Akurat

Mengapa Kerajaan Sriwijaya Disebut Pusat Perdagangan Maritim?

Eko Krisyanto | 16 Januari 2026, 20:46 WIB
Mengapa Kerajaan Sriwijaya Disebut Pusat Perdagangan Maritim?

AKURAT.CO Dalam pelajaran sejarah di bangku sekolah, Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai salah satu kerajaan besar yang pernah berjaya dan bertahan lama di Nusantara.

Kerajaan ini merupakan kerajaan maritim yang berpusat di Pulau Sumatra dan wilayah kekuasaannya meluas hingga Semenanjung Malaya.

Sriwijaya berkembang sekitar abad ke-7 hingga abad ke-14 Masehi dan dikenal luas sebagai pusat perdagangan maritim di Asia Tenggara.

Lantas, apa yang membuat Kerajaan Sriwijaya mampu menjadi pusat perdagangan utama pada masanya? Berikut penjelasannya.

Letak Strategis Sriwijaya sebagai Pusat Maritim

Salah satu faktor utama kejayaan Sriwijaya adalah letak geografisnya yang sangat strategis. Kerajaan ini berada di tepi Sungai Musi, Sumatra Selatan, yang memberikan akses langsung ke jalur pelayaran internasional.

Selain itu, wilayah Sriwijaya sangat dekat dengan Selat Malaka, jalur pelayaran tersibuk yang menghubungkan India dan Tiongkok. Posisi ini menjadikan Sriwijaya sebagai “jantung” perdagangan internasional pada masa itu.

Dengan keunggulan geografis tersebut, Sriwijaya mampu mengontrol lalu lintas kapal dan memungut pajak dari para pedagang yang melintas.

Komoditas Perdagangan Unggulan

Sriwijaya sangat piawai memanfaatkan potensi alam Nusantara sebagai komoditas perdagangan. Barang-barang yang diperdagangkan sebagian besar berasal dari hasil pertanian dan hutan.

Baca Juga: Panduan Logistik Makanan Pendakian 5 Hari: Praktis, Tahan Lama, dan Bergizi

Rempah-rempah seperti lada, cengkeh, dan pala menjadi komoditas utama. Meskipun banyak rempah berasal dari Maluku dan daerah lain, Sriwijaya berperan sebagai pusat transit sebelum barang-barang tersebut diperdagangkan ke luar negeri.

Selain rempah-rempah, Sriwijaya juga memperdagangkan kayu cendana, gaharu, damar, dan kapur barus yang sangat diminati di pasar internasional.

Jaringan Mitra Dagang Internasional

Sriwijaya menjalin hubungan dagang dengan berbagai wilayah, seperti Tiongkok, India, Arab, dan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.

Tiongkok menjadi mitra dagang utama dengan permintaan tinggi terhadap rempah-rempah, kapur barus, dan hasil hutan.

Sebagai imbalannya, Tiongkok mengekspor barang-barang manufaktur berkualitas tinggi seperti sutra, keramik, dan porselen yang tidak diproduksi di Nusantara. Barang-barang tersebut kemudian diperdagangkan kembali ke wilayah lain.

India juga menjadi mitra penting dengan pasokan tekstil, barang pecah belah, serta pengaruh budaya dan agama.

Pengaruh India sangat kuat dalam kehidupan Sriwijaya, meskipun kerajaan ini dikenal sebagai pusat ajaran Buddha Mahayana dan pusat pendidikan agama Buddha di Asia Tenggara.

Infrastruktur Maritim dan Armada Laut Sriwijaya

Sebagai kerajaan maritim besar, Sriwijaya membangun infrastruktur yang mendukung aktivitas perdagangan.

Pelabuhan-pelabuhan strategis dikembangkan di sepanjang Selat Malaka sebagai tempat singgah kapal dagang dan pusat kegiatan ekonomi.

Selain itu, Sriwijaya memiliki jaringan kanal dan sistem irigasi yang baik untuk menunjang pertanian dan transportasi air.

Kerajaan ini juga membangun armada laut yang kuat serta menempatkan pangkalan militer di lokasi strategis untuk menjaga keamanan jalur perdagangan dari ancaman bajak laut.

Kebijakan Perdagangan yang Terorganisir

Sriwijaya menerapkan kebijakan monopoli atas jalur perdagangan penting. Pemerintah melakukan pengamanan ketat dan menetapkan aturan yang tegas demi menciptakan lingkungan perdagangan yang aman dan kondusif.

Baca Juga: Cara Menjadi Kaya Lewat Kripto: Panduan Aman dan Praktis untuk Pemula

Setiap kapal yang melintas di wilayah kekuasaan Sriwijaya diwajibkan membayar pajak atau bea cukai. Pendapatan dari sektor inilah yang menjadi sumber utama kas kerajaan dan menopang kejayaan Sriwijaya selama berabad-abad.

Dengan letak geografis yang strategis, komoditas unggulan, jaringan dagang internasional, infrastruktur maritim yang kuat, serta kebijakan perdagangan yang terorganisir, Kerajaan Sriwijaya berhasil menguasai jalur perdagangan utama di Selat Malaka.

Kombinasi faktor-faktor tersebut menjadikan Sriwijaya sebagai penguasa perdagangan maritim di Asia Tenggara dalam waktu yang sangat lama.

Laporan: Fikhra Azmi/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.