Cara Mengajarkan Tata Krama Pada Anak, Lakukan Konsisten

AKURAT.CO Mengasuh anak dengan perilaku sopan adalah salah satu prestasi utama bagi orang tua. Bagaimana mereka mengucapkan kata "terima kasih" dan "maaf" adalah pondasi penting dalam membentuk etika baik pada anak.
Pola perilaku anak sering kali dipengaruhi secara besar oleh pengajaran orang tua, yang merupakan figur pertama mereka.
Pemberian pelajaran tentang etika sering kali bisa menjadi tugas yang menantang dan memerlukan kebijaksanaan. Anak-anak, terutama yang masih sangat muda, cenderung sangat cepat menyerap ajaran yang diberikan kepada mereka.
Baca Juga: Bangun Personal Branding Dengan Tata Krama Berinternet
Oleh karena itu, konsistensi dalam pengajaran dan menghindari kesalahan kecil yang dapat dikenang oleh anak menjadi sangat penting. Berikut beberapa metode yang dapat diterapkan oleh orang tua.
1. Ajari pentingnya empati, kasih sayang dan kepedulian
Mengembangkan rasa empati, kasih sayang dan kepedulian juga perlu diperhatikan ketika Anda mengajarkan anak mengenai tata krama. Giffin memberikan saran untuk membantu anak memahami empati dengan mendorong mereka untuk melihat perselisihan dari sudut pandang orang lain. Contohnya, dalam situasi di mana mereka berdebat dengan saudara, ajak mereka untuk menjelaskan sudut pandang masing-masing.
Giffin menyarankan, "Berikan anak dorongan untuk mendengarkan pandangan orang lain dengan mengajak mereka mengulang kembali perasaan saudara mereka. Dorong mereka untuk mencapai kompromi, sehingga anak-anak bisa belajar bagaimana merespons secara positif, bahkan ketika keinginan mereka tidak terpenuhi."
Selain itu, Anda juga bisa membentuk rasa kasih sayang dengan berbicara kepada anak tentang isu-isu global yang dapat menyebabkan orang menderita, seperti rasisme, kemiskinan, dan lainnya," tambah Giffin.
Melatih sifat empati, kasih sayang, dan kepedulian pada anak juga dapat membantu mereka menjadi lebih tenang saat menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Mengajar tata krama dan etika pada anak sangat penting dan sebaiknya dimulai sejak dini. Walaupun mungkin terasa sulit, dengan pesan yang jelas dan konsistensi, anak-anak dapat mulai memahaminya.
2. Ajari dia berkata "maaf, tolong dan terima kasih"
Kata "maaf, tolong, dan terima kasih" merupakan ungkapan dasar yang wajib diajarkan pada anak untuk membuatnya jadi sosok yang sopan.
Vanbuskirk menyebutkan, ungkapan-ungkapan tersebut merupakan hal dasar yang bisa dilakukan kepada anak saat masih balita.
Ajarkan anak untuk berkata "tolong" saat ia meminta bantuan, "terima kasih" saat orang lain membantunya atau memberi sesuatu dan "maaf" saat ia berbuat kesalahan. Meskipun terlihat sederhana tetapi itu akan berpengaruh pada pembentukan karakter anak yang sopan.
3. Bantu anak mempelajari kontak mata saat berbicara
Jika anakmu sudah lebih besar, ajari juga dia untuk melakukan kontak mata ketika berbicara.
Dikutip dari wikiHow, Jade Giffin, psikoterapis, mengungkapkan, menatap mata seseorang adalah bagian penting dari percakapan yang bermakna dan ini bisa sulit bagi siapa pun, termasuk orang dewasa atau anak-anak. Jadi, kamu mungkin akan butuh waktu ekstra untuk mengajarinya.
"Untuk berlatih, minta anakmu menatap mata anggota keluarga untuk menentukan warna matanya. Ini dapat membuatnya lebih terasa seperti permainan dan dapat membantu dia lebih nyaman dalam percakapan," sarannya.
Jika anakmu masih merasa kesulitan untuk mempraktikannya saat berbicara dengan orang lain, jangan pernah memaksanya. Kamu bisa menyarankannya untuk melakukan kontak sesekali saat berbicara dan sebaiknya arahkan juga agar anak gak melihat bawah saat tengah mengobrol dengan orang lain.
Baca Juga: Mau Dunia Nyata atau Media Sosial, Tata Krama Berlaku Selamanya!
4. Beri anak pujian atas perilaku baiknya
Seorang dokter anak, Arthur Lavin, dikutip Verywell Family, mengatakan, semakin banyak perhatian positif yang anak dapatkan karena menggunakan perilakunya, semakin besar pula kemungkinan perilaku tersebut bisa mendarah daging. Jadi, pujilah dia saat melakukan hal yang kamu inginkan.
Ungkapan pujian yang dipilih bisa disesuaikan dengan karakter anakmu. Sebab, ada beberapa anak yang mungkin merasa malu ketika kamu memujinya di depan umum atau ada juga yang sangat senang mendengar kata-kata pujian yang diucapkan dengan penuh semangat oleh orang tuanya.
Sebenarnya, pujian ini bisa sesederhana mengucapkan "terima kasih" yang diucapkan dengan tulus.
5. Ajari anak supaya gak menyela percakapan
Selain melakukan kontak mata, ajari juga dia untuk lebih menghargai lawan bicaranya dengan gak menyela percakapan atau pembicaraan orang lain. Giffin menjelaskan, bantu anakmu untuk memahami, bahwa ketika berbicara dengan orang lain itu harus bergiliran. Ajari ia tentang bagaimana caranya memberikan perhatian kepada orang yang sedang berbicara.
Setiap kali anakmu menyela pembicaraan, minta ia untuk menunggu hingga kamu selesai berbicara. Terapkan hal ini secara konsisten kapan pun dia menyela, setelah itu berikan ia pujian karena telah berhasil mempraktikkan tata krama tersebut.
6. Jadilah role model anakmu
Jadilah role model ideal atau panutan untuk mereka. Vanbuskirk menjelaskan, cara terbaik untuk mengelola, membentuk, dan mengajari keterampilan perilaku anak adalah dengan mempraktikannya oleh dirimu sendiri.
Alih-alih mengajarkannya dengan ungkapan dan perintah, akan lebih baik jika kamu memberikan contoh secara langsung dengan tindakan sehari-hari, baik di rumah maupun luar rumah. Misalnya, saat anakmu melihat kamu berbicara dengan sopan kepada orang lain, makan dengan rapi, mengikuti aturan, dan melakukan tata krama lain, dia akan cenderung mengikuti perilakumu.
Selain itu, ingatlah bahwa tata krama juga berlaku saat kamu marah dan kesal. Ini mungkin akan sedikit sulit tapi berhati-hatilah saat kamu sedang menangani situasi stres, frustasi atau marah. Hindari untuk meninggikan suara, berbicara kasar, atau main tangan. Dari pada langsung meluapkannya, kamu bisa menenangkan dirimu ketika tengah marah. (Ridho Hatmanto)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









