Bagaimana Anda Selama Ini Menjadi Guru? Apakah Sudah Memahami Experiential Learning dan Menerapkannya?

AKURAT.CO Pertanyaan “Bagaimana Anda selama ini menjadi guru? Apakah Anda sudah memahami experiential learning dan menerapkannya?” kerap muncul dalam proses Pendidikan Profesi Guru (PPG), khususnya saat guru mempelajari Modul Pembelajaran Sosial Emosional (PSE). Pertanyaan ini bukan sekadar formalitas, melainkan ajakan refleksi untuk melihat kembali praktik mengajar yang selama ini dilakukan di kelas.
Melalui pertanyaan tersebut, guru diajak menilai sejauh mana perannya tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran yang memberi ruang pengalaman nyata bagi peserta didik. Inilah inti dari experiential learning, sebuah model pembelajaran yang semakin relevan dalam dunia pendidikan saat ini.
Mengapa Pertanyaan Ini Muncul dalam PPG?
Dalam konteks PPG 2025, pertanyaan reflektif ini biasanya muncul setelah guru menyelesaikan Latihan Pemahaman Modul 2 PSE Topik 3 tentang Experiential Learning. Tujuannya adalah mendorong guru untuk mengaitkan teori dengan praktik nyata yang telah, sedang, atau akan mereka lakukan di kelas.
Karena sifatnya reflektif, tidak ada satu jawaban mutlak yang dianggap paling benar. Setiap guru dapat memiliki pengalaman berbeda, tergantung latar belakang sekolah, karakter peserta didik, serta metode pembelajaran yang selama ini diterapkan.
Namun, agar jawaban yang dituliskan relevan dan bernilai, guru perlu memahami terlebih dahulu konsep experiential learning secara utuh.
Apa Itu Experiential Learning?
Experiential learning adalah model pembelajaran yang menempatkan pengalaman langsung sebagai sumber utama belajar. Pendekatan ini menekankan bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh dari mendengar atau membaca, tetapi dari keterlibatan aktif peserta didik dalam suatu pengalaman, kemudian merefleksikannya.
Dikutip dari buku Perkembangan Teknologi dan Transformasi Digital dalam Dunia Pendidikan karya Nasution dkk. (2024), experiential learning merupakan pembelajaran yang lahir dari refleksi atas pengalaman langsung yang dialami siswa.
Secara sederhana, peserta didik tidak hanya “diajari”, tetapi diajak mengalami, merasakan, mencoba, lalu menarik makna dari proses tersebut.
Konsep Experiential Learning Menurut David Kolb
Dalam praktik pendidikan, experiential learning sering dikaitkan dengan teori David Kolb yang menjelaskan bahwa pembelajaran berlangsung melalui sebuah siklus. Siklus ini terdiri dari empat tahap yang saling berkesinambungan.
Tahap pertama adalah pengalaman konkret, ketika siswa terlibat langsung dalam aktivitas atau situasi nyata. Selanjutnya, siswa masuk ke tahap refleksi, yaitu memikirkan kembali apa yang telah dialami dan dirasakan. Dari refleksi tersebut, siswa membangun pemahaman atau konsep baru, yang kemudian diuji kembali melalui eksperimen atau penerapan dalam situasi lain.
Siklus inilah yang membuat experiential learning tidak berhenti pada aktivitas semata, tetapi berujung pada pemahaman yang lebih mendalam dan bermakna.
Peran Guru dalam Pembelajaran Berbasis Pengalaman
Dalam experiential learning, guru tidak lagi menjadi pusat perhatian utama di kelas. Perannya bergeser menjadi perancang pengalaman belajar, fasilitator diskusi, sekaligus pendamping refleksi peserta didik.
Guru tetap terlibat aktif, tetapi bukan untuk mendominasi. Keterlibatan tersebut diwujudkan melalui perencanaan yang matang, pemberian arahan yang jelas, serta bimbingan saat siswa merefleksikan pengalaman mereka.
Tanpa peran guru yang terarah, experiential learning berisiko berubah menjadi aktivitas tanpa makna pembelajaran yang jelas.
Hal Penting dalam Menerapkan Experiential Learning
Agar pembelajaran berbasis pengalaman berjalan efektif, ada beberapa hal mendasar yang perlu diperhatikan oleh guru.
Pertama, perencanaan yang matang. Experiential learning tidak dilakukan secara spontan. Guru perlu merancang pengalaman belajar yang relevan dengan tujuan pembelajaran dan kondisi peserta didik.
Kedua, tujuan yang jelas. Setiap aktivitas harus memiliki arah dan kompetensi yang ingin dicapai, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun pembentukan karakter.
Ketiga, keterlibatan aktif guru. Meskipun siswa menjadi pusat pembelajaran, guru tetap berperan sebagai pembimbing, pengarah diskusi, dan penyeimbang proses belajar.
Tahapan Penerapan Experiential Learning di Kelas
Dalam praktik pembelajaran, experiential learning umumnya diterapkan melalui tiga tahapan besar.
Tahap persiapan dimulai dengan guru merumuskan rencana pengalaman belajar yang bersifat terbuka dan kontekstual. Pada tahap ini, guru juga memberikan motivasi serta gambaran awal agar siswa siap terlibat secara mental dan emosional.
Tahap inti mencakup eksplorasi dan elaborasi. Peserta didik terlibat langsung dalam aktivitas, baik secara individu maupun kelompok. Mereka dihadapkan pada situasi nyata atau masalah autentik, membuat keputusan, dan belajar dari konsekuensi yang muncul.
Tahap penutup difokuskan pada refleksi. Siswa diajak menceritakan kembali pengalaman mereka, mengaitkannya dengan teori atau konsep pembelajaran, serta menarik makna dari proses yang telah dilalui.
Contoh Penerapan Experiential Learning oleh Guru
Dalam keseharian, banyak guru sebenarnya telah menerapkan experiential learning, meskipun belum menyadarinya secara konseptual. Beberapa contoh penerapannya antara lain melalui diskusi kasus nyata, simulasi peran, proyek kolaboratif, pembelajaran berbasis masalah, hingga kegiatan lapangan.
Metode-metode tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar dari pengalaman langsung, bukan hanya dari buku teks. Proses refleksi yang menyertainya menjadi kunci agar pengalaman tersebut benar-benar berubah menjadi pembelajaran.
Contoh Kunci Jawaban Cerita Reflektif PPG 2025
Berikut beberapa versi jawaban reflektif yang dapat dijadikan referensi oleh guru peserta PPG 2025.
Versi Jawaban 1
“Selama ini, saya berusaha menjadi guru yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membimbing murid untuk belajar melalui pengalaman nyata. Saya mulai memahami bahwa pembelajaran tidak selalu harus bersifat satu arah. Setelah mengenal konsep experiential learning, saya semakin sadar bahwa keterlibatan aktif dan refleksi pengalaman sangat efektif dalam membangun pemahaman dan karakter murid. Dalam praktiknya, saya mulai menerapkan diskusi kasus, simulasi peran, dan proyek kolaboratif, meskipun masih terus saya evaluasi agar semakin optimal.”
Versi Jawaban 2
“Saya menjalani peran sebagai guru tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran. Saya berusaha menciptakan suasana kelas yang aktif dan memberi ruang bagi siswa untuk menemukan makna dari apa yang mereka pelajari. Experiential learning membantu saya memahami bahwa pembelajaran yang bermakna terjadi saat siswa terlibat langsung dan merefleksikan pengalamannya. Meskipun masih dalam proses belajar, saya sudah mulai menerapkan pendekatan ini secara bertahap.”
Versi Jawaban 3
“Ya, saya memahami konsep experiential learning menurut David Kolb, termasuk empat tahap siklus pembelajarannya. Setelah mempelajari materi ini, saya mencoba merancang pembelajaran berbasis pengalaman seperti studi kasus, refleksi tertulis, simulasi peran, dan proyek sosial. Saya menyadari bahwa sebagai guru, saya harus terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan model pembelajaran baru agar pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna.”
Penutup
Pertanyaan “Bagaimana Anda selama ini menjadi guru? Apakah Anda sudah memahami experiential learning dan menerapkannya?” sejatinya adalah cermin bagi guru untuk melihat perjalanan profesionalnya sendiri. Tidak ada jawaban benar atau salah, selama jawaban tersebut jujur, reflektif, dan menunjukkan proses belajar yang berkelanjutan.
Experiential learning membuka peluang terciptanya pembelajaran yang lebih kontekstual, bermakna, dan menyenangkan bagi peserta didik. Dengan pemahaman yang tepat dan penerapan yang bertahap, guru dapat menjadikan pengalaman sebagai jembatan utama menuju pembelajaran yang transformatif.
Jika Anda tertarik mengikuti pembahasan lain seputar PPG, modul pembelajaran, dan dunia pendidikan terkini, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.
Baca Juga: 15 Contoh Catatan Wali Kelas untuk Rapor SD Semester Ganjil, Berkesan dan Bermakna
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan experiential learning dalam pembelajaran?
Experiential learning adalah model pembelajaran berbasis pengalaman yang menekankan keterlibatan langsung peserta didik dalam aktivitas nyata, kemudian diikuti dengan refleksi untuk membangun pemahaman dan makna belajar.
2. Mengapa experiential learning penting bagi guru dalam PPG 2025?
Experiential learning penting karena membantu guru menciptakan pembelajaran yang berpusat pada siswa, lebih kontekstual, dan bermakna. Model ini juga sejalan dengan tujuan PPG dalam mengembangkan kompetensi pedagogik dan karakter peserta didik.
3. Mengapa pertanyaan “Bagaimana Anda selama ini menjadi guru?” muncul dalam modul PPG?
Pertanyaan tersebut bersifat reflektif dan bertujuan mengajak guru mengevaluasi praktik mengajarnya selama ini, serta mengaitkannya dengan pemahaman dan penerapan experiential learning di kelas.
4. Apakah ada jawaban baku untuk cerita reflektif experiential learning?
Tidak ada jawaban baku. Cerita reflektif bersifat terbuka dan sangat bergantung pada pengalaman masing-masing guru. Yang terpenting adalah jawaban menunjukkan pemahaman konsep dan upaya penerapannya dalam pembelajaran.
5. Bagaimana cara menjawab cerita reflektif experiential learning agar sesuai dengan harapan penilaian PPG?
Guru sebaiknya menjawab secara jujur dan reflektif, menjelaskan peran sebagai guru, pemahaman terhadap experiential learning, serta contoh penerapan atau rencana penerapannya di kelas.
6. Contoh penerapan experiential learning di kelas apa saja?
Beberapa contoh penerapannya antara lain diskusi studi kasus, simulasi peran, proyek kolaboratif, pembelajaran berbasis masalah nyata, kegiatan lapangan, dan refleksi tertulis atau lisan setelah kegiatan belajar.
7. Apa saja tahapan dalam experiential learning menurut teori David Kolb?
Tahapannya meliputi pengalaman konkret, refleksi terhadap pengalaman, pembentukan konsep atau pemahaman, serta eksperimen atau penerapan kembali dalam situasi baru.
8. Apakah guru harus sudah sempurna menerapkan experiential learning?
Tidak. Guru tidak dituntut langsung sempurna. Yang dinilai adalah proses belajar, kemauan untuk berubah, dan upaya menerapkan experiential learning secara bertahap sesuai kondisi kelas.
9. Apa peran guru dalam pembelajaran experiential learning?
Guru berperan sebagai perancang pengalaman belajar, fasilitator diskusi, pendamping refleksi, serta pembimbing yang memastikan tujuan pembelajaran tetap tercapai.
10. Apakah experiential learning hanya cocok untuk mata pelajaran tertentu?
Tidak. Experiential learning dapat diterapkan pada berbagai mata pelajaran dengan menyesuaikan konteks, karakter peserta didik, dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









