AKURAT.CO Upaya orang tua mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi yang disiplin adalah impian.
Tapi prosesnya tidak mudah karena banyak yang masih menganggap hukuman fisik atau bentakan adalah cara cepat untuk menegakkan aturan. Pendekatan seperti itu justru bisa meninggalkan luka emosional dan menghambat tumbuh kembang anak.
Mengajarkan disiplin tanpa kekerasan berarti membantu anak belajar mengendalikan diri, memahami konsekuensi dari tindakan mereka, dan belajar dari kesalahan dengan cara yang sehat.
Dilansir dari UNICEF, Kekerasan seperti memukul atau membentak tidak efektif dan justru dapat memperburuk perilaku anak.
Disiplin yang baik adalah hasil dari komunikasi, kedekatan emosional, dan contoh positif dari orang tua.
Penerapan disiplin non-kekerasan bisa dilakukan di rumah, di sekolah, atau dalam setiap aktivitas sehari-hari ketika anak berinteraksi dengan lingkungannya.
Anak perlu belajar disiplin sejak usia dini karena masa tersebut adalah periode penting untuk membangun kebiasaan dan nilai moral.
Dengan pendekatan yang konsisten, orang tua dapat menanamkan tanggung jawab, empati, dan kemampuan mengelola emosi pada anak.
Melalui cara yang tepat, disiplin tidak hanya mengajarkan kepatuhan, tetapi juga membentuk karakter yang kuat dan penuh kasih.
7 cara mendidik anak disiplin tanpa kekerasan
1. Luangkan waktu satu lawan satu (One-on-one time)
Meluangkan waktu khusus dengan anak setiap hari hanya 5 sampai 20 menit dapat memperkuat hubungan emosional dan membantu anak merasa diperhatikan.
Ketika anak merasa dekat dengan orang tuanya, mereka lebih mudah diajak berbicara dan memahami aturan yang diterapkan. Interaksi yang berkualitas ini menciptakan kepercayaan dan menumbuhkan rasa tanggung jawab secara alami.
2. Berikan pujian untuk perilaku positif
Orang tua disarankan untuk memperhatikan hal-hal baik yang dilakukan anak dan memberikan apresiasi.
Memberi pujian akan mendorong anak untuk mengulangi perilaku positif.
Pujian sederhana seperti “Mama bangga kamu mau membereskan mainanmu” dapat memberikan pengaruh besar terhadap perilaku anak.
3. Tegaskan aturan dengan bahasa positif
Gunakan kalimat yang menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan anak, bukan sekadar melarang. Seperti katakan “Tolong letakkan mainanmu di kotak ya,” dibanding “Jangan berantakan!”
Bahasa positif membantu anak memahami apa yang diharapkan dari mereka tanpa menimbulkan rasa takut atau kebingungan.
4. Alihkan perhatian dengan cara kreatif
Saat anak mulai rewel atau menunjukkan perilaku negatif, alihkan perhatian mereka ke aktivitas lain yang lebih konstruktif. Teknik distraksi sederhana seperti mengajak anak menggambar, bermain di luar, atau membantu pekerjaan ringan di rumah.
5. Berikan konsekuensi dengan tenang dan konsisten
Konsekuensi bukan berarti hukuman keras, melainkan bentuk pembelajaran agar anak memahami hasil dari tindakan mereka.
Jika anak tidak mengikuti aturan, jelaskan konsekuensinya dengan nada tenang dan konsisten seperti “Kalau kamu tidak membereskan mainan, kita tidak bisa bermain lagi besok.” Dengan ini si anak belajar bahwa setiap pilihan membawa tanggung jawab.
6. Libatkan anak dalam membuat aturan
Mengajak anak berdiskusi tentang aturan dan konsekuensinya akan membuat mereka merasa dihargai dan lebih mudah mematuhi kesepakatan.
Keterlibatan anak dalam membuat aturan menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat bersama.
7. Bersabar dan sesuaikan pendekatan dengan usia anak
Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda.
Orang tua perlu bersabar serta menyesuaikan cara mendisiplinkan dengan tahap perkembangan anak.
Kesabaran bukan berarti membiarkan perilaku buruk, tetapi memberi ruang bagi anak untuk belajar secara bertahap tanpa rasa takut.
Disiplin bukan hukuman, tapi tentang bimbingan dan pembelajaran.
Orang tua dapat membentuk anak yang disiplin, mandiri, dan penuh empati tanpa harus menggunakan kekerasan.
Anak yang dididik dengan kasih sayang akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, bertanggung jawab, dan mampu mengendalikan diri di masa depan.
Salsabilla Nur Wahdah (Magang)