Akurat

Adaptasi Morfologi pada Hewan dan Tumbuhan

Eko Krisyanto | 22 September 2025, 07:57 WIB
Adaptasi Morfologi pada Hewan dan Tumbuhan

AKURAT.CO Setiap makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan, memiliki cara sendiri untuk bertahan hidup.

Lingkungan tempat mereka tinggal tidak selalu bersahabat, ada yang kering dan panas, ada yang basah dan berlumpur, bahkan ada yang dingin membeku sepanjang tahun.

Untuk bisa terus hidup makhluk hidup harus beradaptasi. Salah satu bentuk adaptasi yang paling mudah terlihat adalah adaptasi morfologi, yaitu perubahan bentuk luar atau struktur tubuh agar sesuai dengan kondisi lingkungannya.

Proses adaptasi morfologi tidak terjadi dalam semalam. Perubahan itu berjalan sangat panjang, melewati banyak generasi.

Baca Juga: Adaptasi Fisiologis: Cara Tubuh Makhluk Hidup Bertahan di Lingkungan yang Berubah

Awalnya, setiap populasi memiliki variasi genetik alami, ada yang berdaun lebih tebal, berbulu lebih panjang, atau bertelinga lebih besar.

Variasi ini muncul karena mutasi dan kombinasi gen. Dari variasi tersebut, lingkungan kemudian menjadi penyeleksi alami.

Individu yang bentuk tubuhnya lebih sesuai dengan habitat akan bertahan hidup lebih lama, memiliki keturunan, dan mewariskan ciri-ciri tersebut. Inilah yang disebut seleksi alam.

Contohnya bisa dilihat pada tumbuhan. Kaktus yang hidup di gurun tidak memiliki daun lebar seperti mangga, melainkan daun yang berubah menjadi duri. Perubahan bentuk ini bukan sekadar tampilan, tetapi memiliki fungsi penting untuk mengurangi penguapan air di tempat yang panas dan kering. Batangnya yang tebal menyimpan cadangan air agar bisa bertahan meski berbulan-bulan tanpa hujan.

Baca Juga: Wapres: Transformasi dan Adaptasi Jadi Kunci Masa Depan Bangsa

Sebaliknya, tanaman teratai yang hidup di air justru memiliki daun lebar dan tipis, sehingga mudah mengapung dan mendapat sinar matahari.

Adaptasi morfologi juga jelas terlihat pada hewan. Burung elang, misalnya, memiliki paruh yang melengkung tajam dan cakar yang kuat.

Struktur tubuh ini membantu mereka mencengkeram dan merobek mangsa. Di sisi lain, rubah Arktik punya bulu tebal berwarna putih untuk menyamarkan diri di salju sekaligus menahan dingin ekstrem.

Sebaliknya, kerabatnya, rubah gurun, justru memiliki telinga besar yang berfungsi melepaskan panas tubuh agar tidak kepanasan di padang pasir.

Baca Juga: Adaptasi Horor Korea, Inilah Fakta Menarik dan Sinopsis Film Sunyi

Meskipun tampak sederhana, perubahan pada morfologi ini adalah hasil interaksi kompleks antara genetika, lingkungan, dan waktu. Dalam ribuan bahkan jutaan tahun, makhluk hidup menyesuaikan diri dengan kondisi yang terus berubah. Adaptasi inilah yang membuat mereka bisa bertahan meski menghadapi tantangan besar dari alam.

Proses adaptasi morfologi mengajarkan bahwa bentuk tubuh makhluk hidup bukanlah kebetulan, melainkan hasil perjalanan panjang untuk bertahan.

Dari kaktus di padang pasir, mangrove di pesisir hingga satwa liar di kutub, semua menunjukkan kecerdikan alam dalam menjaga kehidupan.

Pada akhirnya, memahami adaptasi morfologi bukan hanya soal ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar menghargai keragaman dan daya tahan makhluk hidup di planet ini.

Baca Juga: Sinopsis Lengkap Tak Ingin Usai di Sini, Film Adaptasi Korea yang Bikin Haru! Ini Link Tiket Bioskopnya

Laporan: Novi Karyanti/magang

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK