bayangan Bumi. Itulah alasan mengapa Bulan purnama dapat terjadi setiap bulan tanpa selalu disertai gerhana.

Dengan memahami prinsip tersebut, fenomena yang awalnya terlihat misterius menjadi jauh lebih masuk akal. Bulan yang menggelap, berubah merah, hingga kembali terang merupakan rangkaian akibat dari posisi benda langit dan perjalanan cahaya.

Baca Juga: Ada Gerhana Bulan Sebagian Akhir Agustus 2026, Ini Daftar Wilayah yang Bisa Melihat

Baca Juga: Gerhana Matahari 2027: Ada 'Cincin Api' dan Gerhana Total hingga 6 Menit

FAQ

Apa penyebab utama gerhana bulan?

Penyebab utama gerhana bulan adalah posisi Bumi yang berada di antara Matahari dan Bulan sehingga bayangan Bumi jatuh ke permukaan Bulan. Fenomena tersebut hanya dapat terjadi ketika Bulan berada pada fase purnama dan posisinya cukup dekat dengan bidang yang memungkinkan Bulan melewati bayangan Bumi.

Mengapa gerhana bulan hanya terjadi saat Bulan purnama?

Gerhana bulan hanya dapat terjadi saat Bulan purnama karena pada fase tersebut Bulan berada di sisi berlawanan dari Matahari jika dilihat dari Bumi. Posisi ini memungkinkan Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, meskipun gerhana tetap membutuhkan kesejajaran orbit yang tepat.

Mengapa tidak setiap Bulan purnama terjadi gerhana bulan?

Tidak setiap Bulan purnama menghasilkan gerhana karena orbit Bulan miring sekitar 5 derajat terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari. Akibatnya, pada sebagian besar purnama, Bulan melewati sedikit di atas atau di bawah bayangan Bumi.

Mengapa Bulan terlihat merah ketika gerhana total?

Bulan dapat terlihat merah saat gerhana total karena sebagian cahaya Matahari melewati atmosfer Bumi sebelum mencapai permukaan Bulan. Atmosfer lebih banyak menyebarkan cahaya biru, sedangkan cahaya merah dan jingga lebih mudah diteruskan dan dibelokkan menuju Bulan.

Apa perbedaan gerhana bulan total dan sebagian?

Gerhana bulan total terjadi ketika seluruh Bulan memasuki umbra Bumi, sedangkan gerhana sebagian hanya membuat sebagian permukaan Bulan masuk ke wilayah umbra. Perbedaan posisi tersebut menyebabkan tingkat kegelapan yang terlihat dari Bumi juga berbeda.

Apakah gerhana bulan aman dilihat dengan mata telanjang?

Gerhana bulan pada umumnya aman diamati langsung dengan mata telanjang. Pengamat tidak memerlukan kacamata khusus seperti pada pengamatan langsung terhadap Matahari, meskipun binokular atau teleskop dapat digunakan untuk melihat detail permukaan Bulan.

Apakah gerhana bulan bisa diprediksi?

Gerhana bulan dapat diprediksi karena pergerakan Bumi dan Bulan mengikuti pola orbit yang dapat dihitung. Astronom dapat memperkirakan kapan Bulan akan berada pada posisi yang memungkinkan bayangan Bumi mengenainya, termasuk menentukan jenis dan waktu berlangsungnya gerhana.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.