Akurat

Masih Adakah Diskriminasi di Kehidupan Sehari-hari? Ini Penjelasan dan Cara Menghadapinya

Naufal Lanten | 11 Oktober 2025, 16:26 WIB
Masih Adakah Diskriminasi di Kehidupan Sehari-hari? Ini Penjelasan dan Cara Menghadapinya

 

AKURAT.CO Menurut Anda, dalam kehidupan sehari-hari, apakah masih ada diskriminasi dan bagaimana sikap Anda terkait dengan hal tersebut? Meski dunia terus berkembang dan masyarakat semakin terbuka terhadap keberagaman, diskriminasi masih menjadi persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini tidak hanya terjadi di luar negeri, tapi juga di Indonesia—negara yang dikenal majemuk dengan ratusan suku, bahasa, budaya, dan kepercayaan.

Secara sederhana, diskriminasi adalah perlakuan tidak adil atau tidak setara terhadap seseorang atau kelompok berdasarkan karakteristik tertentu, seperti ras, etnis, agama, gender, orientasi seksual, atau status sosial ekonomi. Di Indonesia, Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia secara tegas menyebutkan bahwa setiap tindakan pembatasan, pengucilan, atau pembedaan yang didasarkan pada hal-hal tersebut termasuk dalam kategori diskriminasi.

Sayangnya, bentuk diskriminasi tidak selalu tampak secara terang-terangan. Ada diskriminasi yang terjadi secara halus—dalam pilihan kata, sikap, atau kebijakan sosial—yang tanpa disadari justru memperlebar jurang ketidaksetaraan.


Contoh Diskriminasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Diskriminasi bisa muncul di mana saja: di sekolah, tempat kerja, layanan publik, bahkan di dunia digital. Berikut beberapa contoh nyata yang masih sering ditemui:

1. Diskriminasi Rasial

Perlakuan berbeda karena ras atau etnis masih menjadi masalah klasik di berbagai negara, termasuk Indonesia. Contohnya, seseorang bisa mendapat perlakuan tidak setara hanya karena warna kulit, logat bicara, atau asal daerah tertentu.

2. Diskriminasi Gender

Budaya patriarki masih membuat sebagian perempuan menghadapi hambatan dalam karier dan pendidikan. Meski zaman sudah berubah, isu kesetaraan gender masih jadi PR besar, terutama dalam dunia kerja dan politik.

3. Diskriminasi Ekonomi dan Sosial

Tidak jarang orang dari kalangan ekonomi bawah mendapat perlakuan berbeda. Misalnya, siswa yang menunggak SPP diperlakukan tidak adil di sekolah, atau masyarakat berpenghasilan rendah sulit mendapat akses perumahan yang layak.

4. Intoleransi Agama

Diskriminasi berbasis agama terjadi ketika kelompok minoritas sulit menjalankan ibadahnya, ditolak membangun rumah ibadah, atau bahkan disudutkan karena keyakinannya berbeda.

5. Diskriminasi terhadap Disabilitas

Masih banyak penyandang disabilitas yang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena dianggap tidak mampu bekerja seefisien orang tanpa disabilitas. Padahal, banyak di antara mereka memiliki kompetensi luar biasa jika diberi kesempatan yang sama.

6. Diskriminasi Usia (Ageisme)

Tidak jarang orang muda dianggap tidak berpengalaman dan diremehkan, sementara orang tua dianggap tidak produktif dan tidak relevan. Kedua bentuk pandangan ini sama-sama salah dan bersifat diskriminatif.

7. Diskriminasi Politik

Menjelang pemilu, masyarakat kerap terbagi menjadi dua kubu yang saling merendahkan dan menjelekkan satu sama lain. Padahal, perbedaan pilihan politik seharusnya menjadi bagian wajar dari demokrasi, bukan alasan untuk membenci.


Mengapa Diskriminasi Masih Terjadi?

Tidak ada diskriminasi tanpa sebab. Biasanya, perilaku diskriminatif muncul karena prasangka dan stereotip yang berkembang di masyarakat. Seseorang bisa menganggap kelompok lain lebih rendah hanya karena minim pengetahuan dan enggan mencari informasi yang benar.

Misalnya, seseorang menilai suatu etnis “malas” atau “kurang maju” hanya berdasarkan opini turun-temurun, bukan data. Ketika persepsi itu dipercaya banyak orang, muncullah sikap diskriminatif dalam bentuk ucapan, perilaku, hingga kebijakan publik.

Kurangnya empati dan pendidikan sosial juga memperparah kondisi ini. Alih-alih memahami perbedaan sebagai hal yang alami, sebagian orang justru memandangnya sebagai ancaman terhadap identitas atau kenyamanan pribadi.


Dampak Diskriminasi dalam Kehidupan Sosial

Diskriminasi bukan hanya melukai perasaan seseorang, tetapi juga berpotensi mengganggu keharmonisan sosial dan menurunkan kualitas kemanusiaan. Dalam jangka panjang, tindakan diskriminatif bisa menyebabkan:

  • Timbulnya konflik antar kelompok.

  • Terhambatnya pembangunan karena potensi manusia tidak dimanfaatkan secara adil.

  • Meningkatnya kesenjangan sosial dan ekonomi.

  • Menurunnya kepercayaan terhadap sistem hukum dan pemerintahan.

Kasus Rohingya di Myanmar menjadi contoh ekstrem bagaimana diskriminasi yang dibiarkan dapat berujung pada pelanggaran HAM berat, pengusiran, hingga genosida. Karena itu, melawan diskriminasi bukan sekadar tanggung jawab individu, tetapi juga komitmen sosial bersama.


Cara Menghadapi dan Menghindari Diskriminasi

Menghapus diskriminasi memang tidak bisa dilakukan dalam semalam. Tapi langkah kecil dari setiap individu bisa membawa perubahan besar. Berikut beberapa sikap yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

1. Menentang Diskriminasi

Jangan diam saat melihat perlakuan tidak adil terhadap orang lain. Dukungan kecil seperti menegur, melaporkan, atau memberi semangat kepada korban dapat membantu mereka merasa tidak sendirian.

2. Menjunjung Tinggi Hak Asasi Manusia

Ingat bahwa setiap manusia berhak diperlakukan sama tanpa memandang suku, agama, ras, jenis kelamin, atau status sosial. Prinsip ini harus menjadi dasar dalam bersikap di mana pun kita berada.

3. Meningkatkan Kesadaran dan Edukasi

Mulailah dari lingkungan terdekat. Edukasi mengenai kesetaraan dan keberagaman bisa dilakukan lewat diskusi ringan, kegiatan sosial, atau berbagi informasi positif di media sosial.

4. Menghargai Perbedaan

Indonesia terdiri dari ratusan suku dan budaya. Perbedaan bukan alasan untuk saling membenci, melainkan kesempatan untuk belajar saling menghormati dan memperkaya wawasan kita.

5. Bersolidaritas

Bersatu melawan diskriminasi lintas komunitas adalah kunci membangun masyarakat inklusif. Solidaritas sosial akan menciptakan rasa aman, saling percaya, dan memperkuat persatuan bangsa.


Kesimpulan: Membangun Masyarakat yang Inklusif dan Setara

Diskriminasi masih menjadi kenyataan yang harus dihadapi bersama. Ia tidak hanya merusak keadilan sosial, tetapi juga mengikis nilai kemanusiaan. Namun, melalui kesadaran, edukasi, dan keberanian menentang perlakuan tidak adil, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih damai dan setara untuk semua.

Tuhan menciptakan manusia berbeda bukan untuk saling bermusuhan, tetapi agar kita belajar menghargai perbedaan itu sendiri. Maka, alih-alih mempersoalkan siapa yang lebih tinggi atau rendah, sudah seharusnya kita menanamkan nilai empati dan saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang isu sosial dan nilai kemanusiaan lainnya, pantau terus artikel terbaru di AKURAT.CO untuk pembahasan yang lebih mendalam dan inspiratif.

Baca Juga: Kemnaker Tegaskan Rekrutmen Harus Objektif dan Bebas Diskriminasi

Baca Juga: Pramono Junjung Tinggi Toleransi: Saya Gubernur Semua Agama, Tak Ada Diskriminasi

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan diskriminasi?
Diskriminasi adalah perlakuan tidak adil terhadap seseorang atau kelompok berdasarkan ras, agama, gender, orientasi seksual, usia, atau status sosial. Tindakan ini melanggar prinsip kesetaraan dan hak asasi manusia.

2. Apakah diskriminasi masih terjadi di Indonesia?
Ya, diskriminasi masih sering terjadi di berbagai bidang, seperti dunia kerja, pendidikan, layanan publik, hingga media sosial. Meski banyak kemajuan, kesadaran masyarakat terhadap kesetaraan masih perlu ditingkatkan.

3. Apa saja contoh diskriminasi di kehidupan sehari-hari?
Contohnya termasuk perlakuan berbeda karena suku atau warna kulit, perempuan yang sulit naik jabatan, siswa miskin yang dibedakan perlakuannya, atau penyandang disabilitas yang sulit mendapat pekerjaan.

4. Mengapa diskriminasi bisa terjadi?
Diskriminasi muncul karena prasangka, stereotip, dan kurangnya pemahaman tentang keberagaman. Faktor budaya, pendidikan, dan lingkungan sosial juga turut memengaruhi pola pikir diskriminatif.

5. Apa dampak dari tindakan diskriminasi?
Dampaknya antara lain menurunnya rasa keadilan, meningkatnya konflik sosial, melebaranya kesenjangan ekonomi, serta hilangnya rasa saling percaya dalam masyarakat.

6. Bagaimana cara menghadapi diskriminasi dengan bijak?
Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain menentang perlakuan tidak adil, meningkatkan edukasi tentang kesetaraan, menghargai perbedaan, dan menunjukkan solidaritas terhadap korban diskriminasi.

7. Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengurangi diskriminasi?
Masyarakat bisa berperan dengan membangun empati, tidak menyebarkan ujaran kebencian, serta aktif mendukung kebijakan dan kegiatan yang mendorong inklusivitas dan keadilan sosial.

8. Apakah ada hukum yang melindungi dari diskriminasi di Indonesia?
Ya, perlindungan terhadap korban diskriminasi diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang menegaskan setiap warga negara berhak mendapat perlakuan yang sama di hadapan hukum dan masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.