Akurat

Denny JA Rekam Luka Sejarah dalam Heptalogi Puisi Esai: Dari Kartini hingga Hiroshima

Oktaviani | 3 Juli 2025, 15:23 WIB
Denny JA Rekam Luka Sejarah dalam Heptalogi Puisi Esai: Dari Kartini hingga Hiroshima

AKURAT.CO Dalam dunia yang bergerak cepat dan sering kali melupakan masa lalu, Denny JA hadir sebagai pengingat.

Melalui tujuh buku puisi esai, ia merangkai luka-luka kolektif menjadi karya sastra yang menyentuh nurani.

Heptalogi ini bukan sekadar karya sastra. Ia adalah arsip perasaan sejarah—sebuah upaya menangkap gema jeritan yang tak sempat terekam dalam buku pelajaran.

Buku ketujuh, berjudul “Yang Menggigil dalam Arus Sejarah” (2025), menjadi penutup dari rangkaian panjang ini.

Tidak lagi hanya tentang Indonesia, buku ini menembus batas geografi: dari revolusi Prancis, tragedi Holocaust, pembantaian di Nanking, hingga bom atom di Hiroshima.

“Sejarah resmi menulis pahlawan. Tapi puisi esai menulis korban," kata Denny JA, saat peluncuran buku ketujuh, dikutip pada Kamis (3/7/2025).

Denny JA dikenal sebagai pencetus puisi esai, genre baru yang menggabungkan puisi, narasi, dan riset sejarah.

Format ini membentuk gerakan sastra yang kini tumbuh melintasi batas negara, menjadi sorotan dalam Festival Puisi Esai ASEAN yang telah berlangsung empat kali.

Baca Juga: Kawasan Industri Morowali Raih Tiga Penghargaan CSR Nasional

Mengapa Puisi Esai Penting?

  1. Ia menyentuh sisi terdalam manusia.
    Di saat angka dan statistik terasa dingin, puisi menjadi pelukan hangat yang menyentuh luka sejarah.

  2. Ia memperluas wajah sejarah.
    Bukan hanya milik mereka yang menang, tapi juga milik perempuan penghibur, pengungsi, dan suara-suara kecil yang terlupakan.

  3. Ia membangkitkan narasi yang nyaris padam.
    Dalam gemuruh mayoritas, puisi esai memberi ruang pada bisikan Lastri, tangis Lina, dan rindu yang tertinggal di tapal batas.

Tujuh Buku, Tujuh Luka, Tujuh Napas Sejarah

1. Atas Nama Cinta (2012)
Tentang cinta yang tak bisa tumbuh karena diskriminasi.

2. Kutunggu di Setiap Kamisan (2018)
Tentang mereka yang hilang secara paksa, dan keluarga yang terus menunggu.

3. Jeritan Setelah Kebebasan (2015)
Tentang darah dan air mata yang tumpah pasca-reformasi.

 4 Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024)
Tentang mereka yang tak sempat merayakan proklamasi.

5. Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2024)
Tentang para pahlawan sebagai manusia, bukan ikon.

6. Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an (2024)
Tentang eksil yang kehilangan tanah air dan kampung halaman.

7. Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025)
Tentang tragedi global yang membentuk nurani dunia.

Baca Juga: Direktur RS Indonesia di Gaza Tewas Akibat Serangan Israel, DPR: Kejahatan yang Tak Bisa Ditoleransi

Di tengah banjir informasi yang serba cepat dan dangkal, puisi esai hadir sebagai jeda dan perenungan.

Ia mengajak kita mendengar kembali suara-suara yang nyaris padam—sekaligus belajar bahwa sejarah tak hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang luka yang tak sempat sembuh.

“Sebab kemerdekaan sejati, seperti puisi,
adalah keberanian untuk terus mendengarkan
yang tak lagi punya suara," ujarnya.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.