Akurat

Anak Suka Menyendiri? Kenali Penyebab dan Cara Menghadapinya

Yusuf | 6 November 2025, 13:58 WIB
Anak Suka Menyendiri? Kenali Penyebab dan Cara Menghadapinya

 

AKURAT.CO Setiap anak memiliki karakter dan cara bersosialisasi yang berbeda.

Ada anak yang mudah bergaul dan cepat akrab dengan teman baru, namun ada juga yang lebih nyaman bermain sendiri.

Anak yang cenderung suka menyendiri belum tentu bermasalah, tetapi orang tua tetap perlu memahami penyebabnya agar bisa memberikan dukungan yang tepat.

Baca Juga: Menurut Psikologi: Ada 6 Ciri Utama Orang yang Sulit Menyendiri, Apakah Kamu Salah Satunya?

Mengapa Anak Suka Menyendiri?

Anak yang sering terlihat bermain sendiri biasanya kesulitan memulai percakapan atau merasa canggung ketika berinteraksi dengan teman sebaya yang belum dikenalnya. Sikap ini umumnya muncul pada anak dengan sifat pemalu atau berkepribadian introvert, yang lebih nyaman menghabiskan waktu sendirian dibandingkan berada di tengah keramaian.

Namun, ada pula faktor lain yang bisa membuat anak tampak menarik diri, seperti:

  1. Kelelahan atau kurang tidur.
    Anak yang tidak cukup istirahat cenderung mudah marah, cepat lelah, dan tidak bersemangat untuk berinteraksi dengan orang lain.

  2. Pengaruh orang tua.
    Ketika anak merasa bahwa orang tuanya tidak menyukai teman-temannya, ia bisa memilih untuk menjauh dan bermain sendiri.

  3. Masalah psikologis.
    Kondisi seperti gangguan kecemasan (anxiety), depresi, trauma akibat kekerasan atau bullying, bahkan pelecehan, dapat membuat anak menutup diri dari lingkungan sekitar.

Jika anak menunjukkan perubahan perilaku yang drastis seperti sering mengurung diri, kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu disukai, atau enggan berbicara sama sekali  sebaiknya segera konsultasikan dengan psikolog anak.

Baca Juga: Ini Alasan Seseorang Jadi Suka Menyendiri

Mengenal Anak Remaja yang Tertutup

Memasuki masa remaja, anak mulai mengalami banyak perubahan, baik secara fisik, emosional, maupun sosial.

Berdasarkan buku Selamat Datang Masa Remaja karya Sri Bulan Musmiah dkk. (2019), fase ini bisa menjadi masa yang membingungkan bagi sebagian remaja.

Tak jarang, mereka menjadi lebih tertutup, sulit diajak bicara, dan tampak enggan bersosialisasi.

Remaja yang tertutup biasanya memiliki beberapa ciri berikut:

  • Kurang percaya diri dan takut ditolak teman sebaya.

  • Merasa tidak nyaman dengan perubahan fisik yang dialaminya.

  • Menganggap dirinya tidak dipahami oleh orang tua.

  • Tertekan oleh tuntutan akademik, sosial, atau keluarga.

  • Merasa bosan dan tidak memiliki arah hidup.

  • Mengalami stres, depresi, atau gangguan kecemasan.

Meski tampak tenang dari luar, anak dengan kepribadian tertutup sebenarnya membutuhkan dukungan emosional dan rasa aman agar berani terbuka.

4 Cara Menghadapi Anak Remaja yang Tertutup

Peran orang tua sangat penting dalam membantu anak melewati masa remaja dengan baik. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghadapi anak yang tertutup:

1. Pahami Kepribadian Anak

Tidak semua anak bisa bersosialisasi dengan mudah. Ada anak yang memang introvert dan merasa nyaman ketika sendirian.

Orang tua sebaiknya tidak memaksa anak untuk selalu bergaul, karena hal itu justru membuatnya semakin menarik diri.

Yang terpenting adalah memberikan ruang agar anak tetap merasa diterima apa adanya.

2. Tunjukkan Kepercayaan dan Apresiasi

Anak remaja butuh merasa dipercaya. Berikan dia kesempatan untuk mengambil keputusan kecil dan hargai setiap usahanya.

Ucapan sederhana seperti “Ayah/Bunda bangga kamu sudah berani mencoba” bisa menumbuhkan rasa percaya diri yang besar.

Selain itu, apresiasi kecil atas prestasi atau perkembangan anak sekecil apa pun mampu membuatnya merasa dihargai dan lebih terbuka kepada orang tua.

3. Cobalah Melihat dari Sudut Pandang Anak

Masa remaja adalah fase penuh gejolak emosional.

Di satu sisi, anak ingin mandiri, namun di sisi lain masih mencari jati diri.

Orang tua perlu memahami bahwa perubahan sikap seperti mudah tersinggung atau enggan bercerita bukan bentuk pembangkangan, melainkan proses pencarian identitas.

Berempatilah dan coba pahami alasan di balik sikapnya, bukan hanya menilai dari permukaan.

4. Bangun Komunikasi yang Hangat dan Terbuka

Ciptakan suasana di mana anak merasa aman untuk bercerita.

Mulailah dari hal-hal ringan seperti hobi, film, musik, atau teman sekolah. Hindari menginterogasi, karena itu bisa membuat anak merasa tertekan.

Semakin sering orang tua berbicara dengan nada lembut dan tanpa menghakimi, semakin besar kemungkinan anak mau terbuka.

Tetap Tegas dan Konsisten

Meskipun penting untuk bersikap lembut, orang tua tetap perlu tegas dan konsisten dalam menetapkan batasan.

Jelaskan aturan dengan cara yang logis dan komunikatif, bukan dengan nada marah.

Anak akan lebih menghargai aturan yang disampaikan dengan penjelasan yang masuk akal dibanding dengan perintah keras tanpa alasan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf
R