Akurat

Kunci Jawaban Modul 2 Topik 3 PPG 2025: Belajar sebagai Proses yang menyeluruh

Naufal Lanten | 8 November 2025, 16:55 WIB
Kunci Jawaban Modul 2 Topik 3 PPG 2025: Belajar sebagai Proses yang menyeluruh

 

AKURAT.CO Dalam pelatihan Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2025, topik Experiential Learning atau pembelajaran berdasarkan pengalaman menjadi salah satu materi penting dalam Modul 2 Pembelajaran Sosial Emosional (PSE). Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam Latihan Pemahaman Modul 2 Topik 3 adalah:

“Belajar adalah proses yang menyeluruh, dalam hal ini meliputi ...”

Pilihan jawabannya adalah:
A. Fungsi kognisi, emosi, persepsi dan perilaku
B. Fungsi kognisi dan output
C. Fungsi perilaku, emosi, dan adaptasi
D. Fungsi pengalaman
E. Semua jawaban benar

Kunci Jawaban: A. Fungsi kognisi, emosi, persepsi dan perilaku


Makna Belajar Sebagai Proses yang Menyeluruh

Belajar bukan sekadar menghafal atau memahami teori, tetapi sebuah proses menyeluruh yang melibatkan berbagai fungsi dalam diri manusia. Dalam konteks pembelajaran sosial emosional (PSE), belajar dipahami sebagai proses perubahan perilaku yang terjadi karena interaksi antara individu dan lingkungannya.

Perubahan ini tidak terjadi secara instan. Ia bersifat berkelanjutan, aktif, positif, fungsional, dan terarah. Menurut Wittig, belajar adalah “perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam atau keseluruhan aspek individu.” Sementara itu, Bell Gredler menjelaskan bahwa belajar merupakan “proses perolehan berbagai kompetensi, keterampilan, dan sikap.”

Artinya, proses belajar melibatkan lebih dari sekadar penambahan pengetahuan — ia juga mencakup cara berpikir, merasa, bertindak, dan berinteraksi dengan lingkungan.


Empat Fungsi Utama dalam Proses Belajar

Dalam konteks pertanyaan PPG 2025, keempat fungsi utama yang membentuk proses belajar adalah sebagai berikut:

  • Kognisi: Berkaitan dengan kemampuan berpikir, memahami, mengingat, memecahkan masalah, serta mengambil keputusan. Ini merupakan inti dari aktivitas belajar, karena semua informasi diproses di ranah ini.

  • Emosi: Emosi menentukan seberapa besar motivasi seseorang untuk belajar. Perasaan senang, tertarik, atau percaya diri bisa meningkatkan semangat belajar, sedangkan rasa takut dan cemas dapat menghambatnya.

  • Persepsi: Melibatkan cara seseorang menerima dan menafsirkan informasi dari lingkungannya. Persepsi memengaruhi bagaimana seseorang memahami konsep baru.

  • Perilaku: Hasil akhir dari proses belajar tercermin melalui perubahan perilaku. Misalnya, siswa yang semula tidak memahami soal matematika kini mampu menyelesaikannya setelah melalui proses belajar.


Aspek-Aspek Belajar dalam Proses Menyeluruh

Selain empat fungsi di atas, teori pembelajaran modern menjelaskan bahwa proses belajar yang menyeluruh melibatkan beberapa aspek penting yang saling berkaitan: kognitif, afektif, psikomotorik, sosial, serta pengalaman dan refleksi.

1. Aspek Kognitif (Kemampuan Intelektual dan Mental)

Ranah kognitif mencakup kemampuan berpikir dan memproses informasi. Dalam evaluasi pembelajaran, aspek ini memiliki enam tingkatan:

  • Pengetahuan: Kemampuan mengenali konsep, prinsip, atau fakta.

  • Pemahaman: Kemampuan memahami makna dan menerapkan materi tanpa menghubungkannya dengan hal lain.

  • Penerapan: Mampu menggunakan teori atau prinsip dalam situasi nyata.

  • Analisis: Kemampuan menguraikan masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.

  • Sintesis dan Evaluasi: Menggabungkan berbagai elemen pengetahuan untuk membuat keputusan atau menilai suatu situasi.

Contoh aktivitas yang mencerminkan aspek ini antara lain membaca, memahami konsep baru, dan memecahkan soal.

2. Aspek Afektif (Sikap, Nilai, dan Emosi)

Ranah afektif berhubungan dengan sikap dan motivasi dalam belajar. Perubahan perilaku seringkali dipicu oleh perubahan pada aspek ini — ketika seseorang lebih menghargai nilai, termotivasi secara intrinsik, dan mampu mengekspresikan empati.

Kategori ranah afektif antara lain:

  • Receiving (penerimaan): Mau mendengarkan dan menerima nilai baru.

  • Responding (jawaban): Menunjukkan reaksi aktif terhadap nilai yang diterima.

  • Valuing (penilaian): Memberi makna atau nilai terhadap sesuatu.

  • Organization dan Characterization: Mengorganisasi nilai menjadi sistem pribadi yang konsisten.

Contohnya, peserta didik yang mulai menghargai keberagaman budaya setelah mengikuti pembelajaran lintas budaya.

3. Aspek Psikomotorik (Keterampilan Fisik dan Praktik)

Ranah ini berkaitan dengan koordinasi gerak tubuh dan keterampilan praktis. Proses belajar yang melibatkan psikomotorik biasanya diwujudkan melalui latihan dan pengulangan.

Beberapa contoh aktivitas psikomotorik antara lain:

  • Menulis dan menggambar dengan teknik yang benar

  • Bermain alat musik

  • Melakukan eksperimen laboratorium

  • Mengoperasikan alat atau teknologi dalam pembelajaran

Kemampuan psikomotorik penting karena mempersiapkan individu untuk menghadapi tantangan praktis di dunia nyata.

4. Aspek Sosial (Interaksi dan Kolaborasi)

Belajar juga memiliki dimensi sosial. Proses pembelajaran yang efektif melibatkan interaksi antara peserta didik dan lingkungannya. Melalui interaksi ini, siswa belajar berkomunikasi, bekerja sama, dan mengembangkan empati.

Kolaborasi dalam kelompok, diskusi kelas, dan proyek berbasis tim adalah contoh nyata bagaimana aspek sosial memperkuat hasil belajar.

5. Pengalaman dan Refleksi

Inilah inti dari Experiential Learning — pembelajaran melalui pengalaman nyata. Melalui pengalaman langsung, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memahami konteks penerapannya.

Setelah mengalami sesuatu, proses refleksi membantu individu menilai pengalaman tersebut, mengenali kekuatan dan kelemahannya, serta menyusun strategi baru agar pembelajaran berikutnya lebih efektif.

Dengan demikian, pengalaman dan refleksi menjadi dua sisi yang tidak terpisahkan dalam proses belajar yang utuh.


Kesimpulan

Belajar adalah proses yang kompleks dan menyeluruh, bukan hanya tentang mengingat teori, melainkan tentang memahami diri dan lingkungan. Dalam pembelajaran sosial emosional (PSE), fungsi kognisi, emosi, persepsi, dan perilaku bekerja secara terpadu untuk menghasilkan perubahan positif dalam diri peserta didik.

Melalui pemahaman akan aspek-aspek belajar — mulai dari kognitif, afektif, psikomotorik, sosial, hingga reflektif — guru dapat merancang pengalaman belajar yang lebih bermakna dan kontekstual.

Kalau kamu sedang mengikuti PPG 2025 atau ingin memahami lebih dalam tentang Experiential Learning, pantau terus pembaruan modul dan pembahasan kunci jawabannya di platform pendidikan terpercaya agar proses belajarmu makin maksimal.

Baca Juga: Inilah yang Tidak Termasuk ke Dalam Bagian dari EMC²: Kunci Jawaban Modul 2 Topik 2 PPG 2025

Baca Juga: Kunci Jawaban Cerita Reflektif PPG 2025: Penerapan Casel dalam Pemberlajaran Sosial Emosional di Kelas

FAQ: Modul 2 PSE Topik 3 Experiential Learning PPG 2025

1. Apa yang dimaksud dengan Experiential Learning dalam Modul 2 PSE PPG 2025?
Experiential Learning atau pembelajaran berdasarkan pengalaman adalah pendekatan belajar yang menekankan pada proses mengalami secara langsung, merefleksikan, dan mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut. Tujuannya agar peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi nyata.


2. Apa arti belajar sebagai proses yang menyeluruh?
Belajar sebagai proses menyeluruh berarti proses ini melibatkan seluruh aspek dalam diri manusia, yaitu kognisi, emosi, persepsi, dan perilaku. Semua fungsi tersebut bekerja bersama untuk membentuk perubahan pengetahuan, sikap, dan tindakan.


3. Apa kunci jawaban untuk pertanyaan “Belajar adalah proses yang menyeluruh, dalam hal ini meliputi ...”?
Jawaban yang benar adalah:
A. Fungsi kognisi, emosi, persepsi dan perilaku.


4. Mengapa fungsi kognisi, emosi, persepsi, dan perilaku penting dalam proses belajar?
Keempat fungsi ini saling mendukung. Kognisi membantu berpikir dan memahami, emosi memengaruhi motivasi, persepsi menentukan cara seseorang menafsirkan informasi, dan perilaku menunjukkan hasil nyata dari proses belajar.


5. Siapa tokoh yang mendefinisikan belajar sebagai perubahan menyeluruh pada individu?
Menurut Wittig, belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang mencakup seluruh aspek individu. Sedangkan Bell Gredler menyebut belajar sebagai proses memperoleh berbagai kompetensi, keterampilan, dan sikap.


6. Apa saja aspek yang termasuk dalam proses belajar menyeluruh?
Proses belajar menyeluruh mencakup lima aspek utama, yaitu:

  • Aspek kognitif (kemampuan berpikir dan intelektual)

  • Aspek afektif (sikap, nilai, dan motivasi)

  • Aspek psikomotorik (keterampilan fisik dan praktis)

  • Aspek sosial (interaksi dan kolaborasi)

  • Pengalaman dan refleksi (proses memahami diri dari pengalaman nyata)


7. Apa contoh kegiatan belajar yang menunjukkan aspek kognitif?
Contohnya adalah membaca, memahami konsep, menganalisis teks, atau memecahkan soal. Semua aktivitas yang melibatkan berpikir dan penalaran termasuk dalam ranah kognitif.


8. Bagaimana aspek afektif berperan dalam pembelajaran?
Aspek afektif berkaitan dengan perasaan, nilai, dan sikap siswa. Ketika siswa termotivasi secara intrinsik, menghargai nilai-nilai tertentu, atau menunjukkan empati, berarti aspek afektifnya berkembang dengan baik.


9. Apa hubungan antara pengalaman dan refleksi dalam Experiential Learning?
Dalam Experiential Learning, pengalaman menjadi dasar dari proses belajar. Setelah mengalami sesuatu, refleksi dilakukan untuk mengevaluasi pengalaman tersebut, memahami maknanya, dan memperbaiki strategi belajar di masa depan.


10. Mengapa pemahaman tentang proses belajar yang menyeluruh penting bagi guru PPG?
Pemahaman ini membantu guru merancang pembelajaran yang lebih efektif, humanis, dan kontekstual. Dengan memahami bagaimana siswa belajar melalui berbagai aspek, guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan berdampak jangka panjang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.