Akurat Logo

Jokowi Memainkan Politik Bhinneka Tunggal Ika di Asian Games

Riandar Fata Hudaya | 19 Agustus 2018, 07:00 WIB
Jokowi Memainkan Politik Bhinneka Tunggal Ika di Asian Games

AKURAT.CO, Dalam kacamata orang Indonesia, atau jurnalis Indonesia, Asian Games Jakarta-Palembang 2018 disongsong dengan semacam kecemasan. Mulai dari persiapan yang tak matang, kali hitam di dekat Wisma Atlet Kemayoran, juga buruknya transportasi publik di Palembang, adalah alasan-alasan yang cukup membenarkan “keraguan yang telah terbiasa” terhadap pemerintah sebagai penyelenggara.

Namun, semua seakan terhapus melalui seremoni pembukaan yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (18/8). Media sosial “meledakkan” Asian Games dengan puja-puji dan warga negara menyadari bahwa ternyata negara mereka bisa menggelar upacara pembukaan nan megah dan spektakuler.

Di luar semua itu, sebagaimana pengalaman di sejumlah seremoni pembukaan event olahraga raksasa, politik seringkali menunjukkan perselisihan tajamnya. Ambil contoh ketika Wakil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence, yang menolak berjabat tangan dengan perwakilan Korea Utara meski duduk berdekatan dalam pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, Korea Selatan, 9 Februari silam.

Di Indonesia, dengan posisi jadwal event setahun menuju Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden 2019, maka politik, terutama politik domestik, menjadi semacam sesuatu yang “diawas-awaskan” kepada pemerintah berkuasa untuk tak menggunakan seremoni sebagai ajang kampanye.

Meski demikian, sulit menghindari persepsi, atau selalu saja ada yang berpersepsi, bahwa upacara pembukaan di Stadion GBK akan “disabotase” oleh pemerintah berkuasa untuk meraih simpati demi elektabilitas.

Di GBK, Asian Games 2018 dibuka dengan video rekayasa yang menggambarkan perjalanan Presiden Joko Widodo dari Istana Negara menuju Stadion GBK. Di tengah jalan, Jokowi – sapaan Joko Widodo – memutuskan mengendarai sepeda motor untuk menghindari kemacetan dengan melalui “jalan tikus” dan ditandai dengan “citra” positif dengan membantu sejumlah siswa Sekolah Dasar menyeberang jalan.

Presiden Joko Widodo mengendarai sepeda motor memasuki Stadion Gelora Bung Karno saat Pembukaan Asian Games 2018. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo.

Video itu diakhiri dengan Jokowi yang riil memasuki GBK dengan mengenakan sepeda motor. Dengan jas hitam dan helm hitam, Presiden Indonesia ketujuh itu telah memberikan semacam “gaya” untuk menunjukkan citranya kepada dunia, juga kepada para lawan politiknya.

Dia (Jokowi) sangat lucu, saya senang melihatnya. Dia ikut berjoget bersama ketika lagu diputar. Dia terlihat berbeda dengan pemimpin lain yang pernah saya lihat,” ucap salah seorang jurnalis India yang bekerja untuk media yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, Gulf News, ND Prashant, tentang aksi Jokowi di pembukaan Asian Games 2018.

Jokowi adalah presiden Indonesia keempat yang mendapatkan kesempatan membuka event multicabang setelah Soekarno, Soeharto, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam sejarah negara kepulauan ini, Asian Games 2018 adalah event multicabang ketujuh yang digelar di Indonesia setelah Asian Games 1962,  Ganefo 1963, dan empat kali SEA Games (1979, 1987, 1997, 2011). Dan untuk dua yang pertama, dibuka oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno, dan ditandai dengan kentalnya perseteruan Perang Dingin.

Perang Dingin mungkin telah berakhir, namun Jokowi, sebagai representasi penguasa saat ini, menghidupi empat tahun kepemimpinannya dengan dukungan dan penentangan bahkan ujaran kebencian terhadapnya. Istilah #2019gantipresiden adalah salah satu yang populer sehubungan dengan pencalonannya untuk Pemilihan Presiden tahun depan.

Dalam pertarungan politik tersebut, pra-Asian Games adalah momen paling krusial. Selain dukungan setengah hati yang ditunjukkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dikuasai oleh Anies Baswedan sebagai lawan politik Jokowi, Asian Games seperti mencari “ikatan” kesatuan bahwa untuk event ini, Indonesia harus mewakili satu kesatuan Indonesia tanpa perkubuan politik para elitenya.

Namun, pertunjukan telah melunturkan keterpecahan itu. Pembukaan Asian Games dihelat dengan upaya yang spektakuler dengan menawarkan apa yang tidak dimiliki oleh negara lain, atau, yang sejak dahulu kala merupakan pesona Indonesia kepada dunia.

Bukit buatan raksasa yang terdiri dari air terjun, sawah bertingkat, hutan dan ladang, diakhiri dengan penyalaan kalderon oleh legenda bulutangkis Indonesia peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992, Susy Susanti, yang membuat penonton menyadari bahwa kalderon itu ditempatkan sebagai kawah gunung berapi, membayar semua itu.


Stadion GBK bermandikan warna-warni atraksi kembang api. AKURAT.CO/Sopian.

Dalam narasi “dagangan kampanyenya”, Jokowi boleh dikatakan “menang banyak” karena Asian Games 2018 ditandai dengan slogan harmoni dalam keberagaman Asia. Dalam konteks Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, keterpecahan akibat politik identitas, politisasi agama, radikalisme dan terorisme, mendapatkan penentangan yang tepat pada pembukaan Asian Games 2018.

Dalam Asian Games 2018, kita bangsa-bangsa se-Asia ingin menunjukkan bahwa kita bersaudara, kita bersatu, kita ingin meraih prestasi,” ucap Jokowi saat membuka Asian Games 2018.

Pertunjukan dimulai dengan tari tradisional Aceh, Saman, yang diperagakan oleh 1.500 penari. Tarian ini dimulai dengan ucapan “assalammualaikum” yang menggambarkan Aceh sebagai provinsi dengan pengaruh Islam yang kuat sekaligus menggambarkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Selepas itu ada salah satu penyanyi yang sedang “naik daun” di dunia hiburan, Via Vallen. Kombinasi antara Islam dan dunia pop membuat menu pembuka pertunjukan menjadi cair dan jauh dari kesan kekakuan.

Selanjutnya, dalam empat tema besar yang sekali lagi menunjukkan “akar rumput” Indonesia sebagai negara dengan banyak agama, suku, dan bahasa, pertunjukan memberikan musik dan tarian tradisional dari berbagai wilayah di Indonesia.

Ada lagu Tak Tong Tong dari Minangkabau, Manuk Dadali dari Sunda, Si Patokaan dari Sulawesi, Paris Berantai dari Kalimantan, dan penyanyi asal Papua, Edo Kondologit, yang menyanyikan lagu dari daerah asalnya, Apuse.

“Kami ingin menunjukkan bahwa meski Indonesia adalah negeri dengan umat Islam terbesar di dunia, namun kehidupan masyarakatnya damai dan harmonis,” kata Ketua Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC), Erick Thohir. “Kami menyebutnya Bhinneka Tunggal Ika, Unity in Diversity.”

Para penari Saman pada Pembukaan Asian Games 2018. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo.

Lebih dari itu, semangat mencintai perbedaan ini juga meneguhkan kembali apa yang sudah dicanangkan oleh pendiri bangsa yang warisannya sempat disinggung oleh Presiden Komite Olimpiade Asia (OCA), Ahmad Al Fahad.

Fahad menyebut lagi bahwa saat ini ia berdiri di atas venue yang dibangun pada 1962 untuk Asian Games pertama di Indonesia. “Ini (Stadion GBK) adalah warisan besar,” kata Fahad.

Lebih dari semua itu, sukses menggelar pertunjukan pembukaan Asian Games ini sudah seharusnya memberi optimisme dan visi untuk masa depan Indonesia. Terutama adalah mengurangi kesenjangan ekonomi karena bagi mereka yang datang secara langsung ke GBK untuk menyaksikan pembukan Asian Games 2018, akan bisa merasakan bahwa para penonton berasal dari kelas tertentu yang berani membeli tiket dengan harga termurah Rp 750 ribu.

Dengan pengalaman dua kali menyelenggarakan Asian Games, maka lambat-laun Olimpiade adalah hal yang mungkin untuk dibawa ke Indonesia. Jika kelak Olimpiade digelar di Indonesia, maka sebaiknya disertai dengan menipisnya kesenjangan ekonomi sehingga tiket menonton pertandingan olahraga bisa dijangkau oleh masyarakat luas yang hidup di negara pencinta olahraga ini.[]

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.