Empati Secara Kognitif Diperoleh Melalui Apa? Ini Penjelasan Lengkapnya untuk PPG 2025

AKURAT.CO Empati secara kognitif diperoleh melalui apa? Pertanyaan ini muncul dalam Latihan Pemahaman Modul 2 Topik 2 PPG Guru 2025 yang bisa diakses melalui Ruang GTK, platform resmi yang sebelumnya dikenal sebagai Platform Merdeka Mengajar (PMM). Soal ini termasuk dalam pembahasan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), yang menekankan pentingnya kemampuan guru memahami perasaan dan cara berpikir orang lain secara objektif.
Artikel ini menyajikan pembahasan lengkap beserta kunci jawaban untuk membantu Bapak/Ibu guru memahami konsep “empati secara kognitif” dengan lebih mendalam — bukan sekadar menjawab soal, tetapi juga mengerti maknanya dalam konteks pendidikan.
Soal dan Jawaban: Empati Secara Kognitif Diperoleh Melalui
Berikut versi soal yang muncul dalam modul latihan PPG 2025:
Empati Secara Kognitif Diperoleh Melalui …
-
Attentive learning
-
Receptive learning
-
Role play
-
Compassion
-
Pembelajaran
Jawaban: ✅ Receptive learning
Mengapa jawabannya receptive learning? Mari kita bahas lebih dalam.
Makna Empati Kognitif dalam Pendidikan
Mengutip dari buku Psikologi Kepemimpinan karya Dr. Seta Ariawuri Wicaksana, S.Psi., dkk (2025:80), empati kognitif adalah “kemampuan memahami perspektif dan keadaan mental orang lain tanpa merasakan emosi orang tersebut.”
Artinya, seseorang dengan empati kognitif mampu melihat situasi dari sudut pandang orang lain, memahami apa yang mereka pikirkan dan rasakan secara rasional — tanpa harus mengalami emosi yang sama. Dalam konteks pendidikan, kemampuan ini sangat penting bagi guru agar dapat memahami siswa dari sisi cara berpikir, minat belajar, hingga kesulitan yang mereka hadapi di kelas.
Mengapa Jawabannya Receptive Learning?
Empati secara kognitif berkembang melalui pembelajaran reseptif (receptive learning).
Ini adalah proses belajar yang berfokus pada penerimaan dan penyerapkan informasi dari lingkungan sosial atau sumber eksternal seperti guru, buku, media, dan pengalaman sosial.
Dalam receptive learning, peserta belajar tidak sekadar menghafal, tapi berusaha memahami pesan, cerita, atau perilaku orang lain secara mendalam. Aktivitas seperti mendengarkan penjelasan, membaca kisah inspiratif, atau mengamati interaksi sosial menjadi cara seseorang membangun empati kognitif.
Sedangkan opsi seperti role play dan compassion lebih terkait dengan empati emosional (affective empathy), yaitu kemampuan merasakan emosi orang lain — bukan memahaminya secara rasional.
Contoh Pembelajaran Reseptif yang Menumbuhkan Empati Kognitif
Dalam dunia pendidikan, pembelajaran reseptif dapat diterapkan melalui berbagai aktivitas sederhana di kelas, seperti:
-
Membaca Buku dan Cerita Sosial
Ketika siswa membaca kisah atau narasi tentang pengalaman orang lain, mereka belajar memahami pola pikir, perasaan, dan reaksi tokoh di dalam cerita. Proses inilah yang menumbuhkan empati kognitif. -
Mendengarkan Ceramah atau Penjelasan Guru
Saat siswa mendengarkan guru menjelaskan suatu peristiwa atau nilai kehidupan, mereka berlatih memahami konteks sosial dan moral dari sudut pandang yang berbeda. -
Mendengarkan Materi dari Media Digital (YouTube, Podcast, dll)
Siswa bisa memperluas wawasan sosial dan emosional melalui media. Mendengarkan pengalaman orang lain melalui video edukatif juga termasuk bentuk pembelajaran reseptif yang memperkaya empati kognitif.
Dalam semua contoh tersebut, inti dari proses belajar bukan pada aktivitas fisik, melainkan pada kemampuan menerima, memproses, dan memahami informasi secara mendalam.
Pentingnya Empati Kognitif bagi Guru
Kemampuan berempati secara kognitif memiliki banyak manfaat nyata dalam dunia pendidikan. Beberapa di antaranya adalah:
1. Membangun Hubungan Positif antara Guru dan Siswa
Dengan memahami cara berpikir dan perasaan siswa, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, penuh penerimaan, dan saling menghargai.
2. Menyesuaikan Metode Pembelajaran
Guru bisa menyesuaikan strategi mengajar berdasarkan gaya belajar siswa. Ini membuat proses belajar lebih efektif dan menyenangkan.
3. Menghadapi Tantangan Sosial dan Emosional
Empati kognitif membantu guru mendeteksi perubahan perilaku siswa sejak dini, misalnya ketika mereka sedang stres atau menghadapi masalah pribadi.
4. Meningkatkan Motivasi Belajar
Siswa yang merasa dipahami dan didukung akan lebih bersemangat untuk belajar. Mereka merasa dihargai bukan hanya karena nilai, tetapi karena kepribadian dan usahanya.
5. Menular ke Siswa Lain
Guru yang menerapkan empati kognitif menjadi contoh nyata bagi siswa untuk ikut menumbuhkan empati terhadap teman-temannya.
Cara Menumbuhkan Empati Kognitif di Kelas
Menerapkan empati kognitif bukanlah hal yang instan. Diperlukan kesadaran dan latihan konsisten dalam berinteraksi dengan siswa. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
-
Mendengarkan secara aktif: Beri perhatian penuh saat siswa berbicara.
-
Ajukan pertanyaan terbuka: Dorong siswa untuk berbagi perasaan dan pemikiran mereka.
-
Perhatikan bahasa tubuh: Kadang ekspresi wajah dan gerakan bisa mengungkapkan lebih banyak dari kata-kata.
-
Kenali minat siswa: Ketahui hobi dan ketertarikan mereka agar pembelajaran terasa relevan.
-
Berikan umpan balik positif: Fokus pada kemajuan, bukan hanya kesalahan.
Kesimpulan
Empati secara kognitif diperoleh melalui pembelajaran reseptif (receptive learning), yaitu proses memahami dan menyerap informasi dari lingkungan sosial dan sumber eksternal seperti guru, buku, dan media.
Kemampuan ini membantu guru memahami cara berpikir dan kebutuhan siswa secara lebih mendalam. Dengan demikian, proses belajar tidak hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga membangun hubungan manusiawi yang saling menghargai.
Empati kognitif adalah kunci untuk menciptakan pendidikan yang berpusat pada manusia — di mana setiap siswa merasa didengar, dipahami, dan dihargai.
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan empati secara kognitif?
Empati secara kognitif adalah kemampuan seseorang untuk memahami cara berpikir, perasaan, dan sudut pandang orang lain tanpa harus merasakan emosi yang sama. Dalam konteks pendidikan, empati ini membuat guru mampu melihat proses belajar dari perspektif siswa.
2. Empati secara kognitif diperoleh melalui apa?
Empati secara kognitif diperoleh melalui receptive learning atau pembelajaran reseptif, yaitu proses menerima dan menyerap informasi dari lingkungan sosial, buku, guru, atau media. Melalui proses ini, seseorang belajar memahami pikiran dan perasaan orang lain secara rasional.
3. Apa perbedaan empati kognitif dan empati emosional?
Empati kognitif berfokus pada pemahaman logis terhadap pikiran dan perasaan orang lain, sedangkan empati emosional (afektif) berkaitan dengan kemampuan ikut merasakan emosi orang lain. Misalnya, guru yang berempati secara kognitif memahami alasan siswa sulit fokus, sementara empati emosional membuat guru turut merasakan kesedihan siswa tersebut.
4. Mengapa empati kognitif penting bagi guru?
Empati kognitif membantu guru memahami kebutuhan, cara belajar, dan tantangan siswa dengan lebih objektif. Dengan kemampuan ini, guru dapat menyesuaikan metode pengajaran, membangun hubungan positif, dan menciptakan suasana kelas yang inklusif dan suportif.
5. Bagaimana cara menumbuhkan empati kognitif di sekolah?
Empati kognitif dapat dikembangkan melalui kebiasaan seperti:
-
Mendengarkan siswa dengan penuh perhatian
-
Mengajukan pertanyaan terbuka
-
Mengamati ekspresi dan bahasa tubuh siswa
-
Mengenal minat dan latar belakang siswa
-
Memberikan umpan balik yang membangun
Kebiasaan ini membantu guru lebih memahami perspektif dan kebutuhan emosional siswa.
6. Apa contoh kegiatan pembelajaran reseptif di kelas?
Beberapa contoh kegiatan pembelajaran reseptif antara lain:
-
Membaca buku atau cerita yang mengandung nilai sosial
-
Mendengarkan ceramah atau penjelasan guru
-
Menonton video edukatif atau kisah inspiratif dari YouTube
-
Mengamati perilaku dan interaksi sosial dalam kelompok belajar
Kegiatan tersebut menumbuhkan kemampuan memahami perasaan dan pikiran orang lain tanpa harus mengalaminya secara langsung.
7. Apa kaitan antara empati kognitif dan pembelajaran sosial emosional (PSE)?
Empati kognitif merupakan bagian penting dari Pembelajaran Sosial Emosional (PSE). Melalui empati ini, siswa belajar mengenali perasaan dan cara berpikir orang lain, sehingga mampu berinteraksi lebih baik, menghargai perbedaan, dan membangun hubungan sosial yang sehat di sekolah maupun masyarakat.
8. Apakah empati kognitif bisa diajarkan kepada siswa?
Bisa. Guru dapat menanamkan empati kognitif melalui kegiatan refleksi, diskusi kelompok, membaca kisah inspiratif, atau menonton film edukatif. Dengan bimbingan guru yang berempati, siswa belajar memahami sudut pandang orang lain secara alami.
9. Siapa yang pertama kali memperkenalkan konsep empati kognitif?
Konsep empati kognitif banyak dibahas dalam psikologi sosial dan pendidikan modern, salah satunya dijelaskan oleh Dr. Seta Ariawuri Wicaksana, S.Psi., dkk (2025) dalam buku Psikologi Kepemimpinan. Selain itu, sumber seperti Verywell Mind dan BetterUp juga menjelaskan perbedaan antara empati kognitif dan emosional dalam konteks profesional dan pendidikan.
10. Di mana guru bisa mempelajari materi tentang empati kognitif dalam PPG 2025?
Guru dapat mempelajari topik ini melalui Modul 2 Topik 2 di Ruang GTK (Platform Merdeka Mengajar). Modul ini membahas Pembelajaran Sosial Emosional, termasuk jenis-jenis empati dan penerapannya dalam pembelajaran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








