Akurat

Perang Iran-Israel-Amerika Semakin Panas, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

Titania Isnaenin | 22 Juni 2025, 15:49 WIB
Perang Iran-Israel-Amerika Semakin Panas, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

 

AKURAT.CO Konflik Iran-Israel yang diperparah dengan serangan AS terhadap situs nuklir Iran pada Juni 2025, telah memicu gejolak ekonomi global.

Analis dari Prince Future Group, Phil Flynn, menduga perang ini akan berlarut seperti perang Ukraina-Rusia.

Dampak perang Iran-Israel-Amerika yang paling nyata dalam jangka pendek adalah gangguan pada sektor ekonomi, terutama distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia.

Dampak Perang Iran-Israel-Amerika 

Riset dari OCE Bank Mandiri memproyeksikan tiga skenario dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dunia dan inflasi akibat konflik di Timur Tengah:

1. Skenario Perang Terbatas (Confined War)

Konflik hanya sebatas invasi darat Israel ke Gaza dengan konflik regional yang lebih luas, dan produksi minyak mentah Iran menurun.

Skenario ini diperkirakan mendorong kenaikan harga minyak sebesar 4 Dolar AS per barel, penurunan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 0,1 persen, dan kenaikan inflasi sebesar 0,1 persen.

2. Skenario Perang Proksi (Proxy War)

Mencakup perang multidimensi di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, dan Suriah, serta ketidakstabilan yang meluas di kawasan Timur Tengah.

Skenario ini diproyeksikan mendorong kenaikan harga minyak sebesar 8 Dolar AS per barel, penurunan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 0,3 persen, dan kenaikan inflasi sebesar 0,2 persen.

3. Skenario Perang Langsung (Direct War)

Skenario terburuk adalah perang langsung antara Israel dan Iran, disertai keterlibatan seluruh negara Arab.

Situasi ini dapat memicu lonjakan harga minyak hingga 64 Dolar AS per barel, penurunan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 1,0 persen, dan kenaikan inflasi sebesar 1,2 persen.

Kondisi saat ini telah memasuki skenario perang langsung, meskipun tanpa keterlibatan seluruh negara Arab.

Profesor Dr. Syafruddin Karimi dari Universitas Andalas memperingatkan bahwa keterlibatan AS mengubah konflik menjadi pertarungan terbuka antara kekuatan global, menggoyahkan fondasi ekonomi dan geopolitik negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dampak pada Ekonomi Indonesia

Konflik yang memanas ini membawa beberapa dampak serius bagi ekonomi Indonesia:

1. Lonjakan Harga Minyak Dunia

Sebagai negara pengimpor minyak bumi, kenaikan harga minyak akan meningkatkan beban subsidi energi pemerintah dan menekan anggaran negara.

Pada hari pertama pecahnya perang, harga minyak mentah Brent naik 9,07 persen menjadi 75,65 USD per barel dan WTI naik 9,45 persen menjadi 74,47 USD per barel.

Analis memperingatkan potensi kenaikan 15-20 persen pada 2025, yang dapat menyebabkan harga minyak menembus 100 USD per barel.

Lonjakan harga minyak juga akan mendorong inflasi di dalam negeri, terutama pada sektor transportasi dan industri.

2. Guncangan Pasar Keuangan Global

Investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS dalam situasi konflik.

Hal ini dapat menyebabkan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dan meningkatkan biaya pinjaman luar negeri bagi Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 0,53 persen ke level 7.166,06 pada 16 Juni 2025, dan terus menurun hingga 0,68 persen ke posisi 7.117,59.

Pelemahan Rupiah juga akan meningkatkan beban utang luar negeri Indonesia dan menekan kemampuan impor.

3. Tekanan terhadap Cadangan Devisa

Cadangan devisa Indonesia terus mendapat tekanan akibat pelemahan nilai tukar Rupiah.

Pada Maret 2024, cadangan devisa turun 3,6 miliar USD menjadi 140,4 miliar USD karena tekanan pada Rupiah yang dipicu oleh faktor eksternal global.

Hal ini memaksa Bank Indonesia (BI) untuk menggunakan intervensi valas guna menstabilkan nilai tukar Rupiah.

4. Gangguan Rantai Pasok Global

Konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu rantai pasok global, terutama untuk komoditas energi dan bahan baku industri yang vital.

Selat Hormuz, sebagai satu-satunya rute menuju samudra terbuka bagi lebih dari seperenam produksi minyak global dan sepertiga dari gas alam cair (LNG) dunia, sangat rentan terhadap gangguan.

Gangguan ini dapat memicu lonjakan harga minyak dunia, mengganggu pasokan energi bagi Indonesia, dan menyebabkan kelangkaan bahan baku serta peningkatan biaya produksi bagi banyak industri di Indonesia yang bergantung pada impor.

Itulah beberapa dampak perang Iran-Israel-Amerika bagi Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.