Perbedaan Drama dan Teater: Pengertian, Cara Penyajian, dan Unsur-Unsur yang Membedakannya

AKURAT.CO Apakah ada perbedaan antara karya sastra drama dan seni teater? Drama dan teater sering dianggap sebagai dua hal yang sama, padahal keduanya memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Keduanya memang sama-sama menyuguhkan kisah lewat dialog, gerak, serta peran para aktor, tetapi cara penyajian, bentuk dasar, hingga proses kreatifnya tidak sepenuhnya identik. Memahami perbedaan ini penting, terutama bagi kamu yang sedang mempelajari seni pertunjukan, menonton pementasan, atau sekadar ingin tahu bagaimana sebuah cerita hidup di atas panggung.
Artikel ini akan mengulas secara lengkap pengertian drama dan teater, bagaimana keduanya berkembang, serta apa saja perbedaan di antara keduanya berdasarkan sumber-sumber tepercaya.
Pengertian Drama dan Teater
Drama dan teater sama-sama memiliki akar dari kebudayaan Yunani Kuno, tetapi keduanya berkembang menjadi dua konsep yang berbeda.
Apa Itu Teater?
Teater sering dipahami sebagai sebuah gedung pertunjukan atau panggung. Namun secara historis, istilah ini berasal dari kata theatron, yang berarti “tempat untuk melihat”. Dulu, teater merupakan bagian dari ritual pemujaan dewa-dewi Yunani sebelum akhirnya berkembang menjadi seni pertunjukan yang lebih luas.
Beberapa ahli menggambarkan teater dengan cakupan berbeda:
-
Oemarjati menjelaskan bahwa teater pada masa awal adalah bagian dari upacara keagamaan.
-
Turahmat memberikan batasan lebih luas dengan menyebut bahwa teater mencakup segala bentuk pertunjukan yang dilakukan di depan khalayak.
-
Dalam arti yang lebih sempit, Turahmat menyatakan bahwa teater merujuk pada drama yang dipentaskan melalui percakapan, gerak, dan tingkah laku aktor.
Teater sangat menekankan interpretasi sutradara, kemampuan akting, tata artistik, serta pengalaman visual dan audio yang dialami penonton. Oleh sebab itu, aktor teater perlu menguasai teknik dasar akting dan menjalani latihan intensif sebelum naik panggung.
Apa Itu Drama?
Drama juga berasal dari bahasa Yunani draomai, yang berarti “bergerak” atau “beraksi”. Secara etimologis, istilah ini kerap dikaitkan dengan aktivitas melakukan atau bertindak—yang kemudian berkembang menjadi bentuk karya sastra yang ditujukan untuk dipentaskan.
Beberapa ahli memiliki pendekatan berbeda dalam mendefinisikan drama:
-
Hasanuddin WS menyebut drama sebagai cerita atau tiruan perilaku manusia yang dipentaskan, sehingga aspek pementasannya sangat menonjol.
-
Wiyanto menjelaskan bahwa drama merupakan kisah kehidupan manusia di masyarakat yang diproyeksikan ke panggung. Namun drama tetap dianggap sebagai karya sastra karena naskahnya bisa dibaca dan diapresiasi tanpa harus dipentaskan.
Dengan kata lain, drama berada di antara dua dunia: ia adalah karya sastra, tetapi juga bahan dasar bagi seni pertunjukan teater.
Perbedaan Drama dan Teater
Meskipun berkaitan erat dan saling melengkapi, drama dan teater memiliki ciri serta fungsi yang tidak sama. Berikut penjelasan lengkap yang dirangkum dari berbagai sumber otoritatif seperti Freshnote, Pediaa, dan Theater Nook.
1. Bentuk Dasar Karya dan Media Penyajian
Drama merupakan karya sastra. Ia hadir dalam bentuk teks yang bisa dibaca kapan saja, baik dipentaskan maupun tidak. Teater adalah bentuk pertunjukan langsung. Ia membutuhkan naskah drama sebagai dasar cerita, tetapi menambahkan unsur visual, musik, tata cahaya, dan interpretasi penyutradaraan.
Pementasan drama bisa dilakukan di tempat sederhana, ruang kelas, atau area bebas. Sementara teater biasanya membutuhkan panggung yang terstruktur, lengkap dengan sistem pencahayaan, tata suara, serta properti artistik.
2. Fokus Utama dalam Penyajiannya
Drama lebih menitikberatkan pada isi cerita—tema, alur, konflik, dan karakter. Pembaca atau penonton dapat menikmati drama melalui kekuatan naratif pada naskahnya.
Teater berfokus pada bagaimana cerita tersebut diwujudkan di atas panggung. Akting, blocking, tata kostum, musik, dan atmosfer panggung menjadi bagian tak terpisahkan dalam pertunjukan teater.
3. Sumber Cerita
Drama biasanya mengambil inspirasi dari kehidupan sehari-hari, pengalaman manusia, atau isu sosial. Teater lebih luas karena dapat mengangkat cerita dari:
-
naskah drama,
-
mitologi,
-
legenda,
-
folklore,
-
cerita lama yang dimodifikasi ulang.
Dengan kata lain, teater tidak selalu bergantung pada satu jenis narasi tertentu.
4. Interaksi dengan Penonton
Drama menyampaikan cerita melalui bahasa dan konflik antartokoh, sehingga hubungan dengan penonton terjadi secara emosional dan naratif.
Dalam teater, penonton lebih banyak menjadi pengamat yang menyaksikan interpretasi visual dari cerita. Interaksi langsung tidak selalu terjadi karena fokus utama ada pada pementasan, bukan dialog dengan penonton.
5. Sifat Penyajian
Drama bersifat statis. Naskahnya tidak berubah meskipun dibaca berkali-kali.
Teater bersifat dinamis. Setiap pementasan bisa berbeda karena adanya interpretasi baru dari sutradara, aktor, tata artistik, hingga energi penonton. Inilah yang membuat teater selalu terasa segar meski cerita sama.
6. Unsur-Unsur yang Terlibat
Drama menonjolkan gerak, dialog, dan konflik untuk menggambarkan kehidupan manusia. Teater memperluas unsur tersebut dengan tambahan:
-
musik,
-
tari,
-
nyanyian,
-
tata panggung,
-
dan komposisi visual lainnya.
Aktor dalam teater memikul tanggung jawab besar untuk menyampaikan cerita melalui interpretasi fisik, suara, dan ekspresi.
Kesimpulan: Apakah Drama dan Teater Itu Sama?
Drama dan teater sering kali berjalan berdampingan, tetapi keduanya bukanlah hal yang sama. Drama merupakan karya sastra yang berisi cerita, sedangkan teater adalah seni pertunjukan yang menghidupkan cerita tersebut di atas panggung. Perbedaan media penyajian, bentuk karya, peran aktor, hingga pendekatan kreatif membuat keduanya memiliki karakter unik dalam dunia seni.
Meski berbeda, drama dan teater saling melengkapi. Tanpa drama, teater kehilangan dasar cerita. Tanpa teater, drama kehilangan potensi visualnya.
Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan seputar seni pertunjukan dan informasi budaya lainnya, pantau terus update terbaru di AKURAT.CO.
Baca Juga: Angkatan Puisi Esai Lahir, Jawab Tantangan Sastra di Era AI dan Digital
FAQ
1. Apakah drama dan teater itu sama?
Tidak. Drama adalah karya sastra berupa naskah cerita, sedangkan teater adalah pementasan yang menghidupkan cerita tersebut di atas panggung.
2. Apa perbedaan utama antara drama dan teater?
Drama berfokus pada isi naskah, termasuk tema dan alur. Teater menekankan pada interpretasi visual dan pertunjukan, seperti akting, tata artistik, dan penyutradaraan.
3. Apakah drama harus selalu dipentaskan?
Tidak. Drama dapat dibaca dan diapresiasi tanpa dipentaskan karena bentuk dasarnya adalah teks sastra.
4. Apakah teater bisa dilakukan tanpa naskah drama?
Bisa. Teater dapat mengangkat kisah dari mitologi, legenda, folklore, atau cerita yang dikembangkan ulang, meski banyak pertunjukan teater tetap menggunakan naskah drama sebagai dasar.
5. Mengapa teater membutuhkan panggung khusus?
Karena teater memerlukan elemen visual seperti tata cahaya, tata suara, kostum, dan properti panggung yang mendukung keseluruhan pertunjukan.
6. Apakah interaksi penonton berbeda dalam drama dan teater?
Ya. Dalam drama, penonton menikmati cerita melalui dialog dan konflik tokoh. Dalam teater, penonton menyaksikan interpretasi visual dan akting yang kadang membuat mereka lebih menjadi pengamat.
7. Apa saja unsur yang ada di dalam teater?
Selain dialog dan gerak, teater melibatkan musik, tari, nyanyian, tata panggung, tata cahaya, serta interpretasi sutradara dan aktor.
8. Mengapa setiap pertunjukan teater bisa berbeda meskipun ceritanya sama?
Karena teater bersifat dinamis. Perbedaan aktor, penyutradaraan, improvisasi, hingga komposisi artistik dapat menghasilkan pengalaman pementasan yang unik setiap kali ditampilkan.
9. Dari mana drama biasanya mengambil cerita?
Drama umumnya bersumber dari kehidupan sehari-hari, pengalaman manusia, dan isu sosial yang dekat dengan penonton atau pembacanya.
10. Mengapa drama dianggap bagian dari karya sastra?
Karena drama ditulis dalam bentuk teks yang dapat dibaca seperti karya sastra lainnya, berisi struktur tokoh, alur, dialog, serta konflik yang disusun secara naratif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









