Akurat Logo

Bagaimana Perbedaan Asesmen Saat Ibu dan Bapak Bersekolah Dulu dengan Asesmen pada Kurikulum Merdeka, Coba Simak Ulasan Ini

Sultan Tanjung | 12 Januari 2024, 12:00 WIB
Bagaimana Perbedaan Asesmen Saat Ibu dan Bapak Bersekolah Dulu dengan Asesmen pada Kurikulum Merdeka, Coba Simak Ulasan Ini

AKURAT.CO Perubahan dalam dunia pendidikan tidak hanya tercermin dalam materi pengajaran tetapi juga dalam metode asesmen.

Artikel ini akan mengulas bagaimana perbedaan pendekatan asesmen ketika ibu dan bapak bersekolah dulu dengan paradigma baru yang diimplementasikan pada Kurikulum Merdeka.

Transformasi ini mencerminkan evolusi pendidikan untuk memenuhi tuntutan zaman yang terus berubah.

Baca Juga: Bagaimana Cara Kita Memetakan Kebutuhan Peserta Didik? Simak Ulasan Berikut!

  1. Dari Pendidikan Tradisional ke Kurikulum Merdeka: Saat ibu dan bapak bersekolah dulu, sistem pendidikan cenderung bersifat lebih tradisional dengan penekanan pada hafalan dan penguasaan informasi. Namun, dengan penerapan Kurikulum Merdeka, pendekatan pembelajaran lebih terfokus pada pengembangan keterampilan abad ke-21, kreativitas, dan pemecahan masalah.

  2. Asesmen Tradisional Berbasis Tes vs. Portofolio: Perbedaan mencolok terletak pada jenis asesmen yang digunakan. Pada masa lalu, tes dan ujian tertulis dominan sebagai bentuk evaluasi. Namun, dalam Kurikulum Merdeka, pendekatan portofolio mendapatkan porsi yang lebih besar, memungkinkan penilaian yang holistik terhadap kemampuan dan proyek yang telah dikerjakan oleh siswa.

  3. Pentingnya Pengukuran Sikap dan Keterampilan Lunak: Kurikulum Merdeka menyoroti pentingnya mengukur sikap dan keterampilan lunak, seperti kerjasama, komunikasi, dan kreativitas. Sementara asesmen di masa lalu mungkin lebih terfokus pada pengetahuan akademis, pendekatan baru ini mencerminkan kebutuhan dunia kerja yang menuntut keterampilan lintas disiplin.

  4. Penggunaan Teknologi dalam Asesmen: Masa kini menandai perkembangan teknologi yang signifikan. Kurikulum Merdeka mengintegrasikan teknologi sebagai alat asesmen yang membantu memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kemajuan siswa. Penggunaan platform online dan alat digital menjadi bagian tak terpisahkan dari evaluasi.

  5. Pemetaan Proses Pembelajaran: Asesmen pada Kurikulum Merdeka lebih fokus pada pemetaan proses pembelajaran daripada sekadar hasil akhir. Guru dan siswa bersama-sama melibatkan diri dalam refleksi, memahami bagaimana belajar terjadi, dan menyesuaikan pendekatan jika diperlukan.

  6. Partisipasi Aktif Siswa dalam Asesmen: Pendekatan baru mendorong partisipasi aktif siswa dalam proses asesmen. Mereka didorong untuk merancang proyek, menilai karya teman sekelas, dan berkontribusi pada penilaian diri mereka sendiri. Ini menciptakan rasa tanggung jawab dan penguatan diri.

  7. Inklusivitas dan Diferensiasi: Kurikulum Merdeka menekankan inklusivitas dan diferensiasi dalam asesmen. Guru diharapkan untuk memahami kebutuhan unik setiap siswa dan menyusun penilaian yang mendukung keragaman dalam gaya belajar dan tingkat pemahaman.

  8. Penekanan pada Kemampuan Pemecahan Masalah: Asesmen di masa kini memberi penekanan lebih pada kemampuan pemecahan masalah. Siswa diajak untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam konteks dunia nyata dan menghadapi tantangan yang menuntut pemikiran kritis.

  9. Melibatkan Orang Tua sebagai Mitra: Perubahan paradigma dalam asesmen juga mencakup melibatkan orang tua sebagai mitra dalam pemantauan dan pengembangan anak. Keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran dan asesmen menjadi lebih terbuka dan berkelanjutan.

  10. Mengukur Proses dan Hasil: Selain menilai hasil akhir, Kurikulum Merdeka menempatkan nilai tinggi pada penilaian proses pembelajaran. Guru dapat menilai bagaimana siswa sampai pada solusi atau jawaban, menggambarkan pemahaman mendalam.

Perbedaan asesmen saat ibu dan bapak bersekolah dulu dengan Kurikulum Merdeka mencerminkan evolusi

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.