Perbedaan Experiential Learning dan Project-Based Learning: Konsep, Ciri, dan Contohnya

AKURAT.CO Meskipun sering dianggap serupa, Experiential Learning (pembelajaran berbasis pengalaman) dan Project-Based Learning (PjBL) sebenarnya memiliki perbedaan yang cukup jelas. Keduanya sama-sama menekankan pada keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar, tetapi memiliki fokus dan tujuan yang berbeda.
Secara umum, Experiential Learning adalah yang menekankan proses belajar melalui pengalaman langsung dan refleksi. Filosofi ini berasumsi bahwa pengetahuan paling efektif diperoleh ketika siswa terlibat secara aktif dalam aktivitas nyata dan kemudian merenungkan pengalaman tersebut.
Baca Juga: Siswa Sekolah Rakyat Tulis Surat Menyentuh untuk Presiden Prabowo
Sementara itu, Project-Based Learning merupakan metode pengajaran yang berfokus pada penyelesaian proyek nyata sebagai inti dari proses belajar.
Siswa diajak untuk meneliti, merancang, dan menciptakan solusi terhadap suatu permasalahan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Experiential Learning
Experiential Learning menekankan proses belajar melalui pengalaman langsung dan refleksi. Pendekatan ini berfokus pada bagaimana peserta didik memahami makna dari pengalaman yang mereka alami. Tidak selalu menghasilkan produk akhir yang konkret, namun lebih kepada proses pembelajaran itu sendiri.
Fokus utama: refleksi dan pembentukan makna dari pengalaman langsung.
Sifat: bersifat luas dan filosofis, tidak terbatas pada satu bentuk kegiatan tertentu.
Peran siswa: aktif dalam mengendalikan proses belajar, melakukan eksplorasi, dan membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman nyata.
Tujuan: membantu siswa memahami materi secara mendalam melalui situasi kontekstual dan meningkatkan motivasi belajar.
Karakteristik Experiential Learning
-
Belajar dari pengalaman langsung: Peserta terlibat dalam kegiatan nyata, mengamati, dan mencoba menerapkan konsep secara langsung.
-
Refleksi kritis: Setelah melakukan kegiatan, peserta diminta untuk merenungkan apa yang telah mereka pelajari, termasuk kesalahan dan keberhasilannya.
-
Siklus pembelajaran Kolb: Mengikuti tahapan seperti pengalaman nyata, refleksi, konseptualisasi, dan eksperimen untuk menciptakan pemahaman baru.
-
Keterlibatan aktif: Peserta tidak pasif menerima informasi, tetapi ikut serta secara aktif dalam proses membangun pengetahuan.
Contoh Penerapan Experiential Learning
-
Magang: Menghubungkan teori kelas dengan praktik kerja nyata.
-
Simulasi: Melatih keterampilan tertentu seperti kepemimpinan atau komunikasi melalui skenario terstruktur.
-
Proyek akhir: Menerapkan teori untuk memecahkan masalah nyata.
-
Studi kasus: Menganalisis dan menyelesaikan masalah berdasarkan peristiwa nyata.
-
Kegiatan sosial: Mengikuti kegiatan masyarakat atau sukarelawan yang menambah pengalaman dan wawasan baru.
Baca Juga: Jadi Sekolah Garuda, Siswa MAN Insan Cendekia Gorontalo Incar Kampus Top Dunia dan Nasional
Project-Based Learning
Sementara itu, Project-Based Learning (PjBL) adalah metode pembelajaran yang berfokus pada penyelesaian proyek kompleks yang relevan dengan dunia nyata.
Siswa belajar dengan cara merancang, meneliti, dan menciptakan solusi nyata terhadap suatu masalah. Proyek ini biasanya menghasilkan produk akhir, seperti presentasi, laporan, atau karya kreatif.
Fokus utama: mengerjakan proyek untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah nyata.
Sifat: metode pembelajaran yang spesifik dan berorientasi pada hasil akhir.
Peran siswa: bekerja secara kolaboratif, melakukan riset mendalam, dan menghasilkan produk nyata.
Tujuan: mengembangkan keterampilan abad 21 seperti kolaborasi, komunikasi, pemecahan masalah, serta berpikir kritis dan kreatif.
Karakteristik Project-Based Learning
-
Berpusat pada siswa: Guru berperan sebagai fasilitator, sementara siswa memegang kendali utama atas proyek mereka.
-
Konteks dunia nyata: Proyek yang dikerjakan relevan dengan kehidupan sehari-hari atau melibatkan pihak luar.
-
Kolaboratif: Dikerjakan secara berkelompok untuk melatih kerja sama dan tanggung jawab bersama.
-
Proses pembelajaran mendalam: Melibatkan tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga presentasi hasil akhir.
-
Pengembangan keterampilan lintas bidang: Selain pengetahuan akademis, siswa juga mengasah soft skill seperti komunikasi, kepemimpinan, dan kreativitas.
Contoh Penerapan Project-Based Learning
-
Membuat rumah burung dari bahan daur ulang untuk memahami konsep sains dan matematika.
-
Merancang kampanye anti-bullying untuk meningkatkan kesadaran sosial di sekolah.
-
Membangun aplikasi sederhana yang membantu masyarakat sekitar.
-
Melakukan studi kasus bisnis untuk memahami prinsip-prinsip kewirausahaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









