Tantangan dan Solusi Menerapkan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat ke Siswa

AKURAT.CO Inilah jawaban lengkap untuk tantangan dan solusi menerapkan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat ke siswa
Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat merupakan bagian integral dari pilar keempat dalam Asta Cita, visi besar pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming.
Inisiatif ini bertujuan membentuk generasi muda Indonesia yang berkarakter kuat, mandiri, dan berdaya saing. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menekankan bahwa keberhasilan gerakan ini tidak dapat berdiri sendiri.
Diperlukan sinergi dari berbagai pihak—baik pemerintah, sekolah, keluarga, maupun masyarakat luas—agar implementasinya merata dan berdampak nyata.
Meski memiliki tujuan yang mulia, pelaksanaan gerakan ini masih menghadapi beragam tantangan.
Anak-anak, sebagai subjek utama program, tidak selalu mudah diarahkan ke dalam rutinitas positif.
Hambatan datang dari dalam diri mereka sendiri, dari pengaruh lingkungan, hingga perubahan zaman yang dipengaruhi oleh teknologi dan gaya hidup serba instan.
Mengutip dari sejumlah sumber pada Selasa (28/5/2025), berikut adalah rangkaian tantangan yang dihadapi serta langkah-langkah solutif yang dapat ditempuh untuk mengoptimalkan perwujudan tujuh kebiasaan anak hebat di Indonesia.
1. Hambatan dari Dalam Diri Anak
Salah satu tantangan utama dalam menerapkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat berasal dari anak itu sendiri. Kurangnya motivasi, rasa takut gagal, serta pola pikir negatif membuat anak sulit memulai atau mempertahankan kebiasaan positif.
Hambatan ini juga sering diperburuk oleh rasa malas atau tekanan dari lingkungan sekitar. Untuk mengatasinya, diperlukan pendekatan yang membangun kesadaran dan motivasi intrinsik anak.
Guru dan orang tua dapat menanamkan growth mindset serta membiasakan anak untuk melakukan refleksi diri, mengapresiasi proses, dan menetapkan tujuan pribadi yang realistis.
2. Pengaruh Negatif Teknologi
Kemajuan teknologi saat ini bisa menjadi hambatan apabila penggunaannya tidak diarahkan secara bijak. Banyak anak yang menjadi kurang aktif, begadang karena bermain gawai, serta mengalami penurunan semangat belajar.
Untuk menanggulangi hal ini, teknologi sebaiknya dimanfaatkan sebagai alat pendukung pembelajaran dan pengembangan diri.
Anak perlu diajak menggunakan aplikasi edukatif, membuat proyek kreatif secara digital, serta menerapkan jadwal harian yang seimbang antara aktivitas daring dan fisik.
3. Mentalitas Serba Instan
Anak-anak masa kini cenderung menginginkan hasil yang cepat dan mudah, sehingga mereka enggan melalui proses yang membutuhkan usaha dan waktu.
Hal ini dapat mendorong perilaku negatif seperti mencontek atau menjiplak pekerjaan orang lain.
Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan membiasakan anak menghadapi tantangan melalui pembelajaran berbasis proyek, tugas-tugas bertahap, serta memperkenalkan tokoh-tokoh inspiratif yang sukses karena kerja keras dan konsistensi.
Pendekatan ini mengajarkan pentingnya menghargai proses, bukan hanya hasil.
4. Penurunan Karakter Peserta Didik
Kurangnya kehadiran orang tua sebagai teladan di rumah dapat menyebabkan anak mencari figur panutan di lingkungan pergaulan yang tidak selalu positif.
Akibatnya, anak bisa mengalami penurunan karakter, misalnya menjadi malas beribadah atau kehilangan semangat belajar.
Untuk mengatasi hal ini, perlu dibangun sinergi antara sekolah dan keluarga.
Orang tua diajak berperan aktif melalui program parenting, kegiatan bersama anak, serta komunikasi yang terbuka dengan pihak sekolah.
5. Kekerasan dan Perundungan di Lingkungan Sekolah
Perundungan atau kekerasan, baik oleh teman sebaya maupun pendidik, menjadi ancaman serius bagi tumbuh kembang karakter anak. Ketakutan, rasa tertekan, dan kehilangan rasa aman bisa menghambat anak menjalankan kebiasaan positif.
Untuk itu, sekolah harus menegakkan kebijakan anti-kekerasan secara tegas, menyelenggarakan pelatihan empati dan komunikasi damai, serta menyediakan saluran aduan yang aman dan terpercaya bagi siswa.
6. Kurangnya Keterlibatan Orang Tua
Sebagus apa pun program yang diterapkan di sekolah, hasilnya tidak akan maksimal jika tidak didukung oleh peran orang tua di rumah. Banyak orang tua yang kurang peduli atau tidak tahu bagaimana mendampingi anak dalam membentuk karakter.
Oleh karena itu, orang tua perlu dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan program melalui kegiatan sekolah, penyuluhan, serta diberi panduan praktis agar dapat membimbing anak dalam menjalankan kebiasaan baik secara konsisten di rumah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









