Akurat

Anak Remaja Sering Memberontak? Begini Cara Bijak Menghadapinya!

Eko Krisyanto | 7 November 2025, 20:32 WIB
Anak Remaja Sering Memberontak? Begini Cara Bijak Menghadapinya!

AKURAT.CO Saat memasuki masa remaja, anak mulai mengalami berbagai perubahan dalam cara berpikir dan bertindak. Pada fase ini, mereka sedang berproses mencari jati diri dan membangun pandangan hidupnya sendiri. Tak jarang, hal ini membuat mereka terlihat lebih kritis, mudah menentang, bahkan terkesan memberontak terhadap orang tua.

Salah satu penyebab utama perilaku tersebut adalah perkembangan area otak yang disebut prefrontal cortex, yaitu bagian di belakang dahi yang berfungsi sebagai pusat pengambilan keputusan, penilaian, dan perencanaan. 

Di masa remaja, bagian otak ini masih terus berkembang sehingga anak mulai mampu berpikir lebih logis, menganalisis situasi, dan membentuk ide serta pendapatnya sendiri.

Perubahan tersebut membuat remaja ingin menguji batas, menyampaikan pendapat, dan melatih kemampuan berpikir kritisnya sering kali lewat perdebatan dengan orang tua. Hal ini sebenarnya bukan bentuk penolakan terhadap orang tua, melainkan tanda bahwa anak sedang belajar menjadi individu yang mandiri dan memiliki cara pandang sendiri terhadap dunia.

Baca Juga: Remaja Australia Tewas Setelah Terkena Bola Saat Latihan Kriket

7 Cara Menghadapi Anak Remaja yang Mulai Memberontak

1. Tetap Tenang dan Mengontrol Emosi

Langkah pertama yang paling penting adalah menjaga ketenangan diri. Saat anak mulai berdebat atau melawan, hindari terpancing emosi dan membalas dengan bentakan. Respons yang penuh amarah hanya akan memperburuk keadaan dan menimbulkan penyesalan. Bersikap tenang menunjukkan kedewasaan dan mengajarkan anak cara mengelola emosinya juga.

2. Tentukan Batas Sesuai Usia

Remaja memang mulai ingin mengambil keputusan sendiri, namun tetap membutuhkan bimbingan orang tua.

Tetapkan batasan yang jelas dan realistis sesuai usianya. Meskipun aturan ini mungkin membuat anak kecewa, batasan yang tegas akan membantu mereka memahami tanggung jawab dan konsekuensi dari tindakannya di masa depan.

3. Berikan Konsekuensi Saat Melanggar

Aturan tanpa konsekuensi akan membuat anak sulit menghargainya. Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk menentukan konsekuensi bersama anak, agar mereka memahami dan menyetujui aturan yang berlaku. Tuliskan kesepakatan tersebut agar anak sadar bahwa konsekuensi itu bukan hukuman sepihak, melainkan bagian dari kesepakatan bersama.

4. Tunjukkan Empati

Remaja butuh didengar, bukan dihakimi. Cobalah mendengarkan dengan empati dan tunjukkan bahwa Anda memahami perasaannya.

Hindari manipulasi emosional seperti menyalahkan atau membuatnya merasa bersalah.

Komunikasi yang terbuka dan jujur akan membuat anak lebih mudah menerima nasihat orang tua.

5. Hargai dan Apresiasi Mereka

Remaja ingin diakui dan diperlakukan seperti orang dewasa.

Berikan apresiasi atas hal positif yang mereka lakukan dan hindari komentar negatif tentang penampilan atau pilihan pribadi. Biarkan mereka bereksplorasi dengan minat dan bakatnya agar merasa dipercaya dan dihargai.

6. Jadilah Contoh Bagi Anak

Anak belajar dengan meniru. Karena itu, jadilah teladan dalam bersikap dan mengelola emosi. Saat marah, tunjukkan bagaimana menghadapi situasi dengan tenang dan bijak. Sikap orang tua akan menjadi cerminan perilaku anak dalam menyelesaikan masalah.

7. Pahami Bahwa Pemberontakan Adalah Bagian dari Pertumbuhan

Ingat bahwa pemberontakan remaja merupakan proses alami menuju kemandirian. Mereka sedang mencari jati diri dan menguji batas-batas yang ada.

Hadapi dengan pengertian, bukan kemarahan. Pastikan mereka tahu bahwa Anda selalu siap mendukung dan mendengarkan kapanpun dibutuhkan.

Baca Juga: Indonesia Raih 2 Perunggu di Kejuaraan Dunia Sambo Remaja dan Youth 2025, Masih Berpeluang Tambah Medali

Penyebab Anak Remaja Sering Memberontak

1. Perkembangan Otak

Pada masa remaja, bagian otak prefrontal cortex yang berfungsi untuk pengambilan keputusan masih berkembang. Ini membuat mereka mulai berpikir kritis, membandingkan orang tua dengan standar ideal di lingkungan, dan kadang merasa orang tua tidak memahami mereka.

2. Pengaruh Teman Sebaya

Remaja cenderung meniru perilaku kelompoknya untuk diterima. Tren seperti body piercing, tato, atau gaya berpakaian ekstrim sering dijadikan simbol kebebasan dan ekspresi diri.

Bila lingkungan pertemanan tidak sehat, risiko kenakalan remaja bisa meningkat.

3. Pencarian Identitas

Remaja sedang mencari siapa dirinya. Dalam proses ini, mereka mungkin menentang norma atau aturan keluarga sebagai bentuk ekspresi kemandirian. Karena emosi mereka belum stabil, tindakan impulsif sering muncul saat merasa tidak dimengerti.

4. Pola Asuh yang Tidak Seimbang

Pola asuh yang terlalu ketat membuat anak merasa terkekang, sedangkan yang terlalu longgar membuat anak tidak tahu batasan.

Keseimbangan antara disiplin dan kehangatan penting agar anak tetap merasa dihargai tapi juga bertanggung jawab.

5. Pengaruh Media dan Budaya Populer

Media sosial, film, dan musik sering menggambarkan pemberontakan sebagai sesuatu yang keren. Melihat idola mereka bersikap bebas dan menentang aturan bisa membuat remaja ingin meniru untuk mencari identitas diri atau validasi sosial.

Nadia Nur Anggraini (Magang) 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R