Akurat

Apa Gaya Pengasuhan Anda dan Mengapa itu Penting?

Rikard Djegadut | 29 Maret 2024, 14:00 WIB
Apa Gaya Pengasuhan Anda dan Mengapa itu Penting?

Ade Yullia Putri S.Sos *)

Gaya pengasuhan Anda dapat memengaruhi segalanya mulai dari harga diri anak anda hingga keberhasilan akademisnya.

Penting untuk memastikan gaya pengasuhan Anda mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang sehat karena cara Anda berinteraksi dengan anak Anda dan cara anda mendisiplinkannya akan memengaruhi mereka sepanjang sisa hidupnya.

Pada tahun 1960-an, psikolog perkembangan Diana Baumrind menggambarkan tiga gaya pengasuhan yang berbeda, yaitu gaya pengasuhan otoriter, otoritatif atau suportif, dan permisif.

Hal ini berdasarkan tuntutan dan daya tanggap orang tua terhadap anak.

Adapun pada perkembangannya, dari karya peneliti lain muncul gaya pengasuhan keempat, yaitu gaya pengasuhan uninvolved atau tidak peduli.

Berikut penjelasan dari empat gaya pengasuhan yang mungkin anda sedang terapkan atau bisa saja anda alami dari orang tua anda.

1. Gaya Pengasuhan Otoriter (Authoritarian Parenting)

Gaya pengasuhan otoriter ditandai dengan ekspektasi yang sangat tinggi terhadap anak dengan kurangnya feedback dan daya tanggap dari orang tua.

Orang tua yang otoriter menghukum kesalahan dengan keras, namun hanya memberikan sedikit penjelasan mengenai peraturan dan hukuman yang anak terima.

Orang tua dengan gaya pengasuhan otoriter, saat kecewa mereka akan berteriak dan memaki anak.

Pola asuh otoriter pun dapat memengaruhi kesehatan mental anak sejak usia dini.

Akibatnya, anak-anak yang memiliki orang tua otoriter lebih rentan terhadap penyakit mental ketika mereka dewasa nanti.

Di satu sisi pola pengasuhan ini memberikan dampak terciptanya disiplin dan hidup teratur dengan tidak melanggar aturan.

Di sisi lain, tidak jarang ditemui anak-anak dengan pola asuh otoriter menjadi kurang percaya diri, pendiam dan sulit merasa bahagia.

Hal tersebut dapat terjadi karena dalam pola asuh otoriter ini, orang tua bertindak sedemikian rupa sehingga anak harus mengikuti dan hidup dengan aturan yang ditentukan (Bun et al., 2020).

Pola asuh ini mereka terapkan dengan dalih bahwa orang tua lebih mengetahui apa yang terbaik untuk anaknya.

Adanya ketidaksesuaian antara keinginan anak dengan orang tua seringkali menimbulkan stress akademik pada anak.

Orang tua terus menuntut anak berprestasi, tetapi minim pujian.

Pola asuh otoriter lebih banyak memberikan dampak negatif bagi perkembangan anak mengingat pola asuh tersebut dominan menerapkan sikap keras dan perintah (Taib et al., 2020).

2. Gaya Pengasuhan Otoritatif (Authoritative Parenting)

Menurut Baumrind, gaya pengasuhan otoritatif adalah gaya pengasuhan emas (gold standard perenting style).

Gaya pengasuhan ini ditandai dengan orang tua yang memberikan aturan dan batasan kepada anak-anak mereka, namun mereka juga memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk mengambil keputusan.

Sebagai orang tua, Anda menciptakan hubungan yang positif dengan anak-anak Anda serta menjelaskan alasan dibalik aturan yang dibuat.

Anda menetapkan batasan, menegakkan aturan, dan memberikan konsekuensi, tetapi juga mempertimbangkan perasaan anak Anda.

Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoritatif cenderung bahagia, percaya diri dan sukses.

Hal ini bisa terjadi karena orang tua dengan gaya pengasuhan otoritatif lebih mengedepankan dorongan (encouragement) daripada hukuman atau ancaman kepada anak-anak.

Anak-anak akan merasa diapresiasi dan dihargai.

3. Gaya Pengasuhan Permisif (Permissive Parenting)

Apakah Anda sebagai orang tua seringkali membuat aturan, tetapi jarang menegakkannya?

Anda tidak terlalu sering memberikan konsekuensi dan cenderung membiarkan anak-anak Anda melakukan apapun yang mereka inginkan, Anda berpikir anak-anak Anda akan lebih baik tanpa campur tangan Anda?

Maka bisa jadi, Anda termasuk orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan permisif.

Orang tua permisif bersifat toleran dan hanya turun tangan ketika masalah serius datang.

Menurut Baumrind orang tua permisif seringkali bertindak lebih seperti teman daripada sosok orang tua yang berwibawa.

Seringkali kita jumpai perkataan “namanya juga anak-anak, tidak apa-apa” dari orang tua yang permisif ketika anaknya melakukan kesalahan.

Hal ini menimbulkan sejumlah pengaruh pada anak, yaitu:

  • Kurangnya tanggung jawab dan kemandirian
  • Anak tidak mampu melakukan pengambilan keputusan
  • Tidak mampu menghargai otoritas dan aturan
  • Hambatan dalam akademis
  • Berkenderungan mengalami kecemasan dan depresi di masa yang akan datang

4. Gaya Pengasuhan Tidak Peduli (Uninvolved Parenting)

Orang tua dengan gaya pengasuhan tidak peduli berharap bahwa anaknya akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya.

Mereka mungkin tidak merasa memiliki kewajiban untuk menanyakan aktivitas anak-anaknya di sekolah.

Mereka bahkan tidak tahu anaknya ada dimana dan pergi dengan siapa. Tidak menghabiskan banyak waktu dengan anak-anak.

Intinya, orang tua mengabaikan anak-anaknya dan hanya memberi sedikit perhatian, pengasuhan, dan bimbingan kepada mereka.

Anak-anak yang tumbuh dengan pola asuh ini cenderung menjadi sosok yang pemberontak dan rentan melakukan kejahatan, tidak mampu menjalin ikatan dengan orang lain karena rendahnya empati dan kecerdasan emosional, serta prestasi akademis seringkali menurun.

Sesibuk apapun orang tua, penting bagi Anda untuk terlibat dengan anak.

Kehadiran dan kepedulian orang tua itu penting.

Kesimpulan

Gaya pengasuhan yang Anda terapkan pada anak bisa jadi merupakan pola asuh yang diturunkan dari orang tua Anda.

Jika orang tua Anda membesarkan Anda dengan pola asuh otoriter, besar kemungkinan pola asuh ini pula yang akan Anda terapkan kepada anak Anda.

Jika Anda menyadari pola asuh yang Anda terapkan memberikan efek negatif kepada anak Anda, tidak ada salahnya memutus pola berulang ini.

Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan keterampilan dalam mengasuh anak, antara lain:

  1. Belajar lebih banyak mengenai pola asuh, bisa dengan membaca buku parenting, membuka situs atau web mengenai orang tua dan anak, atau membaca artikel parenting.
  2. Mengikuti kelas parenting.
  3. Pertimbangkan untuk terapi dengan professional, berbicara dengan ahli kesehatan mental untuk membantu Anda membangun hubungan yang sehat dengan anak Anda.

Setelah mengetahui macam-macam gaya pengasuhan, sudahkah Anda menerapkan pola asuh yang tepat untuk anak-anak Anda atau mungkin pola asuh yang Anda terapkan selama ini keliru?

*) Ibu Rumah Tangga dan Alumni Universitas Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.